UGM-WWF Indonesia Bentuk Komite Indeks Keanekaragaman Hayati

UGM-WWF Indonesia Bentuk Komite Indeks Keanekaragaman Hayati
Salah satu diantara populasi Badak Jawa yang berada di Ujung Kulon hanya tersisa 63 individu, dengan populasi 36 jantan dan 27 betina. ( Foto: WWF Indonesia )
Fuska Sani Evani / FMB Kamis, 30 Mei 2019 | 10:12 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Fakultas Biologi UGM bekerja sama dengan Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) dan Yayasan WWF Indonesia menginisiasi pembentukan komite Indeks Biodiversity Indonesia yang bertugas menghimpun data kenekaragaman hayati Indonesia sebagai salah satu pedoman kebijakan pembangunan keberlanjutan untuk konservasi kekayaan hayati.

Menurut Dekan Fakultas Biologi UGM Dr Budi Daryono dalam Diskusi KOBI dan WWF yang berlangsung di ruang sidang Fakultas Biologi UGM, Rabu (29/5/2019), Indonesia dikenal oleh dunia sebagai negara megabiodiversity dengan keunikan alam dan beragam budaya. Namun dalam pengelolaan aset keanekaragaman hayati, saat ini terjadi penurunan status keanekaragaman hayati akibat pertumbuhan penduduk dan peningkatan jumlah konsumsi, serta perdagangan beragam tumbuhan dan satwa liar sebagai salah satu komoditas.

Menurutnya untuk dapat memahami dengan baik status keanekaragaman hayati diperlukan indikator pengukuran yang konsisten. “Untuk menjawab hal itu diperlukan pendekatan pengukuran indeks keanekaragaman hayati,” katanya.

Menurutnya indeks keanekaragaman hayati indonesia (IBI) ini diharapkan bisa menjadi alat ukur yang menggambarkan status keanekaragaman hayati dengan target pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. ”Metode yang dikembangkan mengacu pada living planet index yang telah digunakan sebagai alat ukur kenekaragaman hayati global,” ujar Budi yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum KOBI.

CEO Yayasan WWF Indonesia Rizal Malik mengatakan terjadi jumlah penurunan signifikan dari kenekaragaman hayati Indonesia dari tahun 1970 hingga 2014. Meski demikian penurunan keanekaragam hayati ini belum menjadi perhatian media, pemerintah dan pihak lembaga internasional. Tidak hanya di Indonesia menurutnya, penurunan keanekaragaman hayati ini terjadi secara global. “Baru-baru ini saja seolah dunia menaruh perhatian setelah ada laporan bahwa lebih dari satu juta spesies yang telah punah,” katanya.

Ia sepakat bahwa diperlukan adanya alat ukur untuk mengetahui keadaan jumlah keanekaragaman hayati di tanah air melalui Indeks Biodiversity Indonesia. Sebab menurutnya belum ada gambaran secara nasional mengenai keadaan biodirversitas. ”Kita mengajak banyak pihak untuk terlibat termasuk KOBI, NGO, dan pihak lain seperti kementerian terkait,” katanya.

Ia berpendapat apabila terdapat data Indeks Biodiversity Indonesia maka bisa menjadi pedoman bagi para pengambil kebijakan dalam melaksanakan program pembangunan nasional secara berkelanjutan.

Peneliti WWF Indonesia, Thomas Barano, mengatakan saat ini terjadi tren penurunan populasi per taxa pada populasi kelompok ikan, amfibi, mamalia dan burung. Tidak hanya itu, di beberapa daerah tertentu terdapat spesies yang sudah terancam punah. “Misalnya spesies gajah di daerah tertentu sudah punah,” ujarnya.

Dengan inisiasi pembentukan Indeks Biodiversity ini menurutnya bisa menjadi dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan keanekaragaman hayati dalam suatu kawasan dan wilayah yang didukung dengan kebijakan perlindungan untuk spesies langka dan terancam punah. “Biodiversitas adalah aset negara sehingga perlu dikelola dan dipelihara dengan baik,” katanya.

Di sela kegiatan diskusi soal keanekaragaman hayati ini juga dilaksanakan penandatanganan nota kesepahaman bersama antara Fakultas Biologi UGM dengan Yayasan WWF Indonesia dalam kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat untuk bidang lingkungan hidup.



Sumber: Suara Pembaruan