Limbah Radioaktif Aman dan Bisa Dimanfaatkan Kembali

Limbah Radioaktif Aman dan Bisa Dimanfaatkan Kembali
Laboratorium Simulator Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) di Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan. ( Foto: Antara )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Rabu, 8 Mei 2019 | 12:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Limbah radioaktif ternyata mampu diolah dan digunakan kembali untuk kegiatan yang berkaitan dengan teknologi nuklir seperti pengukuran dan kalibrasi. Bahkan pemanfaatan tersebut mampu membantu penghematan biaya.

Kepala Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Husen Zamroni mengatakan, sejak tahun 2013, PTLR mulai melakukan pemanfaatan limbah radioaktif. Hal ini diperkuat dengan adanya Peraturan Pemerintah No 61 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Limbah Radioaktif.

"Limbah radioaktif ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan, industri dan kalibrasi," katanya di Jakarta, Selasa (7/5/2019).

Husen mengungkapkan, PTLR telah mengelola limbah radioaktif se-Indonesia sejak tahun 1988. Di dalam pengelolaannya, PTLR Batan mengutamakan prinsip safety, security dan safeguard (3S). Menurutnya, sudah menjadi komitmen Indonesia bahwa pengelolaan limbah radioaktif itu harus selamat (safety) dan aman (security). Jangan sampai limbah radioaktif ini hilang atau dalam pengelolaannya dilakukan dengan tidak benar atau disalahgunakan, serta safeguard, artinya terdata dengan sangat baik serta diawasi oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dan International Atomic Energy Agency (IAEA).

Ia menjelaskan, tugas PTLR Batan adalah melakukan pengelolaan reduksi volume sehingga volume limbah radioaktif menjadi sekecil mungkin. Beberapa jenis pengelolaan limbah radioaktif bisa digunakan kembali. Artinya, bisa di-reuse ataupun di-recycle.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 61 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Limbah Radioaktif dan Peraturan Kepala Batan No 7 Tahun 2017, zat radioaktif terbungkus yang tidak digunakan lagi yang disimpan di PTLR Batan bisa digunakan kembali atau didaur ulang.

Husen mencontohkan, kegiatan radioterapi untuk pengobatan kanker di rumah sakit menggunakan sumber radioaktif cobalt - 60 yang memancarkan sinar gamma dan menghasilkan limbah radioaktif. Kemudian setelah diolah di PTLR Batan, radioaktif itu bisa digunakan kembali untuk kegiatan kalibrasi di Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) Batan.

Dengan memanfaatkan limbah radioaktif, PTKMR Batan bisa memangkas biaya pembelian sumber radioaktif. Misalnya PTKMR Batan, memanfaatkan zat radiaoktif terbungkus dari Rumah Sakit Ulin, Banjarmasin. Aktivitas radioaktifnya besar, yakni 2.500 curie. Kemudian ketika menjadi limbah, terjadi peluruhan, namun bisa dipakai lagi untuk kalibrasi.

"Kalau harus beli baru harganya Rp 7 miliar. Dengan proses reuse, dengan biaya hanya Rp 40 juta bisa digunakan lagi. Artinya efisiensi secara ekonomis sangat besar sekali," katanya.

Limbah radioaktif juga bisa digunakan kembali untuk kegiatan pendidikan. Sebagai contoh, Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Batan, kalau harus membeli sumber radioaktif terbungkus 5 mili currie harganya bisa Rp 200 juta. Namun, kalau menggunakan limbah radioaktif hanya membutuhkan biaya Rp 20 juta, itu untuk biaya perizinan dan lainnya.

Selain sangat efisien dari sisi ekonomi, penggunaan kembali dan daur ulang limbah radioaktif juga bertujuan sebagai upaya meminimalkan jumlah limbah radioaktif di Indonesia.

“Kalau beli sumber radioaktif baru dari luar negeri, artinya nanti jadi limbah lagi. Tapi kalau dengan memanfaatkan limbah yang ada, artinya mengurangi volume limbah menjadi sekecil mungkin,” katanya.

Husen menyebut, limbah radioaktif yang diterima berasal dari kegiatan riset di internal Batan, industri, dan rumah sakit. Limbah-limbah tersebut diolah menjadi sekecil mungkin dengan empat perlakuan, yakni evaporasi, insenerasi, kompaksi, dan imobilisasi.



Sumber: Suara Pembaruan