Kesadaran Akan Bahaya Plastik Perlu Diperkuat Sejak Usia Dini

Kesadaran Akan Bahaya Plastik Perlu Diperkuat Sejak Usia Dini
Pelepasan tukik (anak penyu) di pesisir Pantai Mertasari, Denpasar, Bali, Jumat (10/5/2019). Acara tersebut mengawali kegiatan International Coastal Cleanup 2019 yang digelar Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementrian Kelautan dan Perikanan, Breitling, serta Ocean Conservancy. ( Foto: Ist )
Heri Soba / HS Jumat, 10 Mei 2019 | 14:49 WIB

Denpasar, Beritasatu.com – Berbagai jenis sampah, terutama dari plastik, yang tidak dikelola dengan baik dan benar sangat membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia. Kesadaran akan bahaya sampah plastik tersebut harus ditanamkan sejak dini, terutama pada anak-anak dan remaja.

Hal itu disampaikan Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Muhammad Yusuf, saat membuka International Coastal Cleanup (ICC) di Pantai Mertasari, Denpasar, Bali, Jumat (10/5/2019). ICC 2019 tersebut merupakan kolaborasi Gerakan Cinta (Gita) Laut dari KKP bersama dengan lembaga internasional Ocean Conservancy, Breitling, dan Pemerintah Kota Denpasar, Bali.

Yusuf menjelaskan kesadaran akan bahaya sampah plastik itu perlu ditanamkan sejak dini. Jika dilakukan dengan serius, kebiasaan anak-anak menggunakan plastik pun akan sangat selektif karena menyadari bahayanya. Untuk itulah, dalam aksi bersih pantai di Mertasari tersebut melibatkan ratusan siswa, aktivis lingkungan, pegiat wisata, dan masyarakat. Adapun para siswa tersebut berasal dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 9 Denpasar, Sekolah Dasar (SD) 10 Sanur, dan SD 11 Sanur, Denpasar.

Upaya menyasar anak-anak dan generasi muda juga sudah menjadi perhatian Ditjen PRL KKP sejak awal menggelar kampanye Gita Laut tersebut. Selain Gerakan Bersih Pantai dan Laut (GBPL), aktivitas Gita Laut juga meliputi Jambore Pesisir yang sudah digelar di beberapa daerah dengan melibatkan ratusan anggota Praja Muda Karana (Pramuka). Jambore Pesisir sejak tahun 2017 itu diantaranya dilakukan di Cirebon dan Pangandaran, Jawa Barat, serta pada Maret 2019 lalu digelar di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, Lampung.

Baca : Sasar Generasi Muda, Jambore Pesisir Kembali Digelar di Cirebon

Direktur Jenderal PRL KKP Brahmantya S Poerwadi pernah mengatakan Jambore Pesisir merupakan sarana memberikan pendidikan, pembelajaran, dan pemahaman bagi generasi muda tentang ekosistem pesisir dan model pengelolaan laut serta pantai yang baik.
“Jambore Pesisir ini sebagai bentuk perhatian dari pemerintah tentang pentingnya menanamkan kesadaran pada generasi muda dan anak-anak,” kata Brahmantya dalam keterangan tertulis ketika membuka Jambore Pesisir di Bakauheni baru-baru ini.

Baca : Selalu Libatkan Pramuka, ASDP Apresiasi Gita Laut dan Jembore Pesisir KKP

Selain siswa, aktivis lingkungan dan masyarakat, kolaborasi bersih pantai Mertasari, Denpasar, yang menghasilkan 0,635 ton sampah plastik itu juga menghadirkan juara selancar dunia Stephanie Gilmore dan Sally Fitzgibbons. Sebelum bersih pantai, ratusan peserta ICC juga melepas tukik (anak penyu) di pesisir Pantai Mertasari tersebut.

“Bali dipilih untuk kegiatan bersih-bersih pantai oleh Ocean Conservancy karena lndonesia bukan hanya salah satu negara yang paling terpengaruh oleh plastik laut, tetapi dimana pemerintahanya termasuk paling berkomitmen untuk menemukan solusi masalah ini," ungkap Director of Ocean Conservancy's Trash Program Free Seas, Nicholas Mallos.

Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Denpasat AA G Bayu Brahmasta yang hadir dalam ICC 2019 itu mengatakan pihaknya terus mendorong berbagai kebijakan agar pantai di Kota Denpasar bebas dari sampah plastik. Salah satunya dengan memberlakukan Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 36 Tahun 2018 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik.

“Kami berusaha menerapkan berbagai kebijakan agar pemanfaatan sampah plastik lebih efektih dan mengurangi pencemaran, terutama di laut. Dengan memberlakukan Perwali 36/2018 tersebut, pengurangan sampah plastik mencapai 70 persen,” kata Bayu.



Sumber: Suara Pembaruan