Ini Bahaya Menyimpan Smartphone Bekas

Ini Bahaya Menyimpan Smartphone Bekas
Ilustrasi Smartphone Bekas. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Senin, 22 April 2019 | 15:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Panitia Penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 berkomitmen menggunakan materi daur ulang dari smartphone bekas dan sampah elektronik lain untuk bahan pembuatan medali. Setidaknya, perhelatan ini membutuhkan 5.000 medali emas, perak dan perunggu.

Apa yang dilakukan oleh Panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 ini memang membuat terhenyak banyak pihak. Pasalnya, yang didaur ulang tersebut berasal dari sampah elektronik (e-waste) yang merupakan salah satu jenis limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Baca Juga: Ecofren, Solusi Terpadu Pengelolaan Limbah

Namun, di sisi lain, inisiatif ini juga bisa memberikan inspirasi. Ketika sampah, mulai dari smartphone bekas, sampah elektronik lainnya, termasuk kamera digital, handheld game, dan laptop, dikelola dengan baik, ternyata masih dapat dimanfaatkan. Salah satu contohnya adalah medali Olimpiade tersebut.

Pasalnya, jumlah sampah elektronik (e-waste) setiap tahun nya terus bertambah. Berdasarkan data dari PBB, masyarakat dunia menghasilkan 44,7 juta ton sampah elektronik pada 2016, angka yang terus menanjak antara 3 persen hingga 4 persen setiap tahun. Sampai 2021 nanti, jumlah sampah elektronik diperkiraan mencapai 52 juta ton.

Inisiatif seperti yang dilakukan panitia Olimpiade Tokyo 2020, tentunya akan sangat membantu dalam mengelola sampah elektronik.

Di Indonesia sendiri, pengetahuan terhadap e-waste ini masih sangat minim. Jika melihat di rumah masing-masing, ada berapa banyak smartphone yang sudah tidak terpakai namun masih disimpan, dua, tiga atau lebih dari itu. Padahal, smartphone bekas termasuk limbah B3. Beberapa bahan berbahaya yang terdapat pada smartphone bekas adalah Arsenic, PCBs dan Kadmium.

Arsenic misalnya, risiko yang bisa ditimbulkannya bukan semata gangguan metabolisme di dalam tubuh manusia ataupun hewan, ini juga dapat mengakibatkan keracunan bahkan kematian.

Lalu, ada PCBs yang akan membuat persisten di lingkungan, dan mudah terakumulasi dalam jaringan lemak manusia dan hewan. Akibatnya, mengganggu sistem pencernaan dan bersifat karsinogenik.

Sementara itu, Kadmium, yang biasa digunakan untuk pelapisan logam, terutama baja, besi dan tembaga, bersifat iritatif. Dalam jangka waktu lama akan menimbulkan efek keracunan, dan gangguan pada sistem organ dalam tubuh manusia dan hewan.

Berdasarkan data Canalys, jumlah smartphone yang dikapalkan ke Indonesia selama tahun 2018 mencapai 38 juta. Sedangkan data dari Gartner menyebutkan bahwa secara global total volume penjualan smartphone mencapai 384 juta, mewakili 84 persen dari total penjualan perangkat ponsel.

Untuk penjualan semua ponsel, termasuk feature phone, Gartner mencatat angka 455 juta pada kuartal pertama 2018. Jumlah ini hampir dua kali lipat dari total populasi Indonesia. Kondisi tersebut membuat sampah smartphone terus meningkat. Namun, hal ini tak bisa sepenuhnya disalahkan kepada konsumen.

Kepala Seksi Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Rosa Ambarsari, mengatakan, kalangan produsen dalam hal ini juga ikut bertanggung jawab.

"Jadi bukan saja terhadap emisi, effluent dan sampah yang dihasilkan selama proses produksi, tetapi juga memasukkan manajemen produk terhadap produk yang telah dibuang oleh konsumen," ujar Rosa, di Jakarta, Senin (22/4/2019).

Rosa menambahkan, selain produsen, distributor sampai industri rekondisi juga bertanggung jawab untuk mengelola sampah yang dihasilkan. Hal itu, sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 18/2009 tentang Tata Cara Perizinan Pengelolaan Sampah.

Direktur Utama PT Arah Environmental Indonesia, Gufron Mahmud, menyampaikan hal senada. Menurutnya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menangani sampah B3 seperti smartphone bekas dengan baik dan benar.

Dimulai dari memisahkan smartphone bekas dengan sampah rumah tangga lainnya, hingga mengumpulkannya ke dalam satu tempat khusus sebagai penampungan sementara. Misalnya, di setiap RW ada tempat khusus. Setelah itu, smartphone bekas dapat dikirim ke tempat pengolahan sampah yang sudah memenuhi standar dan berizin.

"Kami sangat mendukung kebijakan pemerintah dengan mengambil peran dalam memberikan edukasi kepada para pihak yang menghasilkan sampah termasuk smartphone bekas. Untuk pengelolaan sampah seperti smartphone bekas yang ada di perumahan, apartemen, perkantoran atau perusahaan, kami memberikan solusi pengelolaan melalui layanan Ecofren," ungkap Gufron.

Lebih lanjut, Gufron menambahkan, sebagai perusahaan yang bertugas mengelola sampah dan sampah, Arah Environmental Indonesia (PT Arah) sendiri sudah memiliki izin seperti yang disyaratkan oleh pemerintah untuk perusahaan yang menyediakan solusi terpadu pengelolaan sampah dan sampah sesuai standar pengendalian lingkungan hidup.



Sumber: BeritaSatu.com