Perhutani Tandatangani Nota Kesepahaman Tanggap Bencana dengan BNPB

Perhutani Tandatangani Nota Kesepahaman Tanggap Bencana dengan BNPB
Direktur Utama Perum Perhutani Denaldy M Mauna (kanan) berjabat tangan dengan Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo usai penandatanganan Nota Kesepahaman mengenai penanggulangan bencana dan pengembalian fungsi hutan di Jakarta, Rabu 20 Maret 2019. ( Foto: dok )
Yudo Dahono / YUD Rabu, 20 Maret 2019 | 19:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Utama Perum Perhutani, Denaldy M Mauna menandatangani Nota Kesepahaman dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tentang Penanggulangan Bencana di Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Penandatanganan Nota kesepahaman tersebut dilakukan dalam acara Bincang Kepala BNPB bersama pimpinan perusahaan dengan tema "Siap Tangguh Bersama Lembaga Usaha". Dalam kegiatan tersebut turut dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (tripartit) antara Perhutani, BNPB dan PT. Sulotco Jaya Abadi (Kapal Api) tentang Pemanfaatan Kawasan Hutan untuk Budidaya Tanaman Kopi Guna Mendukung Kegiatan Penanggulangan Bencana serta penandatanganan nota kesepahaman antara Perhutani, BNPB dan PT Galih Jaya tentang Penguatan Logistik dalam Penanggulangan Bencana.

"Pulau Jawa sudah mengalami kerusakan ekologis yang sangat memprihatinkan sehingga kami memberikan saran salah satunya ke Perhutani untuk menjalin kerjasama dalam menjaga kelestarian hutan di Jawa dan membuat program-program ekonomi yang turut memperhatikan ekologis," kata Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo, Rabu (20/3/2019).

"Masyarakat perlu turut dilibatkan dalam program tersebut agar masyarakat mendapat nilai tambah dan meningkatkan ekonomi mereka sambil mengembalikan fungsi konservasi hutan di pulau Jawa," jelas Doni.

Pada kesempatan yang sama Direktur Utama Perum Perhutani Denaldy M Mauna menjelaskan, "Kerja sama yang dilakukan ini dalam mendukung penanggulangan bencana dan pengembalian fungsi hutan baik secara ekologis maupun kemanfaataan sosial ekonomi bagi masyarakat dengan optimalisasi pemanfaatan lahan hutan sebagai bentuk upaya preventif.”

"Dengan banyak terjadinya eksploitasi hutan yang berlebihan tanpa perencanaan yang baik oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab, maka timbul berbagai bencana seperti banjir dan tanah longsor yang menimbulkan korban jiwa", ujarnya.

"Sehingga kerja sama ini dilakukan dengan tujuan untuk menjaga keberadaan hutan dengan lestari, mengelola lingkungan dan ekonomi dengan arif dan bijaksana,” pungkas Denaldy.



Sumber: BeritaSatu.com