Bahan Bakar Alternatif Biopelet Untungkan Pelaku UKM

Bahan Bakar Alternatif Biopelet Untungkan Pelaku UKM
Pembuatan Biopelet bagi UKM di Puslit Biomaterial LIPI, Kawasan Cibinong Science Center Botanical Garden, Bogor, Rabu (13/3/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Ari Supriyati Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / FER Rabu, 13 Maret 2019 | 17:33 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Pusat Penelitian Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menawarkan biopelet sebagai bahan bakar alternatif kepada usaha kecil menengah (home industry). Bahan bakar dari limbah biomassa ini dinilai lebih efisien dari sisi biaya dan ramah lingkungan.

Usaha Kecil Menengah (UKM) seperti pabrik kerupuk, keripik, tahu, sukro dan makanan lainnya memiliki peran besar dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Umumnya, pada UKM tersebut bahan bakar yang digunakan adalah gas, kayu bakar, tempurung kelapa atau batubara.

Koordinator Riset dan Pengembangan Biopelet Puslit Biomaterial LIPI, Lisman Suryanegara, mengatakan, penggunaan gas kurang efisien karena dari segi biaya produksi relatif tinggi. Sementara itu penggunaan kayu bakar maupun tempurung kelapa menghasilkan asap mengepul pada saat proses produksi. Sedangkan penggunaan batubara selain menghasilkan asap hitam juga meninggalkan limbah bahan berbahaya beracun yang dapat mencemari lingkungan.

"Biopelet ini adalah bioenergi. Biopelet adalah limbah biomassa yang dibentuk pelet. Panas biopelet ini di kompor pembakarannya bisa mencapai 800 derajat celsius," katanya di sela-sela Workshop Pembuatan Biopelet dan Kompornya bagi UKM di Puslit Biomaterial LIPI, Kawasan Cibinong Science Center Botanical Garden, Bogor, Rabu (13/3/2019).

Biopelet

Lisman menjelaskan, biopelet ini bisa berasal dari serbuk kayu berbagai jenis kayu seperti mahoni, sonokeling dan albasia. Sementara itu untuk kayu karet dan pinus mengandung getah sehingga pelet yang dihasilkan kurang bagus. Selain itu, biopelet juga bisa dibuat dari ampas kopi, batang sawit, jerami atau sekam. Hanya saja dari kayu dan ampas kopi lebih menghasilkan pembakaran baik.

Lisman menjelaskan, untuk membuat biopelet, serbuk kayu dibuat hingga ukuran kecil dan kemudian dicetak dengan mesin pencetak pelet, sehingga menghasilkan biopelet berukuran 2-4 centimeter.

"Dari beberapa UKM yang kami didatangi dan memakai biopelet ini, banyak yang mengaku lebih efisien, hemat biaya dan keuntungannya lumayan menjanjikan," ucap Lisman.

Jika dihitung, kisaran harga gas Rp 12.000 per kilogram (kg). Kemudian satu kg gas setara dengan 3-4 kg biopelet. Harga biopelet sekitar Rp 1.400 kg. Untuk 4 kg biopelet maka biaya yang dikeluarkan tidak lebih dari Rp 6.000.

Selain itu, nilai kalori yang tinggi bisa membuat pembakaran lebih sempurna karena lebih cepat panas. "Nilai kalori ampas kopi mencapai 5.000-5.400 kilokalori per kg, sonokeling 4.400-4.500, albania 4.100-4.200 kilokalori per kg," papar Lisman.

Penggunaan biopelet ini telah terbukti pada sejumlah UKM di Jawa Barat. UKM mengaku berkat biopelet produksinya lebih cepat, hemat waktu dan kualitas udara di sekitar lokasi produksi lebih sehat. Biopelet ini pun hanya menghasilkan abu sekitar dua persen.

Salah satu penghematan biaya juga sudah dirasakan UKM kerupuk di Cibinong. Saat menggunakan gas, biaya pengeluarannya mencapai Rp 28 juta. Ketika beralih ke biopelet, biaya pengeluarannya hanya Rp 15 juta.

"Terdapat efisensi 25-41 persen setelah menggunakan biopelet. Dari segi emisi, saat pembakaran tidak menghasilkan asap hitam sehingga proses produksi lebih bersih," tandas Lisman.



Sumber: Suara Pembaruan