Perairan Indonesia Masih Rentan Pencemaran Minyak

Perairan Indonesia Masih Rentan Pencemaran Minyak
Sejumlah petugas menyemprotkan cairan kimia ke beberapa titik tumpahan minyak mentah di perairan Balikpapan, 6 April 2018. ( Foto: AFP / Aridjwana )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Rabu, 28 November 2018 | 13:07 WIB

Jakarta - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengungkapkan, problem tumpahan minyak banyak terjadi di perairan Indonesia. Pemerintah berupaya mencegah seminimal mungkin agar kejadian serupa tidak terulang.

"Tumpahan minyak seperti terjadi di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur pada Maret 2018 lalu, lead-nya di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KKHK), Kemhub mendukung dari sisi regulasi," kata Menhub di sela Simposium Internasional Lingkungan Kelautan dengan tema "Mendukung Kelestarian Laut Indonesia, Menjunjung Martabat Bangsa" di Jakarta, Rabu (28/11).

Diketahui, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2006 telah ditetapkan bahwa Menteri Perhubungan selaku ketua Tim Nasional Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak di Laut Tingkatan Tier 3, bertugas membantu terlaksananya penyelenggaraan penanggulangan keadaan darurat tumpahan minyak di laut tingkatan Tier 3.

Kemhub kata Budi, telah menyiapkan regulasi yang mendukung agar insiden tumpahan minyak di laut tidak kembali terjadi. "Kalau pun terjadi, bagaimana langkah penanggulangannya," kata Menhub.

Selain perangkat hukum, Menhub mengungkapkan, pemerintah juga menyiapkan tim dan satuan kerja. Hal lain adalah memperkuat komunitas yang concern pada lingkungan. "Kita harus aware terhadap kemungkinan-kemungkinan itu (tumpahan minyak)," kata Budi.

Sementara Simposium Internasional Lingkungan Kelautan ini hasil kerja sama Universitas Negeri Balikpapan dan PT Slickbar Indonesia, perusahaan yang memproduksi peralatan penanggulangan tumpahan minyak. Simposium yang mengangkat sutdi kasus tumpahan minyak di Teluk Balikpapan itu dihadiri kalangan akademisi, praktisi, pejabat pemerintah, penggiat lingkungan serta perwakilan dari 15 negara.

Ketua Panitia Simposium, Bayu Satya mengatakan insiden ini membuat pipa bawah laut Pertamina Refinary Unit V patah dan bergeser hingga 120 meter dari posisi awal karena tertarik jangkar kapal MV Judger. Akibatnya, 40.000 barel minyak tumpah ke laut dan menewaskan lima orang. Sementara luas wilayah tercemar mencapai 12.987 hektare (ha). "Simposium penting karena perairan Indonesia masih rentan pencemaran termasuk pencemaran tumpahan minyak," kata Bayu.

Bayu mengatakan, kasus tumpahan minyak banyak terjadi di perairan, terutama pelabuhan laut atau sekitar areal eksplorasi tambang minyak. Apalagi Indonesia merupakan jalur pelayaran yang dikenal dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dimana sering dilalui kapal tanker maupun kapal barang, sehingga kalau terjadi tabrakan kapal, berpotensi menimbulkan tumpahan minyak. "Kondisi itu mengharuskan pemerintah siap mengantisipasi tumpahan minyak secara cepat," kata Bayu.



Sumber: BeritaSatu.com