Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan Melalui Pemberdayaan Desa

Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan Melalui Pemberdayaan Desa
Dari kiri: Rizal Algamar, country director The Nature Conservancy (TNC), Sarwono Kusumatmadja, chairman Board of Trustees TNC, dan Arif P Rachmat, komisaris utama PT Triputra Agro Persada dan juga Board of Trustee TNC. ( Foto: Beritasatu / Primus Dorimulu )
Primus Dorimulu / HA Selasa, 19 Maret 2019 | 00:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Bekerjasama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), PT Triputra Argo Persada (TAP) meluncurkan sebuah gerakan bersama para pemangku kepentingan untuk mencegah kebakaran hutan dan dan lahan (karhutla). Salah satu kegiatan penting adalah pendidikan dan pemberdayaan masyarakat desa. Gerakan besar ini berkomitmen untuk menjaga kelestarian hutan dan alam.

"Ini adalah sebuah gerakan besar, gerakan bersama, untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan secara berkesinambungan," kata Arif P Rachmat, komisaris utama PT TAP sekaligus penggagas gerakan "Empowering Community for Our Future" atau "Memberdayakan Komunitas untuk Masa Depan Kita" dalam sebuah pertemuan di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (18/3/2019).

Hadir pada acara itu Sarwono Kusumaatmadja, Ketua Dewan Penasihat (Board of Trustees) The Nature Conservancy (TNC) Indonesia, Rizal Algamar, country director TNC Indonesia, dan sekitar 50 wakil pemerintah daerah, para pengusaha, dan eksekutif perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan pertambangan di Kalimantan Timur, serta wakil institusi pusat dan pemimpin media massa.

Arif yang juga menjabat anggota Board of Trustees TNC mengatakan, tahun ini, kemungkinan terjadi El Nino. Musim panas akan lebih panjang, sehingga ancaman terjadi kebakaran akan cukup besar. Lewat gerakan besar ini, kebakaran hutan dan lahan akan dicegah.

Musibah Karhutla yang terjadi tahun 2015 telah mencapai 2,6 juta hektare yang kemudian angka tersebut turun signifikan menjadi kurang dari 250.000 hektare atau turun sekitar 90% pada tahun 2018. Pencapaian tersebut, kata Arif, merupakan hasil kerja sama yang sangat baik dan kontribusi besar dari seluruh pihak terkait. Namun demikian, perlu dilakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar konsesi sebagai bagian integral untuk mendukung upaya bersama mencegah kebakaran.

Pada acara tersebut, Arif menyampaikan bahwa kesejahteraan masyarakat adalah tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, diperlukan sebuah aliansi melalui Public Private Partnership (PPP) antara pemerintah, korporasi, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) agar dapat membangun perekonomian desa sehingga masyarakat setempat dapat tumbuh sejahtera.

Para pemangku kepentingan telah melakukan berbagai inisiatif untuk menanggulangi Karhutla dalam beberapa tahun terakhir, seperti program Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan (Sigap) dari YKAN dan program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) dari beberapa korporasi.

"Sigap" adalah strategi yang menggabungkan pendekatan ilmiah dan masyarakat untuk mencapai tujuan menyeluruh selama lima tahun dan berdampak pada skala ekologi seperti pengurangan deforestasi, emisi, dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati maupun jasa ekosistem; skala sosio-ekonomi yaitu pemberdayaan masyarakat dan perbaikan mata pencaharian berkelanjutan; serta tata kelola pemerintah desa yang baik dan berkelanjutan. Semua ini dicapai melalui kemitraan multi-stakeholders yang dinamakan Aliansi Sigap.

“Aliansi Sigap bertujuan untuk melindungi wilayah, mempromosikan praktik berkelanjutan, dan menginformasikan kebijakan. Aliansi Sigap dirancang sebagai solusi untuk percepatan pembangunan berkelanjutan, menangani dampak perubahan iklim melalui tingkat desa, meningkatkan mata pencaharian masyarakat yang berkelanjutan di Indonesia, dan mengutamakan kemitraan sebagai pendorong inisiatif pembangunan berkelanjutan,” ujar Ketua YKAN Rizal Algamar.

Kemudian, Arif menjelaskan bahwa TAP telah menyempurnakan program Desa Bebas Kebakaran dan kegiatan corporate social responsibility menjadi Desa Makmur Peduli Api (DMPA) pada tahun 2018.

“Program DMPA bertujuan untuk memberdayakan ekonomi desa di sekitar wilayah TAP dan entitas anaknya melalui program kemitraan. Ini merupakan komitmen perusahaan mencegah adanya Karhutla dan membuat desa di sekitar perusahaan tumbuh makmur. Pada tahun 2019 ini, kami fokus untuk membina 35 desa yang terletak di wilayah konsesi perusahaan kami, yaitu di wilayah Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.” Kata Arif.

Melalui Program Sigap dari YKAN akan menyempurnakan komponen konservasi pada Program DMPA. Oleh karena itu, Arif mendorong untuk terbentuknya Aliansi Sigap di wilayah Kalimantan Timur.

Gerakan yang akan dikoordinasikan oleh pemerintah daerah ini menggunakan Program Pencegahan Karhutla berbasis klaster yang diinisiasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Program tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah agar perusahaan perkebunan, perusahaan pertambangan, dan PHTI dapat berperan aktif untuk mengantisipasi Karhutla di area sekitar konsesi usaha.

Para deklarator gerakan bersama para pemangku kepentingan untuk mencegah kebakaran hutan dan dan lahan dipelopori Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), PT Triputra Argo Persada berkumpul di Jakarta, 18 Maret 2019.



Sumber: BeritaSatu.com