Kolaborasi International Coastal Cleanup di Bali Libatkan Siswa

Kolaborasi International Coastal Cleanup di Bali Libatkan Siswa
Kegiatan International Coastal Cleanup 2019 yang digelar Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementrian Kelautan dan Perikanan, Breitling, serta Ocean Conservancy di Pantai Mertasari, Denpasar, Bali, Jumat (10/5/2019). Aksi bersih pantai itu diawali dengan melepas tukik (anak penyu) di pesisir Pantai Mertasari. ( Foto: Ist )
Heriyanto / HS Jumat, 10 Mei 2019 | 13:38 WIB

Denpasar, Beritasatu.com - Gerakan Cinta (Gita) Laut yang dimotori Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama dengan lembaga internasional Ocean Conservancy, Breitling, dan Pemerintah Kota Denpasar, Bali, menggelar bersih pantai. Kolaborasi dalam rangka International Coastal Cleanup (ICC) di Pantai Mertasari, Denpasar, Jumat (10/5/2019) tersebut melibatkan ratusan siswa, aktivis lingkungan, pegiat wisata, dan masyarakat.

Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL), KKP, Muhammad Yusuf, saat membuka ICC 2019 menjelaskan gerakan bersih pantai dan laut (GBPL) sebagai bagian dari Gita Laut itu merupakan aksi nyata dalam membebaskan laut dari sampah, terutama sampah plastik. Dalam bersih pantai itu melibatkan banyak pihak dan organisasi, termasuk para siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Denpasar. Adapun para siswa tersebut berasal dari SMP Negeri 9 Denpasar, SD 10 Sanur, dan SD 11 Sanur, Denpasar.

“Kolaborasi ini mengajak berbagai kalangan dalam membangun kesadaran bersama untuk mengurangi ancaman sampah ke pesisir dan laut di Indonesia. Para siswa diajak untuk menanamkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya mengurangi pemanfaatan plastik yang mengancam lingkungan kita,” katanya.

Selain siswa, aktivis lingkungan dan masyarakat, kolaborasi bersih pantai yang menghasilkan 0,635 ton sampah plastik itu juga menghadirkan juara selancar dunia Stephanie Gilmore dan Sally Fitzgibbons. Sebelum bersih pantai, ratusan peserta ICC juga melepas tukik (anak penyu) di pesisir Pantai Mertasari tersebut.

Pelepasan tukik (anak penyu) di pesisir Pantai Mertasari, Denpasar, Bali, Jumat (10/5/2019). Acara tersebut mengawali kegiatan International Coastal Cleanup 2019 yang digelar Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementrian Kelautan dan Perikanan, Breitling, serta Ocean Conservancy.

“Bali dipilih untuk kegiatan bersih-bersih pantai oleh Ocean Conservancy karena lndonesia bukan hanya salah satu negara yang paling terpengaruh oleh plastik laut, tetapi dimana pemerintahanya termasuk paling berkomitmen untuk menemukan solusi masalah ini," ungkap Director of Ocean Conservancy's Trash Program Free Seas, Nicholas Mallos.

Yusuf menjelaskan pencemaran sampah plastik menjadi ancaman serius terutama di laut. Sampah yang masuk ke laut tidak hanya berasal dari daratan, namun juga berasal dari pelayaran di laut, pulau-pulau kecil, hingga yang terbawa arus. Lebih dari 250 juta km2 wilayah lautan terdampak pencemaran dan Indonesia saat ini menyumbang sampah plastik hingga 1,29 juta metrik ton/tahun ke lautan. Walaupun sampah yang didapati di laut bermacam-macam, namun plastik yang berada di lautan saat ini sangat mendominasi. Pada 2050 dikhawatirkan lebih banyak sampah dibandingkan ikan di laut.

“Sudah banyak kerugian yang ditimbulkan dari banyaknya sampah di laut terutama yang terjadi pada biota laut. Salah satunya kematian paus di Wakatobi, dimana dalam perutnya terdapat sampah plastik sebanyak 5,9 kg. Selain itu, kematian Penyu di Pulau Pari yang diduga akibat sampah yang masuk ke laut dari sungai-sungai di Jakarta,” jelasnya.

Kepala Subdirektorat Restorasi, Ditjen PRL KKP, Sapta Putra Ginting menambahkan sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik lalu masuk ke lautan akan mengalami proses pelapukan sehingga menjadi mikroplastik dan nanoplastik yang akan merusak ekosistem pesisir.

“Mikroplastik dan nanoplastik ini dapat dimakan plankton dan ikan sehingga pada akhirnya bisa dikonsumsi manusia. Inilah yang bisa membayahakan kesehatan manusia. Selain itu juga berdampak pada ekosistem laut sehingga bisa menurunkan daya tarik pariwisata,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan