Minyak Sawit Mulai Dilirik Sebagai Energi Bersih Terbarukan

Minyak Sawit Mulai Dilirik Sebagai Energi Bersih Terbarukan
Ilustrasi Kelapa Sawit ( Foto: B1/Danung / B1/Danung )
Ari Supriyanti Rikin / FER Selasa, 16 Juli 2019 | 22:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia mulai melirik potensi minyak sawit untuk dijadikan bahan bakar terbarukan yang ramah lingkungan. Minyak sawit akan didorong menjadi salah satu dari banyak opsi energi terbarukan. Pasalnya, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia setiap tahun mengalami peningkatan. Sayangnya pemenuhan bahan bakar yang bersumber dari fosil ini masih dipenuhi dari impor.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan, perkiraan kelebihan pasokan (oversupply) crude palm oil (CPO) sawit dan ancaman larangan penggunaan minyak sawit di Eropa dan Amerika, mendorong diversifikasi penggunaan BBM berbasis minyak sawit, sebagai energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Dorongan pemanfaatan minyak sawit dan biomassa dari sawit ini juga sekaligus untuk mengurangi impor dan memperbaiki neraca perdagangan Indonesia. Selain itu, juga memberikan perlindungan dan kesejahteraan petani, pekerja sawit beserta keluarganya yang jumlah mencapai 17 juta jiwa.

"Kebutuhan BBM kita 1,3 juta barel per hari dipenuhi dari kilang dalam negeri 910.000 barel per hari dan impor 370.000 barel per hari serta biodiesel 50.000 barel per hari," kata Hammam Riza di sela-sela Workshop Pemanfaatan Minyak Sawit untuk Green Fuel di Jakarta, Selasa (16/7/2019).

Oleh karena itu, lanjut Hammam, harus ada upaya untuk mengurangi impor dengan melakukan diversifikasi BBM dengan sumber energi lain terutama bahan bakar nabati atau green fuel. Saat ini, produksi CPO Indonesia sudah mencapai 44-46 juta ton dari lahan sawit seluas 14 juta hektare. Diprediksi pada tahun 2025 produksi sawit akan mencapai 51,7 juta ton.

"Sebuah pencapaian yang membanggakan, namun di sisi lain akan mengakibatkan oversupply, apalagi pada tahun 2030 ada ancaman pelarangan produk minyak sawit di Eropa secara total," ucap Hammam.

Hammam menambahkan, salah satu langkah strategi untuk mengurangi impor BBM dan sekaligus antisipasi oversupply CPO adalah penggunaan CPO untuk biofuel. Dari sisi teknologi, BPPT sudah menguasai biodiesel B20. Saat ini bahkan mengawal persiapan B30.

"Berdasarkan perhitungan Badan Litbang Kementerian ESDM, B30 akan mengurangi impor solar sebesar 8-9 juta kilo liter. Apabila dikalikan dengan harga indeks pasar (HIP) solar sebesar Rp 8.900 per liter, maka nilai penghematan impor solar mencapai Rp 70 triliun atau US$ 6 miliar," tandas Hammam.

Dalam workshop tersebut, hadir pula Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B Pandjaitan. Menurut Luhut, CPO sangat berkontribusi banyak kepada Indonesia setelah batubara. "Sawit memiliki peran sangat penting dalam perekonomian Indonesia," kata Luhut.

Namun demikian, tambah Luhut, perkembangan perkebunan kelapa sawit harus memperhatikan aspek lingkungan agar menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan.



Sumber: Suara Pembaruan