Sampah Antariksa Empat Kali Jatuh di Indonesia

Sampah Antariksa Empat Kali Jatuh di Indonesia
- Kepolisian Resor (Polres) Sumenep, Madura, Jawa Timur, menyerahkan benda-benda misterius yang jatuh dari langit, Senin (26/9) pagi, hampir dipastikan sebagai sampah antariksa dan diduga keras bagian dari alat pendingin roket pendorong Falcon-9 (Foto: Suara Pembaruan/ Aries Sudiono)
Ari Supriyanti Rikin / IDS Selasa, 11 Oktober 2016 | 12:22 WIB

Jakarta - Jatuhnya sampah antariksa di Sumenep Jawa Timur September 2016 lalu menjadi peristiwa keempat jatuhnya sampah antariksa di Indonesia.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mencatat dan mengidentifikasi empat kali peristiwa jatuhnya sampah antariksa. Pertama, pada tahun 1981 saat bekas roket Rusia jatuh di Gorontalo. Kedua, pada tahun 1988 saat bekas roket Rusia jatuh di Lampung. Ketiga, pada tahun 2003 saat bekas roket Republik Rakyat Tiongkok jatuh di Bengkulu. Terakhir, September 2016 lalu saat bekas roket Amerika Serikat jatuh di Sumenep, Madura.

Sampah antariksa adalah benda buatan yang mengitari bumi selain satelit yang berfungsi. Sampah ini bisa berupa bekas roket (rocket bodies), serpihan (debris) dan lain-lain. Jika dirata-ratakan, satu sampah antariksa jatuh setiap hari sejak awal peluncuran satelit tahun 1957.

Kepala Pusat Sains Antariksa Lapan, Clara Yono Yatini, mengatakan dalam perjanjian internasional, negara pemilik atau penyelenggara bertanggungjawab atas sampah antariksanya.

"Umumnya sampah antariksa yang jatuh sudah tidak utuh. Kandungannya berasal dari bahan pembuatnya. Kandungan radioaktif mungkin saja bila benda antariksanya menggunakan bahan bakar nuklir," katanya di Jakarta, Senin (10/9).

Sampah antariksa yang jatuh di Sumenep merupakan bekas roket Falcon 9 R/B (nomor katalog 41730). Kepingan tersebut bagian dari tingkat atas roket yang digunakan untuk meluncurkan satelit komunikasi JCSAT 16 milik Jepang pada 14 Agustus 2016.
Roket milik Space Exploration Technologies Corporation (SpaceX) ini diluncurkan dari Cape Canaveral Air Force Station, Florida. SpaceX merupakan perusahaan transportasi luar angkasa Amerika Serikat.

Kemudian, tim investigasi Lapan dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) telah melakukan memeriksa benda tersebut. Hasilnya tidak ada paparan radiasi nuklir. Puing ini pun disebut-sebut sebagai sampah antariksa terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia.

Selanjutnya, Lapan pun menyerahkan benda jatuh tersebut ke negara atau perusahaan pemilik pecahan roket tersebut.
Clara mengungkapkan, saat ini sampah antariksa di angkasa yang berukuran lebih dari 10 cm berjumlah lebih dari 20.000. Hanya sepertiganya yang berukuran cukup besar sehingga berpotensi jatuh ke bumi.

"Jatuh dimanapun bila jatuh di wilayah Indonesia maka Lapan wajib mengidentifikasi. Apabila sampah menimbulkan kerugian, maka negara peluncur harus bertanggung jawab," ucapnya.

Indonesia pun, sudah memiliki satelit yang menjadi sampah yakni generasi awal satelit Palapa dan satelit Lapan A1. Lama kelamaan satelit ini juga akan jatuh ke bumi. Upaya yang dilakukan sampai saat ini masih berupa pencegahan agar tidak sampai menimbulkan dampak atau kerugian yang cukup besar bila nanti jatuh ke bumi, dengan melakukan pemantauan terus menerus.

Sejumlah negara pemilik juga sudah melakukan beberapa langkah antara lain mengambil atau menggunakan ulang untuk mengurangi sampah antariksanya.

Senada dengan itu, Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin, mengungkapkan, sampah antariksa bekas roket biasanya hanya logam atau sisa komposit, jadi tidak berbahaya.

Bekas satelit tergantung objeknya, ada yang beracun (tabung bahan bakar Hidrazin), ada yang mengandung radiasi (muatan nuklir, tetapi jarang yang menggunakan), atau sama sekali tidak berbahaya (logam biasa).

Katalog sampah antariksa yang besarnya lebih dari kepalan tangan, jumlahnya lebih dari 17.800 keping.

"Kalau ada benda jatuh, warga jangan memegangnya. Segera laporkan ke Lapan melalui aparat setempat," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan