Pengamat: Diperlukan Varietas Padi yang Cocok untuk Tanah Rawa

Pengamat: Diperlukan Varietas Padi yang Cocok untuk Tanah Rawa
Varietas padi di lahan rawa Inpara 2. ( Foto: Kementerian Pertanian )
Ridho Syukro / FER Rabu, 24 Oktober 2018 | 15:32 WIB

Jakarta - Pengamat pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Jangkung Handoyo Mulyo, mengingatkan Kementerian Pertanian (Kemtan) untuk meninjau kembali program tanam padi di lahan rawa. Pasalnya, keberadaan lahan-lahan rawa atau gambut sejatinya juga memiliki peran dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan iklim.

"Keberadaan gambut dan rawa pasti punya peran dalam siklus ekosistem. Jadi tidak boleh semua (rawa dan gambut) bisa dimanfaatkan untuk itu (lahan pertanian). Keseimbangan ekosistem harus dipertimbangkan," kata Jangkung seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Investor Daily, Rabu (24/10).

Menurut Jangkung, untuk merealisasikan hal itu diperlukan perlakuan-perlakuan khusus, mengingat adanya perbedaan jenis dan tingkat kesuburan tanah. Oleh karenanya, diperlukan juga varietas padi yang cocok untuk tanah rawa.

"Pemanfaatannya dimungkinkan, tapi jangan dibayangkan produktivitas dan kesuburannya akan sama dengan lawan sawah irigasi pada umumnya," jelasnya.

Untuk itu, dia menegaskan, Kemtan perlu melakukan riset lebih dalam untuk menentukan lahan rawa mana saja yang dapat dimanfaatkan.

Sementara itu, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mengingatkan Kemtan bahwa memanfaatkan lahan rawa menjadi area pertanaman produktif berpotensi melanggar hukum dan bertentangan dengan regulasi. Salah satunya, Undang-undang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selain itu, ada pula Peraturan Nomor 73 Tahun 2013 Tentang Rawa yang harus diperhatikan.

Koordinator Jatam, Merah Johansyah, mengatakan, program Kemtan tersebut dapat merusak ekosistem jika tidak diawasi. "Kita tahu, rawa itu punya fungsi sendiri. Kalau dialihfungsikan akan ada risikonya. Makanya pemerintah perlu melakukan evaluasi," katanya.

Pengamat lingkungan hidup, Tarsoen Waryono, mengatakan lahan sawah di wilayah perkotaan semakin berkurang luasannya karena pengembangan. "Sehingga, banyak sawah-sawah yang dialih fungsikan menjadi pemukiman, mal, industri dan lainnya," katanya.

Ia mengakui, perubahan rawa air tawar atau lahan gambut menjadi lahan pertanian, berpotensi mengubah ekosistem lingkungan.



Sumber: Investor Daily