Sekitar 36,18% Terumbu Karang di Indonesia Berstatus Buruk

Sekitar 36,18% Terumbu Karang di Indonesia Berstatus Buruk
Ilustrasi terumbu karang ( Foto: teleambiente.it )
Ari Supriyanti Rikin / EAS Rabu, 28 November 2018 | 14:00 WIB

Jakarta - Berdasarkan kajian Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 36,18% kondisi terumbu karang Indonesia jelek. Banyak hal yang menyebabkan kondisi terumbu karang memburuk, di antaranya pemboman sebagai faktor antropogenik dan perubahan iklim sebagai faktor alami.

Dari penyebab alami, sejak tahun 2016, kondisi karang Indonesia memburuk karena pemutihan karang (coral bleaching). Di beberapa belahan dunia yang memiliki karang, kondisi serupa juga terjadi.

Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Dirhamsyah mengatakan, penyebab kerusakan karang di Indonesia dari pengeboman dan pemutihan karang sama besarnya.

"Suhu air laut yang menghangat membuat coral bleaching terjadi. Hal ini memperlihatkan perubahan iklim terjadi," katanya di sela-sela Diskusi Publik Penyampaian Status Terumbu Karang Indonesia Tahun 2018 dan Potensi Stok Karang Indonesia di Jakarta, Rabu (28/11).

Sejak 2016, dari data P2O LIPI, Bali dan Lombok selalu mengalami pemutihan karang. Kenaikan suhu air laut semakin memperparah kematian karang, jika arus diam di lokasi perairan hingga hitungan minggu.

"Kalau dilewati suhu hangat hanya 1-2 jam mungkin tidak masalah. Tetapi jika diam di perairan hingga berhari-hari atau berminggu-minggu, ibaratnya karang direbus, pasti akan mati," ucapnya.

Menurutnya, arus yang diam dan cenderung bersuhu hangat itu belum bisa dideskripsikan penyebabnya. Kemungkinan bisa terjadi karena angin atau siklon.

P2O LIPI melakukan penelitian dan pemantauan terumbu karang terhadap 1067 situs di seluruh Indonesia. Kajian tersebut menunjukkan terumbu karang dalam kategori jelek sebanyak 386 situs (36,18%), kategori cukup 366 situs (34,3%), kategori baik 245 situs (22,96 %) dan kategori sangat baik 70 situs (6,56 %).

Luas terumbu karang di Indonesia mencapai 2,5 juta hektare (ha) atau 25.000 kilometer persegi, atau 10% dari luas terumbu karang dunia yang mencapai 284.300 kilometer (km) persegi. Indonesia juga memiliki segitiga terumbu karang (coral triangle).

Sebagai segitiga karang dunia, Indonesia memiliki jenis karang paling tinggi yaitu 569 jenis dari 82 marga dan 15 suku atau sekitar 70% lebih jenis karang dunia. 5 jenis di antaranya merupakan jenis endemik.

Secara umum, kondisi terumbu karang di wilayah selatan dan barat terutama barat Sumatera mempunyai kondisi yang jelek. Hal ini terkait dengan kondisi lingkungan ekstrem, yaitu berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Sementara itu di wilayah lain sejak 2016, nampak terjadi pemutihan karang. Kondisi itu terjadi di perairan Nusa Tenggara Barat, selatan Jawa, Sumatera bagian barat, Bali bagian utara, Lombok, Karimun Jawa dan Selayar.

Ekosistem terumbu karang mempunyai banyak peranan baik dari sisi ekologi maupun sosial ekonomi. Dari sisi ekologi, terumbu karang merupakan habitat bagi banyak biota laut yang merupakan sumber keanakeragaman hayati.

Selain itu terumbu karang merupakan tempat memijah, mencari makan dan berlindung bagi ikan-ikan, sehingga kondisi terumbu yang baik mampu meningkatkan produktivitas perikanan.

Terumbu karang juga merupakan tempat dihasilkannya berbagai macam senyawa penting untuk bahan suplemen maupun obat-obatan terutama dari biota-biota benthos yang berasosiasi. Terumbu karang juga melindungi pantai dari ancaman abrasi.
Dari segi sosial ekonomi, pendapatan masyarakat pesisir dapat meningkat dari hasil perikanan maupun wisata bahari.

Wisata
Peneliti senior Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Suharsono mengungkapkan, kadang sisi wisata pun perlu bertanggung jawab. Misalnya ketika ada orang yang baru bisa diving, lalu tanpda sadar ia menginjak terumbu karang.
Hal ini menurutnya yang harus jadi perhatian bersama. Bahkan ia menemukan, terumbu karang di remote area banyak yang rusak.

"Daerah ini jauh dari pengawasan, maka banyak pelaku pemboman ikan melakukan aksinya di situ," tandasnya.
Suharsono menjelaskan, kerusakan karang karena faktor antropogenik disebabkan oleh bom dan sianida, pencemaran dan eutrofikasi serta sedimentasi. Sedangkan faktor natural disebabkan oleh perubahan iklim dan hama penyakit.

Dari penghitungan yang ia telaah, jika pengeboman skala besar dilakukan 20 kali dalam setahun dengan melepas 100 bom ukuran 2-5 kilogram maka kerusakan terumbu karang mencapai 3,9 hektare per pengeboman.

"Kerusakan terumbu karang akibat pengeboman akan semakin masif. Telur ikan dan larva pun akan mati. Perlu waktu lama sekali untuk pulih dan tidak akan pernah kembali ke struktur semula," tegasnya.

Saat ini, dari sisi ilmiah, transplantasi terumbu karang sudah bisa dilakukan. Diharapkan, dengan metode ini, karang di alam tetap bisa lestari. Sementara itu untuk aktivitas pengeboman, pengawasan dan penegakan hukum perlu ditingkatkan.



Sumber: Suara Pembaruan