Inaplas: Daur Ulang, Solusi Masalah Sampah Plastik

Inaplas: Daur Ulang, Solusi Masalah Sampah Plastik
Ilustrasi sampah plastik. ( Foto: Antara )
Feriawan Hidayat / FER Selasa, 30 April 2019 | 08:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pelarangan peredaran kantong plastik diyakini tidak akan menyelesaikan permasalahan sampah plastik di Indonesia. Pelarangan peredaran tersebut justru akan mengganggu terciptanya circular economy dimana masa depan penanggulangan sampah adalah melalui daur ulang.

Baca Juga: Pemerintah Luncurkan Gerakan Indonesia Bersih

Asosiasi Industri Aromatika, Olefin, dan Plastik (Inaplas) menilai, pengelolaan sampah dimulai dari hulu atau sejak di lingkup rumah tangga, dapat menciptakan nilai ekonomi.

Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiyono, mengatakan, faktor pencemaran sampah terhadap lingkungan yaitu sebenarnya perilaku konsumen yang belum melihat hal ini sebagai nilai ekonomi.

"Saat ini industri daur ulang plastik hanya jalan 80 persen kapasitasnya, padahal sampah plastik masih banyak, ini disebabkan karena sampah kita belum terpilah. Biaya sortir atau pilah berkisar 50 persen dari cost recycle," tutur Fajar saat dihubungi, Jakarta, Selasa (29/4/2019).

Baca Juga: Kemperin Nilai Perda Larangan Kantong Plastik Ganggu Iklim Investasi

Menurut Fajar, plastik sangat bermanfaat bagi kehidupan, dan dianggap menjadi masalah ketika sudah menjadi sampah. Maka, yang perlu dibenahi adalah pengelolaan sampah, bukan dengan melarang produk plastik. Industri plastik pada dasarnya mendukung penuh pengelolaan sampah dan minimalisir jumlah sampah dengan meningkatkan daur ulang berbagai sampah.

"Tapi yang penting itu, perubahan perilaku masyarakat yang tidak lagi melihat plastik sebagai sampah, tapi sebagai sesuatu yang bernilai ekonomi tinggi. Kemudian menerapkan prinsip zero waste to landfill dengan memilah sampah di rumah, daur ulang dan composting, dan lainnya," papar Fajar.

Beberapa daerah sebenarnya sudah mulai menerapkan inovasi pemanfaatan plastik salah satunya adalah Kulonprogo yang patut dijadikan contoh bagi daerah lainnya. Sampah kantong plastik di sana diolah menjadi bahan campuran aspal untuk proyek rehabilitasi jalan penghubung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Borobudur di ruas Nanggulan-Sentolo. Aspal campuran sampah plastik terbukti mampu meningkatkan kualitas jalan yang lebih kuat dan tidak mudah rusak.

Fajar pun tak sependapat jika produk plastik menjadi biang kerok pencemaran lingkungan, dimana konsumsi plastik di Indonesia masih terbilang rendah dibandingkan negara lainnya. "Per kapita konsumsi plastik per tahun, Indonesia 23 kg, Singapura 60 kg, Thailand 40 kg, Malaysia 50 kg, dan Jepang 100 kg," jelas Fajar.

Baca Juga: Mahasiswa UPH Ubah Sampah Plastik Jadi Produk Fungsional

Koordinator Kemitraan Kota Hijau, Nirwono Joga, mengatakan, merujuk Perpres Nomor 97/2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, semua pemangku kepentingan harus terlibat mengelola sampah.

Salah satunya, pemerintah perlu mengintervensi pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, seperti pemilahan sampah mulai dari tingkat rumah tangga, RT/RW, kelurahan, kecamatan, dan kota/ kabupaten.

"Optimalisasikan pengolahan sampah organik menjadi kompos 100 persen, pemilahan sampah anorganik di bank sampah untuk didaur-ulang, digunakan ulang, atau diperbaiki untuk dijual kembali, hingga pengolahan residu sampah B3," kata Nirwono.

Baca Juga: Edukasi tentang Plastik Masih Sangat Kurang

Diketahui, pengelolaan sampah organik, saat ini sedang menjadi tren baru adalah menggunakan Budidaya lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF) dengan nama latin Hermetia illucens yang telah dikembangkan oleh warga di Desa Sokawera, Banyumas, Jawa Tengah

Dusun Larangan telah memantapkan menjadi 'Kampung Laler', karena nantinya seluruh warga akan membudidayakan lalat BSF tersebut. BSF tak sekadar mampu meningkatkan pendapatan warga, tetapi juga sebagai salah satu solusi untuk menangani sampah.



Sumber: BeritaSatu.com