Indonesia Butuh Sistem Penanganan Bencana Terpadu yang Lebih Baik

Indonesia Butuh Sistem Penanganan Bencana Terpadu yang Lebih Baik
Rambu peringatan bahaya tsunami. ( Foto: Antara )
Yeremia Sukoyo / FMB Senin, 4 Februari 2019 | 18:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan terkena bencana alam. Bencana alam mulai dari gempa, tsunami, hingga gunung meletus sering terjadi lantaran Indonesia diapit oleh tiga lempeng tektonik.

Sepanjang 2018, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peristiwa gempa bumi sebanyak 11.577 kali. Dari jumlah itu, sebanyak 23 gempa di antaranya berdaya rusak cukup parah, seperti yang menimpa wilayah Palu- Donggala beberapa waktu lalu.

Anggota DPR RI Komisi VII, yang juga Ketua Fraksi Partai Nasdem, Ahmad HM Ali, menilai, ke depannya penanggulangan bencana seharusnya dapat menjadi perhatian lebih dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah.

Menurutnya, penanggulangan bencana gempa di Indonesia saat ini menuntut pengelolaan yang lebih sistemik dan terpadu. Artinya, tidak hanya terkait dengan mitigasi risiko, tetapi juga manajemen bencana (disaster management).

"Jadi ada semacam protokol penanganan bencana gempa yang lebih menyeluruh dan terpadu. Indonesia perlu belajar banyak dari negara-negara lain yang mampu menangani gempa dengan baik," kata Ali, Senin (4/1) di Jakarta.

Dicontohkan, Negara Cile yang pernah dihantam gempa bumi kemudian mengambil langkah strategis dengan melahirkan "Cile Prepares", yakni sebuah kebijakan yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur sistem penanganan bencana gempa yang sangat baik.

Tahun 2015, saat Cile diterjang gempa berkekuatan 8,3 SR yang disusul tsunami, hanya dalam hitungan menit otoritas Cile berhasil mengevakuasi 1 juta warganya. Dengan kekuatan gempa sedahsyat itu, korban meninggal hanya 13 orang.

"Bandingkan dengan gempa di Indonesia yang bermagnitudo lebih rendah, namun korban yang jatuh jauh lebih banyak," ungkap Ali.

Dirinya juga mencontohkan Jepang dan Meksiko yang merupakan dua negara rawan gempa lainnya yang unggul dalam sistem mitigasi gempa dan disaster management. Kedua negara itu berhasil mengembangkan alarm pendeteksi gerakan seismik yang mampu memberi waktu lebih dari satu menit kepada warga untuk menyelamatkan diri serta penerapan konstruksi tahan gempa yang konsekuen.

Dengan sistem penanganan bencana gempa yang terpadu, dirinya yakin korban dan dampak bencana alam dapat diminimalisir. Selain tentunya juga perlu meningkatkan sistem logistik kedaruratan bencana sebagai bagian integral dari sistem penangangan gempa terpadu.

"Pengalaman gempa Palu, banyak korban ditemukan di bawah reruntuhan yang seharusnya dapat diselamatkan. Namun, karena keterbatasan dan keterlambatan alat berat, membuat proses evaskuasi terhambat dan nyawa mereka tidak tertolong," ucapnya.

Persoalan-persoalan tersebut menurutnya berpangkal pada belum adanya keseriusan membangun sistem logistik kedaruratan bencana. Oleh karena itu dirinya mengusulkan Palu menjadi pilot project penerapan sistem penanganan gempa terpadu.

"Bukan hanya karena Palu baru saja mengalami gempa dan tsunami parah, tetapi karena status Sulawesi Tengah sendiri tercatat sebagai wilayah rentan gempa karena keberadaan sesar Palu Koro," tutupnya.



CLOSE