Indonesia Bebas dari Gelombang Panas Timur Tengah

Indonesia Bebas dari Gelombang Panas Timur Tengah
Ilustrasi gelombang panas. ( Foto: Times of India )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Selasa, 2 Juli 2019 | 13:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Baru-baru ini di sejumlah negara mengalami gelombang panas (heatwave) yang ditandai naiknya suhu. Indonesia dipastikan tidak mengalami dampak gelombang panas itu. Namun, berdasarkan skenario diperkirakan beberapa tahun mendatang suhu di sejumlah wilayah Indonesia akan naik sekitar 0,2-0,3 derajat celcius (C).

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Herizal mengatakan, tren kenaikan temperatur udara dekat permukaan bumi salah satu dampak dari perubahan iklim.

"Dampak lain dari perubahan iklim, kenaikan muka laut, susutnya es di kutub, berkurangnya volume gunung es, dan meningkatnya frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem," katanya di Jakarta, Senin (1/7).

Suhu panas yang mencapai lebih dari 50 derajat celsius sangat kecil peluangnya terjadi di wilayah Indonesia. Berdasarkan catatan historis, suhu maksimum di Indonesia belum pernah mencapai 40 derajat celcius. Suhu tertinggi yang pernah tercatat di Indonesia adalah sebesar 39,5 derajat celsius pada 27 Oktober 2015 di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Berdasarkan hasil simulasi proyeksi iklim multi model menggunakan skenario Representative Concentration Pathway (RCP) 4.5, pada periode 2020-2030, rata-rata wilayah daratan di Indonesia akan lebih panas 0,2 - 0,3 derajat celsius dibandingkan dengan rata-rata suhu udara pada periode 2005-2015.

Pada periode 2020-2030, wilayah-wilayah yang diproyeksikan akan mengalami kenaikan suhu tertinggi terjadi di sebagian Sumatera Selatan, bagian tengah Papua dan sebagian Papua Barat.

"Untuk mengantisipasi suhu udara permukaan yang semakin panas di masa yang akan datang, yang disebabkan oleh fenomena global warming, perlu adanya upaya adaptasi dan mitigasi," ujarnya.

Herizal menjelaskan, penyebab perubahan iklim adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca karena aktivitas pembangunan yang banyak bertumpu pada energi karbon, seperti minyak bumi dan batu bara.

Upaya mitigasi perlu melibatkan masyarakat seperti menghemat penggunaan energi, biasakan naik kendaraan publik, jika menggunakan kendaraan pribadi hendaknya berbagi dengan yang lain. Matikan lampu atau alat elektronik lain yang tidak digunakan.

"Mulai mencoba untuk menggunakan energi yang dapat diperbarukan seperti energi matahari, angin, biogas dan energi terbarukan lainnya," ucap Herizal.

Sedangkan adaptasi adalah menyesuaikan kegiatan sesuai dengan perubahan iklim yang terjadi. Misalnya di sektor pertanian, salah satu sektor yang terpapar perubahan iklim. Para petani harus menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim yang ada dan memilih bibit yang disesuaikan dengan kondisi iklim yang telah berubah.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ruandha Agung Sugardiman menyebutkan, untuk mengetahui kondisi temperatur antara tahun 2020-2030, perlu dilakukan koordinasi dengan BMKG dan para pakar bagaimana prediksi proyeksi perubahan iklim di Indonesia.

Apabila terjadi iklim ekstrem seperti lebih kering atau panas, maka adaptasi yang diperlukan untuk masyarakat antara lain adalah mencari alternatif tanaman pangan yang lebih tahan kekeringan.

"Perlu pula antisipasi kekurangan air dengan membuat embung dan sumur resapan, memanen air saat hujan, menjaga gambut tetap basah agar tidak mudah terbakar," paparnya.

Selain itu perlu pula menjaga badan dari dehidrasi dan heat stroke dengan sering minum air, membangun rumah yang lebih adaptif terhadap suhu panas, lebih banyak menanam tanaman agar dapat meredam panas dan memperbaiki iklim mikro.



Sumber: Suara Pembaruan