Air Sungai Jakarta Tak Layak Konsumsi

Air Sungai Jakarta Tak Layak Konsumsi
Pekerja membersihkan sampah yang ada di Kali Ciliwung, Manggarai, Jakarta Selatan, Kamis 12 Oktober 2017. ( Foto: BeritaSatu Photo / Joanito De Saojoao )
Lenny Tristia Tambun / BW Sabtu, 15 September 2018 | 10:29 WIB

Jakarta- Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI, Ali Maulana Hakim mengatakan, bila dilihat secara kasat mata kondisi sungai di Jakarta sudah bersih dan indah. Namun, berdasarkan kualitas air, pencemaran sungai sudah sangat mengkhawatirkan.

“Sungai Ciliwung, ketika dilihat bagus, tetapi sudah tercemar sedang. Banyak sungai yang kelihatannya bagus buat berenang, tetapi sebenarnya kurang bagus untuk dikonsumsi. Contoh lagi Kali Mookevart masuk dari Tangerang. Itu sudah tercemar juga pas masuk ke Jakarta,” kata Maulana, Sabtu (15/9).

Pihaknya telah melakukan pengukuran kualitas air sungai di 90 titik yang tersebar di 20 sungai di Jakarta. Sungai-sungai tersebut adalah Sungai Ciliwung, Sungai Cipinang, Sungai Angke, Sungai Mookevart, Sungai Grogol, Sungai Sunter, Sungai Krukut, Sungai Cengkareng, Sungai Buaran, Sungai Petukangan, Sungai Kalibaru, Kanal Banjir Timur, Sungai Cakung, Sungai Cideng, Sungai Mampang, Sungai Tarum Barat, Sungai Kamal, Sungai Pesanggrahan, Sungai Sepak, dan Sungai Blencong.

“Kami secara berkala, sebanyak empat kali dalam setahun melakukan pemantauan kualitas air sungai di 90 titik di 20 sungai. Kita memang punya 13 sungai besar, tetapi kan ada anak-anak sungainya yang belok-belok, seperti di Mookevart. Makanya kita pantau juga anak sungai itu,” terangnya.

Sebanyak 90 titik itu sudah diukur kualitas air sungainya selama empat tahun terakhir. Terlihat memang ada penurunan pencemaran air sungai pada sungai-sungai yang dulunya hanya tercemar ringan dan sedang. Namun, fakta yang mengejutkan, ternyata sungai yang dulunya tercemar ringan dan sedang malah berubah menjadi sungai tercemar berat.

“Dari 90 titik itu, sebanyak 61 persen itu tercemar berat. Bukan 60 persen dari 20 sungai tadi ya, tapi 60 persen dari 90 titik. Karena satu sungai ada yang tiga titik, ada yang dua dan ada yang dipecah kita bikin titik satu, dua,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan tersebut, terlihat kualitas air sungai yang baik pada 2014-2015 telah menghilang pada 2016-2017. Kemudian kualitas air sungai yang tercemar ringan pada 2014 ada 23 persen, lalu menurun 17 persen pada 2015, menghilang pada 2016 dan meningkat jumlahnya sebanyak 12 persen pada 2017.

Kualitas air sungai yang tercemar sedang pada 2014 mencapai 44 persen. Pada 2015 menurun menjadi 39 persen. Namun, meningkat pada 2016 sebanyak 40 persen, dan menurun lagi pada 2017 sebanyak 17 persen.

Kualitas air yang tercemar berat mencapai 32 persen pada 2014. Meningkat pada 2015 sebanyak 43 persen, 2016 mencapai 60 persen dan 2017 sebanyak 61 persen.

Penyebab pencemaran air sungai tersebut dikarenakan adanya tiga jenis air limbah yang langsung dialirkan ke badan sungai tanpa diolah dulu. Limbah-limbah itu adalah grey water (air mandi dan cuci), black water (tinja) dan air limbah industri (kegiatan indutri, penatu, cucian motor atau mobil, sablon).

Sumber air limbah terdapat di permukiman sekitar 72,7 persen yang meliputi limbah grey dan black water. Lalu limbah perkantoran atau komersial sebanyak 17,3 persen dan limbah industri sebanyak 9,9 persen.

Dijelaskan, air limbah rumah tangga dibuang secara langsung maupun tidak langsung ke badan air sungai. Grey water langsung dibuang ke badan air tanpa diolah. Black water diolah ke septic tank yang belum memadai ataupun langsung dibuang ke badan air.



Sumber: BeritaSatu.com