Juni, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Bantargebang Siap Beroperasi

Juni, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Bantargebang Siap Beroperasi
Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Bantargebang ( Foto: Suara Pembaruan / Ari Supriyanti Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Selasa, 7 Mei 2019 | 09:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Upaya mengatasi persoalan sampah menjadi bagian dari rencana pembangunan jangka menengah nasional 2020-2024 pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Pemecahan persoalan sampah butuh pendekatan holistik, salah satunya lewat teknologi.

Berbagai inovasi teknologi telah dilakukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (Peltas) Bantargebang, Bekasi yang ditargetkan akan beroperasi pada Juni 2019. Saat ini Peltas Merah Putih buatan BPPT ini masih tahap uji coba optimalisasi mesin dan insinerator. Jika sudah resmi beroperasi pada Juni mendatang, BPPT akan menyerahkan sepenuhnya ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. BPPT hanya bertugas mendampingi.

Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT Rudi Nugroho mengatakan, Peltas saat ini masih dalam penyempurnaan, khususnya untuk sistem pembangkitan listriknya, yakni peralatan steam turbin generator.

"Untuk sistem pembakaran dan sistem pembuatan steam sudah siap," katanya di Jakarta, Senin (6/5).

Teknologi Peltas mampu mengolah sampah dengan proses termal yakni pembakaran di insinerator dengan suhu tinggi. Untuk sampah Jakarta saja, tanpa terobosan pengelolaan, lokasi Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat diperkirakan tidak akan lagi mampu menampung sampah Jakarta di tahun 2021.

Untuk itulah di akhir tahun 2017, BPPT bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta membangun proyek percontohan (pilot project) Peltas yang mampu memusnahkan sampah dengan teknologi termal bersuhu mencapai 800 derajat celcius, dengan kapasitas 100 ton per hari.

"Jika pilot project Peltas Bantargebang ini sukses, maka bisa menjadi percontohan sistem serupa di lokasi lain," ucapnya.

Rudi menambahkan, saat ini sudah ada sejumlah daerah yang berminat membangun Peltas seperti Medan, Tangerang Selatan dan sejumlah lokasi lain di Jakarta.

Dalam uji coba ini lanjutnya, kendala dalam pemilahan sampah masih ditemukan. Untuk itu sangatlah penting ketika sampah dipilah sebelum akhirnya masuk Peltas.

Menurut Rudi, persoalan sampah masih menjadi persoalan serius. Selain membangun Peltas, BPPT pun bekerja sama dengan mitra luar negeri terkait inovasi ocean clean up yang ditempatkan di sungai dan muara. Saat ini alat tersebut sudah dipasang di perairan Jakarta.

Prinsip kerja alat ini adalah menangkap sampah kemudian memilah dan mencacahnya untuk didaur ulang.

Dalam mengatasi persoalan sampah pun, saat ini BPPT telah membuat sampah plastik untuk bahan campuran semen dan pengaspalan untuk pembuatan jalan.

"Sistem ini kami uji coba di Cakung. 1,4 ton plastik bisa dimanfaatkan untuk pengaspalan panjang 500 meter dan lebar 5 meter," ucapnya.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, timbulan sampah di tahun 2018 mencapai 65.792.462 ton, tahun 2017 sebesar 65.800.000, tahun 2016 sebesar 65.200.000 dan tahun 2015 sebesar 64.400.000.

Komposisi sampah di tahun 2018, terdiri dari sampah sisa makanan 44%, kayu ranting dan daun 13%, kaca 2%, karet/ kulit 2%, kain/tekstil 3%, logam 2%, plastik 15% dan kertas 11%.



Sumber: Suara Pembaruan