KLHK: Banjir Sentani Bukan karena Hutan Gundul

KLHK: Banjir Sentani Bukan karena Hutan Gundul
Banjir di Sentani, Kabupaten Jayapura. ( Foto: Antara )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Rabu, 20 Maret 2019 | 12:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut, peristiwa banjir bandang di Sentani, Jayapura, Papua, lebih didominasi fenomena alam. KLHK pun mengatakan, tidak ada perambahan dan penggundulan hutan.

Sejak tahun 2012 sampai 2017, perubahan tutupan lahan tidak signifikan, yakni hanya 495,47 ha atau sekitar 3,3%. Kemudian, luas tutupan lahan pertanian lahan kering dan permukiman di dalam kawasan hutan pada daerah tangkapan air banjir mencapai 2.415 ha dari 15.199,83 ha luas daerah tangkapan air di wilayah Sentani. Di bagian atas pun ada savana. Selain itu terdapat cagar alam Cycloop yang didominasi pegunungan.

"Jika dilihat, kondisi tutupan lahan relatif stabil. Saat banjir bandang, pohon yang terbawa pun pohon utuh hingga ke akarnya," ungkap Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung KLHK, Ida Bagus Putera Parthama, kepada media di Jakarta, Selasa (19/3).

Ke depan, Putera pun berharap ada upaya mitigasi di kawasan hilir dengan mengkaji tata ruang khususnya bangunan dan pemukiman di hilir.

Senada dengan itu, Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian Daerah Aliran Sungai KLHK, M Saparis Sudaryanto mengatakan, DAS Sentani merupakan wilayah kerja Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Memberamo.
Di tahun 2019, 1.000 ha lahan di DAS Memberamo akan direhabilitasi. Selain itu ada tambahan 1.500 ha lagi lahan di DAS Sentani akan direhabilitasi.

"Tim KLHK akan ke sana untuk identifikasi lebih lanjut penyebab dan melakukan persiapan untuk RHL," ungkapnya.

Terkait dugaan perambahan, Direktur Jenderal Konservasi Alam Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Wiratno menyebut, tidak ada perambahan karena secara adat lahan tersebut dikelola suku adat.

"Ada 5 suku besar di sana dalam bentuk kebun campur. Kita bekerja dengan masyarakat adat," paparnya.

Hutan di sana lanjutnya masih bagus, hanya saja memiliki kelerengan yang tajam. Oleh karena itu, walaupun hutan tidak rusak, kalau kemiringannya tajam, curah hujan sangat ekstrem itu akan berdampak besar pada wilayah perkampungan.

"Kita harus memikirkan tata ruang di hilir ketika ada fenomena hujan ekstrem di wilayah ini. Maka ini semua mengalir ke Sentani," ucap Wiratno.

Ia mengungkapkan lokasi cagar alam Cycloop yang menjaga masyarakat adat dan ada resort masih dalam kondisi bagus. Kalau terdapat daerah terbuka, tambahnya, belum tentu rusak karena ada savana.

Wiratno menegaskan, tidak akan ada penurunan status cagar alam di sana. Di lokasi sekitar cagar alam memang ada blok khusus untuk permukiman. Secara aturan diperbolehkan karena ada restorasi bersama dengan masyarakat.

Potensi wisata di lokasi juga besar namun dalam jumlah terbatas, misalnya melihat burung cendrawasih khas Papua dan keanekaragaman hayati lainnya.

"Ini dulu kawasan hutan lindung yang menjadi cagar alam, tapi kawasan konservasi kita itu memiliki fungsi hidrologis. Floranya luar biasa mendominasi. Ini daerah evolusi penting, pusat endemisitas satwa dan kemungkinan ditemukan spesies baru sangat besar," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan