Edukasi tentang Plastik Masih Sangat Kurang

Edukasi tentang Plastik Masih Sangat Kurang
Ilustrasi sampah plastik. ( Foto: Antara )
Indah Handayani / BW Minggu, 21 April 2019 | 23:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Setiap 22 April kita memperingati Hari Bumi. Beberapa tahun terakhir, masyarakat mulai disodori fakta bahwa bumi makin tidak sehat untuk ditinggali. Laut, yang merupakan sumber kehidupan dan pusat ekosistem di planet ini, tercemar limbah plastik berjuta-juta ton setiap tahunnya.

Kepala Balai Teknologi Polimer BPPT, FM Erny S Soekotjo M.Sc saat ditemui di kantornya di kawasan Puspitek, Serpong, Tangerang, mengakui, dalam 5 tahun terakhir, plastik sangat dimusuhi. Itu akibat edukasi tentang plastik yang masih sangat kurang. Konotasi tentang plastik di masyarakat saat ini adalah sebatas tas plastik atau kantong pembungkus makanan.

"Padahal, setiap hari kita sangat bergantung pada plastik. Bangun tidur kita sikat gigi menggunakan sikat gigi terbuat dari plastik,” jelas Erny dalam keterangan pers.

Dijelaskan Erny, plastik ditemukan dan kemudian berkembang pesat, karena memiliki banyak keunggulan. Ringan, tahan lama, anti korosif, murah, dan praktis. Maka dalam waktu singkat plastik menjadi idola baru dan menggantikan logam dan kayu, untuk berbagai kebutuhan.

“Plastik atau polimer adalah material yang baru ditemukan, lebih muda dibandingkan logam. Dan sampai sekarang, secara material, plastik masih bisa berkembang. Masih sangat terbuka untuk mengembangkan produk baru yang cuztomize sesuai kebutuhan,” ujar Erny.

Satu-satunya kelemahan plastik adalah tidak mudah diuraikan oleh bakteri atau mikroorganisme sehingga mencemari lingkungan.

Dipaparkan Erny, polimer memiliki berat molekul sangat besar karena merupakan gabungan dari monomer-monomer yang lebih kecil dalam proses yang disebut polimerisasi.

Makin banyak monomer yang digabung, maka plastik yang dihasilkan akan makin kuat dan padat. Sebagai gambaran, agar kuat sebagai wadah, proses polimerisasi harus diulang sampai 10.000 kali. “Inilah yang menjadikan berat molekulnya besar sekali dan sulit dimakan bakteri,” tambah Erny.

Di balik sorotan terhadap sampah plastik yang mencemari bumi, sebenarnya industri plastik adalah industri yang paling rendah energi. Pengolahan plastik sangat rendah energi, hanya sekitar 3,1 KWH dibandingkan pengolahan industri logam (13,9 KWH), kaca, gelas, bahkan kertas. Inilah mengapa plastik disukai dan diproduksi besar-besaran oleh industri.

“Masalah terkait penggunaan plastik sebenarnya bukan pada material, tetapi cara memperlakukan plastik hingga ia berakhir di laut,” jelas Erny.

Rendahnya Kelola Sampah
Ketua Indonesia Solid Waste Association (InSWA), Sri Bebassari mengatakan, budaya membuang sampah di Indonesia masih memprihatinkan. “Kita baru memiliki undang-undang pengelolaan sampah tahun 2008, bandingkan dengan Jepang yang sudah memilikinya sejak 100 tahun lalu, dan Singapura 40 tahun lalu,” jelas Sri.

Insenerataor (pengelolaah sampah untuk pembangkit listrik tenaga sampah) yang akan dikembangkan di TPA Bantargebang, menurut Erny, masih jauh dari kapasitas yang dibutuhkan. Maka aspek teknologi ini harus dikembangkan mulai hulu hingga hilir. Caranya memperbanyak TPSA (tempat pembuangan sampah sementara) yang dikelola secara modern.

Permasalahan sampah plastik yang kompleks, membuat akhirnya muncul kampanye untuk mulai mengurangi penggunaan plastik. Mungkinkah?

“Apakah kita harus mundur lagi ke belakang dengan kembali menggunakan logam, kayu, atau kertas? Ingat, kertas juga tidak ramah lingkungan karena sama saja menebang banyak pohon. Yang harus kita lakukan adalah bijak menggunakan plastik dengan menerapkan apa yang sudah kita hapalkan bersama, yaitu reduce, reuse, dan recycle,” jelas Erny.

Keunggulan plastik bagaimanapun sulit tergantikan, setidaknya sampai ada material yang bisa menggantikannya. Memang ada beberapa peneliti muda Tanah Air yang mencoba menemukan alternatif pengganti plastik. Sayangnya, menurut Erny, produk-produk alternatif pengganti plastik belum diserap industri dalam skala besar.

“Sebagian bahkan menimbulkan isu baru yaitu mikroplastik, yaitu komponen plastik yang mudah terurai dan mencemari tanah,” jelasnya.

Kevin Kumala, pendiri Avani Eco, salah satu produsen plastik biodegradable, sependapat. Menurutnya, produk pengganti plastik tidak akan menyelesaikan masalah. Selain pasar terbatas, harga plastik biodegradable ini jauh lebih mahal dari plastik pada umumnya.

“Makanya diperlukan kolaborasi massal untuk menyelesaikan masalah plastik ini. Kami hanya berusaha mencari solusi yaitu menambahkan slogan reduce, reuse, dan recycle dengan replace. Replace akan menjadi amunisi baru untuk dapat menyelesaikan limbah plastik,” jelas Kevin.

Menurut Kevin, sekecil apapun upaya yang dilakukan, bisa memberikan kontribusi dan diharapkan akan menjadi suatu gerakan besar. Small action does create big impact. Hal itu bisa meminimalisasi limbah plastik mulai dengan refuse. Contoh, jika pergi ke kafe, bisa memulai gerakan diet plastik dengan mengatakan tidak untuk sedotan plastik.

"Jika ini terus diterapkan, saya yakin akan memiliki dampak besar. Dari situ kita berharap dapat mengurangi penggunaan plastik sehari-hari dan membantu negara menjadi lebih bersih dan hijau," tutupnya.

Bagaimanapun, plastik masih memiliki nilai jual tinggi. Andai saja, limbah plastik dikelola dengan benar, mereka tidak akan sampai ke laut. Hasilnya, produk daur ulang bernilai tinggi, mulai dari ember dan peralatan dapur hingga serat pakaian poliester.

Ada beberapa hal tips untuk menggunakan plastik dengan bijak:

1. Percantik Tempat Sampah.
Jangan hanya ruang tamu dan taman yang dipercantik, tetapi percantik juga tempat sampah di dapur. Cuci setiap hari tempat sampah seperti halnya mencuci perabotan yang lain.

2. Belajar Memilah Sampah dengan Benar.
Pemilahan sampah yang benar bukan organik dan nonorganik tetapi dibedakan berdasarkan materialnya, yaitu sampah plastik, sampah organik, sampah kertas, sampah kaca dan sampah logam.

3. Belajar Mendaur Ulang Sampah
Tidak ada salahnya belajar membuat biopori, yaitu membuat kompos sendiri di halaman rumah yang berasal dari sampah organik. Dengan begitu, hanya sampah plastik dan nonorganik yang akan sampai di tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Jika sampah organik ini berkurang, akan jauh mengurangi beban TPA. Menurut data, sampah di TPA Bantar Gebang ternyata didominasi sampah rumah tangga yang organik, mencapai 48%. Hanya 15% sampah plastik.



Sumber: Investor Daily