Tingkatkan Kualitas Hidup, Samsung Renovasi 46 Rumah Warga Bangka

Tingkatkan Kualitas Hidup, Samsung Renovasi 46 Rumah Warga Bangka
Rumah milik keluarga Saparudin-Hamidah, salah satu dari 46 penerima manfaat revitalisasi bangunan tempat tinggal dari program "SamsungCare" di Pulau Bangka. ( Foto: Samsung Electronics Indonesia / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Rabu, 29 Mei 2019 | 10:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Samsung Electronics Indonesia bekerja sama dengan Habitat for Humanity (HFH) Indonesia, mengimplementasikan program SamsungCare: Building Homes and Community for Hope. Program revitalisasi dan pengembangan komunitas ini dilaksanakan selama tiga tahun di dua desa, Pulau Bangka, yaitu Desa Penagan dan Pangkal Pinang.

“Kami selalu berusaha terlibat langsung dalam pembangunan komunitas, melalui inovasi dan teknologi, untuk membawa perubahan positif bagi masyarakat Indonesia. Sebelumnya di Desa Penangan, fasilitas umum air bersih dan sanitasi sangatlah terbatas, masyarakat harus berjalan kurang lebih 3 km untuk mendapatkan air dari sumber utama untuk kebutuhan sehari-hari," ujar Kang Hyun Lee, Vice President Corporate Business and Corporate Affairs Samsung Electronics Indonesia.

Di Desa Penagan, sebanyak 46 unit rumah telah dibangun hingga April 2019 dari total 108 unit rumah yang direncanakan, 98 akses air bersih, 1.132 meter saluran pembuangan juga telah dibangun dari 970 meter yang direncanakan. Ada pula dua unit fasilitas umum air bersih dan sanitasi yang akan bermanfaat bagi 200 keluarga lainnya.

"Dengan pembangunan dua unit fasilitas umum air bersih dan sanitasi, ditambah juga 98 akses air bersih untuk 98 keluarga dan 1.132 meter saluran pembuangan, masyarakat Desa Penagan semakin mudah mendapatkan air bersih dan memiliki lingkungan lebih higienis. Dari 108 rumah yang direncanakan, telah dibangun 46 rumah layak huni yang telah diserahterimakan kepada penerima manfaat," paparnya.

Smart Learning Class

Sementara itu, di Pangkal Pinang pembangunan Samsung Smart Learning Class (SSLC) akan segera dimulai tahun ini sebagai komitmen Samsung dalam berkontribusi pada kemajuan pendidikan di Indonesia.

"Kami terus melanjutkan program ini untuk memberikan harapan baru bagi warga atas terbukanya lebih banyak kesempatan dalam menciptakan masa depan dan kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.

SSLC mendorong penggunaan teknologi pada kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan penerima manfaat adalah SMA Santo Yoseph Bangka di bawah naungan Yayasan Tunas Karya.

SSLC merupakan inisiasi Samsung kepada para guru dan murid dengan mengoptimalkan teknologi dan gadget untuk memberikan pengalaman belajar mengajar yang lebih inovatif, kreatif dan menyenangkan sehingga dapat menginspirasi para murid untuk mengejar mimpi dan cita-cita mereka.

Sebelum para penerima manfaat mendapatkan kesempatan untuk merenovasi bangunan tempat tinggalnya, rumah mereka masih belum memenuhi standar kelayakan huni yang memadai, seperti lantai yang masih beralas tanah, pondasi yang tidak kuat, atap yang bocor, tembok masih terbuat dari bambu, dan sanitasi yang tidak layak.

Kini, sebanyak 46 keluarga di Penagan telah menerima perbaikan bangunan rumah yang lebih layak huni yang mengikuti standar global yang ditetapkan oleh HFH, yaitu standar konstruksi dengan ketahanan.

Sesuai rekomendasi pemerintah dan HFH, bangunan rumah ini juga memiliki ketersediaan akses dan kuantitas air bersih yang memadai, sanitasi yang baik, serta desain rumah dengan luas kamar minimal 3,5 m2/orang dan memiliki minimum dua ruang.

Wasdi dan Munawati adalah warga yang mendapat renovasi rumah yang bekerja sebagai petani, dulu mereka kesulitan menabung untuk biaya pendidikan anaknya karena hasil kerja yang selalu terpakai untuk memperbaiki rumah.

Namun saat ini mereka dapat mengatur prioritas dengan lebih baik, karena dengan kondisi rumah yang sudah layak, upah hasil kerja dapat mereka sisihkan untuk kepentingan lainnya. Selain Wasdi dan Munawati, ada juga Saparudin yang menempati rumah bersama istrinya, Hamidah.

“Sebelum direnovasi, murid-murid saya selalu terganggu dengan banyaknya binatang dari dalam tanah dan serangga, sehingga lama-kelamaan murid saya semakin sedikit,” jelas Saparudin.

Saparudin adalah seorang pengajar Al-Quran dan membuka rumahnya untuk anak-anak di lingkungannya untuk mempelajari Al-Quran bersamanya.

“Kondisi rumah kini lebih layak dan nyaman untuk menerima murid. Saya yakin anak-anak senang dan akan lebih banyak anak datang belajar,” tuturnya.

Program ini disambut baik tidak hanya oleh Wasdi-Munawati atau Saparudin-Hamidah. Banyak penerima manfaat lainnya yang juga menyatakan mengalami peningkatan kualitas hidup yang signifikan, seperti privasi anta ranggota keluarga dan peningkatan kesehatan.

SamsungCare

Dalam proses pelaksanaan program "SamsungCare: Building Homes and Community for Hope" ini, pemilik rumah juga berkontribusi dalam pembangunan rumahnya sendiri, dengan ikut membangun rumahnya secara swadaya, setidaknya selama 400 jam.

Hal ini merupakan implementasi dari pendekatan pembangunan yang bertumpu pada masyarakat (community based development approach) yang identik dengan kesadaran, keterlibatan, dan kemandirian masyarakat bagi pembangunan mereka sendiri. Dengan cara ini, masyarakat dibina untuk dapat membuat keputusan sesuai kebutuhan mereka masing-masing.

Selain itu, Samsung dan HFH juga memberikan pelatihan dasar kepada masyarakat untuk mendirikan bangunan dan edukasi mengenai sanitasi air dan kebersihan. Ke depan, masyarakat bisa memiliki kemandirian untuk membangun dan menjaga kelayakan rumahnya dan dapat memperbaiki kualitas kehidupannya.

Samsung Electronics dan HFH telah bermitra bersama sejak 2013, mendukung berbagai proyek di tujuh negara termasuk Vietnam dan Nepal.

Di Indonesia, selain di Bangka, pada tahun 2016 Samsung bersama HFH, telah melakukan program pengembangan masyarakat di desa Rowosari, Jawa Tengah dengan membangun 31 rumah layak huni, Samsung Smart Library, dan balai warga.



Sumber: Suara Pembaruan