Aliansi Sigap Berdayakan Masyarakat untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Aliansi Sigap Berdayakan Masyarakat untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Thought Leaders Forum (TLF) yang diselenggarakan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), mitra lokal dari The Nature Conservancy Indonesia, di Jakarta, pada Rabu 8 Mei 2019. ( Foto: dok )
Yudo Dahono / YUD Kamis, 9 Mei 2019 | 16:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Perubahan iklim telah menjadi kenyataan, di mana sebagian besar ahli mempercayai bahwa perubahan iklim adalah ancaman terbesar bagi kehidupan manusia di abad ini. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia akan mengalami dampak signifikan. Oleh karena itu Indonesia, di samping harus aktif dalam upaya mitigasi perubahan iklim, juga harus sudah menyiapkan upaya-upaya adaptasi.

Upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim memerlukan kolaborasi dari seluruh komponen bangsa. Pemerintah, akademisi, industri, lembaga swadaya masyarakat, dan tidak terkecuali, masyarakat harus bergerak.

Hal tersebut diungkapkan Senior Advisor YKAN for Terrestrial Policy Indonesia Program Wahjudi Wardojo dalam Thought Leaders Forum (TLF) yang diselenggarakan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), mitra lokal dari The Nature Conservancy Indonesia, di Jakarta, pada Rabu (8/5/2019).

TLF ke-18 ini mengangkat tema “ALIANSI SIGAP: Pemberdayaan Masyarakat melalui Pendekatan SIGAP untuk Masa Depan yang Lebih Baik”. Bersama dengan Wahjudi, hadir sebagai pembicara Head of Sustainability Triputra Agro Persada Group Rudy Prasetya, Director of Terrestrial Program YKAN Herlina Hartanto, dan Director of Development YKAN Budi Santosa.

Dihadiri oleh perwakilan dari 20 perusahaan, dalam TLF ke-18 ini diharapkan pihak swasta dapat memahami manfaat dari pendekatan SIGAP bagi desa-desa di sekitar daerah operasional dan menilik lebih jauh mekanisme kerja Aliansi SIGAP. YKAN pun membuka pintu bagi pihak swasta untuk menjadi bagian dari Aliansi SIGAP. Dengan menjadi bagian dari Aliansi SIGAP, mereka dapat berkontribusi pada pencapaian komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi karbon sebesar 26% pada 2020, yang telah disampaikan dalam Conference of the Parties (COP) ke-16 pada 2010, juga untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan Indonesia.

SIGAP adalah sebuah pendekatan pemberdayaan masyarakat untuk mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan dan menyejahterakan kehidupannya. “Jiwanya SIGAP adalah bagaimana membuat warga desa tergerak dan menyadari bahwa mereka adalah agen perubahan. Merekalah sumber kekuatan,” terang Herlina, penggagas SIGAP.

Ia menambahkan, pendekatan SIGAP menjadi cara untuk memperkuat tata kelola pemerintahan, menciptakan pembangunan desa yang selaras dengan sumber daya alam, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang juga selaras dengan lingkungan. “Hal inilah yang membedakan SIGAP dengan pendekatan lainnya”.

Pendekatan SIGAP dapat memberi dampak positif baik dari sisi ekologis (pengurangan deforestasi, emisi, dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati maupun jasa ekosistem), sosio-ekonomi (pemberdayaan masyarakat dan perbaikan mata pencaharian berkelanjutan), maupun tata kelola di tingkat desa.

Dibentuknya Aliansi SIGAP sebagai platform multipihak di tingkat nasional mengajak semua pemangku kepentingan, terutama dari sektor swasta, untuk memperkuat pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan di tingkat desa. Misi utamanya untuk mendukung pencapaian komitmen Indonesia kepada United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG), serta Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah Nasional.

Dalam kesempatan terpisah, CEO Triputra Agro Persada Group Arif P Rahmat mengatakan, “Bersama dengan Aliansi SIGAP, kami menyongsong dunia di mana keanekaragaman hayati dapat terus berkembang, menerapkan pendekatan sains dan humanisme untuk menciptakan langkah-langkah terukur demi meminimalkan risiko, mengevaluasi setiap rencana, dapat direplikasi, dan mengutamakan sistem kemitraan sebagai inisiatif pembangunan berkelanjutan. Lewat kemitraan multipihak, Aliansi SIGAP dapat mendorong pembangunan yang berkelanjutan untuk mencapai dampak sosial, ekonomi, dan ekologis pada tataran yang lebih luas”.

Saat ini wilayah kerja Aliansi SIGAP fokus di 17 desa di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang terdiri dari 10 desa hutan dan 7 desa pesisir. Berau merupakan wilayah dengan kondisi hutan yang relatif baik. Di samping itu, dengan lokasinya yang berada di Segitiga Terumbu Karang Dunia, wilayah perairan Berau memiliki keanekaragaman terumbu karang dan keanekaragaman terumbu karang tertinggi kedua di Indonesia.

Namun, kekayaan ini mendapat ancaman besar dari proses deforestasi yang juga menyebabkan meningkatnya emisi karbon dan berkontribusi pada perubahan iklim. Upaya pencegahan penggundulan hutan yang luas menjadi pekerjaan utama dari setiap pihak yang terkait, tidak terkecuali di tingkat desa. Diharapkan, pada 2022, pendekatan SIGAP sudah diterapkan di sekitar 600 desa di Indonesia.



Sumber: BeritaSatu.com