Kepala BNPB: Bangun Ketangguhan Masyarakat Hadapi Bencana

Kepala BNPB: Bangun Ketangguhan Masyarakat Hadapi Bencana
Presiden Joko Widodo (tengah) menyalami Letjen TNI Doni Monardo usai melantiknya sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), di Istana Negara, Jakarta, 9 Januari 2019. ( Foto: BeritaSatu Photo / Joanito De Saojoao )
Ari Supriyanti Rikin / FMB Rabu, 9 Januari 2019 | 17:52 WIB

Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Doni Monardo menyebut siap melanjutkan apa yang sudah dilakukan Kepala BNPB sebelumnya Willem Rampangilei dalam penanganan dan mitigasi bencana.

Dalam serah terima jabatan di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (9/1), Willem Rampangilei memberikan dua pesan khusus di akhir sambutannya. Dua pesan itu yakni, pertama seluruh prajurit kemanusiaan di BNPB harus terus meningkatkan kinerja dan mendukung Kepala BNPB yang baru, sehingga BNPB makin handal Kedua, jangan pernah lelah bosan dalam wujudkan bangsa Indonesia yang tangguh terhadap bencana.

Terkait hal itu, Doni mengatakan, Indonesia memiliki beragam potensi bencana. Selain berada di zona cincin api (ring of fire), Indonesia juga memiliki patahan lempeng, yang jika bergerak akan menimbulkan gempa dan bisa berdampak serta memicu tsunami.

"Mengingat pengalaman tahun 2004 lalu saat Tsunami Aceh. Ke depan kita perlu tingkatkan kemampuan kita, kerja sama dengan semua lembaga agar ada tingkat kepedulian yang tinggi terhadap risiko bencana," katanya.

Pelibatan masyarakat hingga lini terbawah di tingkat rukun warga pun harus dilakukan agar memiliki kemampuan penyelamatan saat bencana terjadi. Masyarakat pun tahu potensi ancaman bencana di wilayahnya masing-masing.

Setelah musim hujan yang ada ancaman banjir, longsor, saat musim kemarau ada potensi bencana lain seperti kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. Doni menambahkan, penanganan bencana asap beberapa tahun terakhir yang dilakukan Indonesia diapresiasi banyak negara.

Ia pun mengajak masyarakat mencintai alam, menjaga ekosistem tentu lebih baik karena merupakan hal positif dan modal besar bagi bangsa.

"Dalam hadapi bencana yang mengetahui potensi bencana adalah para pakar. Diharapkan mereka beri gambaran perkiraan potensi ancaman tidap daerah sehingga cara mempersiapkan penanggulangannya dan pencegahan berbeda," ucapnya.

Masyarakat tepi pantai lanjutnya, tentu berbeda dengan masyarakat di sekitar gunung. Pelatihan dan kesiapsiagaan harus bisa diupayakan hingga level rukun warga sehingga masyarakat lebih siap siaga menghadapi bencana.

Dalam kesempatan itu, Willem Rampangilei mengungkapkan, tren kebencanaan meningkat dari tahun ke tahun dan penanganannya pun kompleks.

"Kita berada di wilayah rawan bencana. Ada 150 juta orang tinggal di daerah rawan gempa, 60 juta jiwa di wilayah banjir dan
40 juta di wilayah rawan longsor," kata Willem.

Satu bencana dengan kejadian bencana lainnya tidaklah sama. Namun setiap bencana memberi dampak dan traumatik yang luar biasa.

"Upaya penanggulangan bencana adalah proses, tidak ada kata cukup. Harus dilakukan terus menerus dan berkesinambungan," tandasnya.



Sumber: Suara Pembaruan