Indonesia Siapkan Aksi Atasi Perubahan Iklim di COP 24

Indonesia Siapkan Aksi Atasi Perubahan Iklim di COP 24
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, saat memberikan pernyataan di acara Agreement Adoption COP21 Paris. ( Foto: Istimewa )
Ari Supriyanti Rikin / FER Jumat, 23 November 2018 | 16:34 WIB

Jakarta - Indonesia harus mampu menyampaikan dan menampilkan semua upaya dan inovasi yang telah dibuat dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Dalam konferensi perubahan iklim (COP 24) di Katowice, Polandia para delegasi dari Indonesia harus lantang bersuara menyampaikan hal itu.

Pesan tersebut disampaikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, kepada para delegasi Indonesia yang akan menghadiri COP 24 United Nation Convention on Climate Change di Katowice, Polandia 2-14 Desember 2018.

"Inisiatif kita terhadap perubahan iklim sesungguhnya sudah banyak, sesungguhnya kita tidak ketinggalan," katanya di sela-sela pertemuan delegasi menuju persiapan COP 24 di Auditorium Manggala Wanabakti, Jakarta, Jumat (23/11).

Menurutnya, dalam UUD 1945 pasal 28 dan 33 jelas tertuang bahwa masyarakat memiliki hak asasi untuk mendapatkan lingkungan yang bersih. Selain itu sumber daya alam juga harus dikelola secara berkelanjutan (sustainable).

Dalam hal ini lanjut Siti, Indonesia tidak menyampaikan pepesan kosong terkait upaya mengurangi dampak perubahan iklim di pertemuan dunia itu. Namun memang, gerakan dan praktek baik yang sudah dilakukan masyarakat, swasta dan non governmental organization (NGO) perlu dimasifkan, agar hasilnya bisa lebih optimal lagi.

Ia mencontohkan, dalam menangani dan mencegah kebakaran hutan dan lahan capaiannya cukup baik, semua elemen terlibat. Contoh lainnya masyarakat adat dengan hutan adatnya, perhutanan sosial dan restorasi gambut menjadi upaya nyata Indonesia mengendalikan dampak perubahan iklim.

Siti menambahkan, jika upaya pengendalian dampak perubahan iklim dimasifkan, maka nilai pengurangan emisi karbon pun semakin meningkat. Indonesia punya mandat pengurangan emisi karbon hingga tahun 2030 sebesar 2,8 giga ton CO2. Saat ini baru berhasil mengurangi 890 juta ton CO2.

"Sebetulnya kita sudah menapak maju. Di Kalimantan Timur mampu tahan karbon 30 juta ton. Coba bayangkan jika 2.000 industri yang masuk Proper bisa menahan 300 juta ton. Belum lagi jika seluruh provinsi terlibat," paparnya.

Siti pun menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki prespektif lingkungan hidup dan kehutanan yang tidak dimiliki negara lain.

"Prinsip yang harus dipegang sesuai UUD 1945 kita dan dasar negara kita dalam negosiasi di luar negeri. Kekuatan daya adaptasi kita menjadi pegangan kita. Apalagi arah kita ketahanan iklim dan keadilan," tandasnya.

Dalam acara itu, hadir pula Duta Besar Indonesia untuk Polandia Peter F Gontha dan sejumlah perwakilan delegasi, salah satunya national focal point COP 24 Nur Masripatin yang juga penasehat senior Menteri LHK.

 



Sumber: Suara Pembaruan