Rimbawan IPB Identifikasi Isu Strategis Sektor Kehutanan

Rimbawan IPB Identifikasi Isu Strategis Sektor Kehutanan
Katua Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) 2018-2021, Bambang Supriyanto, dalam sambutan membuka Rakenas di Kota Bogor, Minggu (27/1). ( Foto: Beritasatu Photo / Vento Saudale )
Vento Saudale / FER Minggu, 27 Januari 2019 | 18:10 WIB

Bogor - Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) 2018-2021 (DPP HA-E IPB) melakukan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) kemarin di Bogor. Tiga program kerja HA-E IPB yakni berkarya bagi anggota, bermanfaat untuk masyarakat, juga sebagai mitra pemerintah.

Ketua Umum HA-E IPB, Bambang Supriyanto memaparkan, selain menghasilkan program kerja yang akan menjadi acuan HA-E IPB, Rakernas juga menjadi sarana konsolidasi Angkatan dan Komda, untuk bisa semakin guyub dan akrab, dengan tetap menjunjung tinggi visi dan misi himpunan alumni.

"Kami mendorong setiap bidang dalam organisasinya untuk bisa independen, berinovasi, dan berkreasi dalam menyusun program kerjanya, dengan tujuan mewujudkan visi-misi HA-E, yang dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat dan pemerintah, dalam hal pengembangan sektor kehutanan dan lingkungan hidup," ucap Bambang, dalam keterangannya, Minggu (27/1).

Bambang menambahkan, HA-E IPB memiliki komitmen besar dalam kepedulian terhadap aspek sosial, dan peningkatan kualitas lingkungan hidup. "Manfaat sosial HA-E IPB harus bisa dirasakan oleh alumni dan masyarakat umum, dimana HA-E IPB akan bekerja," paparnya.

Dirinya juga menyadari pentingnya mengidentifikasi isu-isu strategis di sektor kehutanan dan lingkungan hidup, sebagai sasaran program kerja HA-E IPB. Begitu pula simpul-simpul potensi di Angkatan dan Komda yang banyak tersebar di instansi pemerintah maupun swasta, menurutnya perlu dioptimalkan.

"Program kerja HA-E IPB diarahkan untuk mengembangkan potensi HA-E di sektor kehutanan dan non kehutanan, menghubungkan simpul-simpul potensi tersebut, sehingga menjadi kekuatan yang solid, untuk berkontribusi dalam mendukung program kehutanan dan lingkungan hidup di Indonesia," paparnya.

Bambang menilai, HA-E IPB berpotensi besar dalam menyumbangkan tenaga dan pikirannya terkait permasalahan kehutanan nasional. Dengan demikian, dirinya menyarankan agar kajian-kajian dan pelatihan perlu dirancang dengan baik, sehingga betul-betul menjawab isu-isu kehutanan, yang sedang dihadapi masyarakat dan pemerintah.

"Potensi dalam keilmuan, diharapkan dapat menghasilkan kajian-kajian, dan inovasi yang dibutuhkan oleh masyarakat dan pemerintah, baik di sektor kehutanan dan non kehutanan," ungkapnya.

"Sementara potensi dalam hal manajerial, dapat mendorong HA-E IPB untuk mengoptimalkan potensi pengembangan usaha para alumni, yang pada akhirnya akan mendorong organisasi HA-E IPB lebih mandiri dan kokoh," sambungnya.

Dekan Fakultas Kehutanan IPB, Rinekso Soekmadi, mencermati, selama empat tahun pemerintahan Jokowi-JK sudah sangat baik dalam tata kelola kehutanan, mulai dari perizinan hingga Sistem Informasi Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (SIPHPL).

"Tata kelola, bahkan untuk perizinan nol rupiah. Sudah sangat baik dan itu mesti dipertahankan dan ditingkatkan,” katanya.

Hanya saja, yang menjadi catatan himpunan alumni yakni terkait pemanfaatan sumber daya yang belum optimal, konservasi dan industri kehutanan. Tiga aspek ini, lanjut Rinekso, sama pentingnya dan sangat berkaitan satu sama lain.

"Beberapa poin tadi, tengah kami susun dalam rencana program jangka panjang HA-E IPB untuk dijadikan rujukan atau masukan kepada pemerintah,” tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com