Insinerator Sampah Perburuk Kualitas Udara Jakarta

Insinerator Sampah Perburuk Kualitas Udara Jakarta
Dua buah alat berat digunakan untuk membersihkan tumpukan sampah di Kali Baru, Bambu Kuning, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu, 29 April 2019. ( Foto: Antara )
Winda Ayu Larasati / WIN Minggu, 12 Mei 2019 | 14:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dalam tiga tahun ke depan sampah-sampah yang ada di Jakarta akan dilakukan pembakaran dalam volume besar menggunakan insinerator, setelah Pemerintah DKI Jakarta membangun Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, Jakarta Utara pada Desember 2018.

Fasilitas yang dibangun di atas lahan sekitar tiga hektare itu ditargetkan dapat menghanguskan sampah sekitar 2.200 ton atau sekitar 30 persen dari total sampah per hari. Saat ni, warga Jakarta dapat menghasilkan sampah sekitar 7.000 ton per hari, 28 persen di antaranya sampah plastik.

Sebelumnya, rencana pembangunan insinerator atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah berbasis termal (PLTSa termal) muncul akibat pandangan bahwa timbunan sampah merupakan bagian dari permasalahan keindahan kota.

Namun, pembangunan insinerator ini berlawanan dengan tujuan pengelolaan sampah untuk melindungi kesehatan dan lingkungan. Insinerator membuang emisi dioksin atau senyawa yang dikenal paling beracun. Pencemaran dioksin dapat menimbulkan penyakit kanker, permasalahan reproduksi dan perkembangan, kerusakan pada sistem imun dan mengganggu hormon.

Merkuri dan partikel halus merupakan senyawa lain yang dibuang oleh insinerator ke udara. Paparan merkuri dapat berdampak buruk pada sistem saraf dan perkembangan otak anak. Partikel halus menyebabkan terjadinya penurunan fungsi paru, kanker, serangan jantung bahkan kematian dini.

Insinerator di ITF Sunter memenuhi baku mutu emisi Uni Eropa yang lebih ketat dibandingkan baku mutu emisi yang berlaku di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh pihak pengembang. Namun, studi menunjukkan bahwa insinerator dengan teknologi terbaru tetap membuang dioksin saat mulai menyalakan dan mematikan mesin.

Insinerator yang berada di New York, Amerika Serikat membuang emisi merkuri 14 kali lebih tinggi dibandingkan PLTU Batubara setiap unit energi yang dihasilkan.

Selain emisi beracun, insinerator juga menghasilkan abu yang masuk dalam kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (limbah B3).

Sementara laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2010, 2011, 2015 dan 2016 menyimpulkan bahwa udara Jakarta berada pada status tercemar.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan hanya mewajibkan pemantauan dioksin dan furan setiap lima tahun. Dua partikel tersebut mengandung bahan kimia berbahaya.

Buruknya kualitas udara dan lingkungah hidup Jakarta serta lemahnya pengawasan, bisa menjadi alasan bahwa rencana pembangunan insinerator sebaiknya dipertimbangkan kembali.



Sumber: The Conversation