Pertemuan Menteri Lingkungan Hidup G-20 di Jepang Bahas Penanganan Sampah Plastik

Pertemuan  Menteri Lingkungan Hidup G-20 di Jepang Bahas Penanganan Sampah Plastik
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK)Siti Nurbaya dalam jumpa pers dengan para wartawan Jepang yang meliput acara G20 Ministerial Meeting on Energy Transition and Global Environment for Sustainable Growth di Karuizawa, Jepang. ( Foto: Istimewa )
Jeis Montesori / LES Minggu, 16 Juni 2019 | 22:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Para menteri lingkungan hidup anggota negara-negara G-20 menggelar pertemuan di Kota Karuizawa, Prefektur Nagano, Jepang, pada 15-16 Juni. Pertemuan tersebut salah satunya membahas penanganan sampah plastik laut agar lebih terkoordinasi dan efektif .

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) , Siti Nurbaya, Minggu (16/6/2019) mengatakan hal tersebut dalam jumpa pers dengan para wartawan Jepang yang meliput acara G20 Ministerial Meeting on Energy Transition and Global Environment for Sustainable Growth.

Selaku Ketua Delegasi Indonesia untuk Bidang Lingkungan Hidup, Menteri Siti menegaskan, penanganan sampah terkait dengan mandat Undang-undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa setiap warga negara Indonesia berhak atas lingkungan hidup yang sehat.

“Selain legal basis yang telah disiapkan, keterlibatan komunitas dan para pihak, seperti kaum perempuan dan remaja, merupakan kendaraan utama dalam penanganan sampah,” tegas menteri Siti.

Lebih jauh disampaikan oleh Menteri Siti bahwa peran masyarakat, pemerintah daerah dan LSM di antaranya telah mampu menghasilkan 7.000 unit bank sampah dan menjangkau lebih dari 1 juta rumah tangga dalam penanganan sampah nasional.

Pada kesempatan tersebut Menteri Siti membeberkan beberapa inisiatif penanganan sampah a la Indonesia seperti pembayaran jasa angkutan umum menggunakan botol plastik di Surabaya, peningkatan tanggung jawab produsen dan para pemangku lainnya (Extended Producer Responsibility/EPR), sebagaimana dirintis oleh Packaging and Recycling Alliance for Indonesia Sustainability (PRAISE) dalam mendorong tanggung jawab semua stakeholders, dan kampanye Reduce, Reuse, Recycle (3R) bersama masyarakat.

Merespon pertanyaan terkait impor ilegal sampah plastik, Menteri Siti menyatakan bahwa Indonesia menindak tegas pelanggaran lingkungan hidup terkait sampah seperti kasus pengiriman limbah sampah ke Indonesia. Kasus di Surabaya dan Batam baru-baru ini menunjukkan bahwa Indonesia bertindak tegas atas isu perdagangan sampah ilegal.

Sampah Laut di Bali
Menjawab salah satu pertanyaan terkait dengan penanganan sampah laut di Bali, Menteri Siti menyatakan bahwa sudah ada inisiatif masyarakat untuk mengolah sampah di tempat dan telah ada peran aktif perusahaan-perusahaan swasta besar untuk mendukung gerakan bebas sampah laut.

Inisiatif di 19 kabupaten/kota lain di Indonesia dalam upaya mengatasi plastic sekali pakai juga terus berkembang dan diharapkan akan terus meluas, mengingat Indonesia sebagai negara besar dan span of control yang jauh dan tidak mudah.

Menyinggung kerja sama penanganan sampah antara Indonesia dan Jepang, menteri Siti menjelaskan bahwa selama ini telah terjalin kerja sama teknis dengan pemerintah Jepang dalam pengembangan basis data dan teknologi pengelolaan sampah padat, terutama sampah rumah tangga. Yang perlu dikembangkan kemudian adalah sistem pemantauan dan alih teknologi pengelolaan sampah terpadu.

 



Sumber: Suara Pembaruan