Lidah Mertua, Menyejukkan dan Mampu Menyerap 107 Sumber Polutan

Lidah Mertua, Menyejukkan dan Mampu Menyerap 107 Sumber Polutan
Lidah Mertua ( Foto: istimewa / istimewa )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Selasa, 6 Agustus 2019 | 15:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Polusi udara dipastikan terus meningkat jika emisi dari sumbernya tidak ditekan. Upaya menanam pun dilakukan hanya sebagai solusi tambahan dan bukan yang utama. Namun tanaman penyerap sumber polutan bisa ditanam sambil memperluas ruang terbuka hijau yang idealnya sebesar 20% dari luas kawasan permukiman dan bangunan.

Peneliti Bidang Ekofisiologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nuril Hidayati mengatakan, menanam adalah tindakan kuratif untuk polusi. Saat ini, lidah mertua (sansevieria) menjadi salah satu jenis tanaman yang sedang banyak diperbincangkan. Menurutnya, tanaman ini mampu menyerap 107 sumber polutan.

"Selain itu, tanaman ini mampu memproduksi oksigen (O2) sepanjang waktu. Berbeda dengan tanaman lainnya yang pada waktu pagi dan siang mengeluarkan oksigen namun malam hari mengeluarkan karbondioksida," katanya saat berbincang dengan SP di Jakarta, Senin (5/8).

Maka tak heran di dalam ruangan yang diberi lidah mertua akan terasa sejuk. Tanaman ini juga cepat dan mudah tumbuh, serta adaptif terhadap lingkungan yang tercemar.

Dari penelitian yang ada lanjutnya, lidah mertua memiliki senyawa yang dapat merombak polutan dan mengubahnya menjadi asam amino. Kemudian tanaman ini dapat berasosiasi dengan mikroba, mengubah toksik menjadi nontoksik. Lidah mertua mampu pula menyerap radiasi dari alat-alat elektronik di dalam ruangan.

Namun, Nuril mengingatkan, lidah mertua hanya cocok untuk diletakkan di dalam ruangan (indoor). Ketika diletakkan di luar ruangan, daya serap polutannya tidak akan optimal ketimbang jika tanaman ini diletakkan di dalam ruangan.

Selain lidah mertua, ada pula sirih gading yang juga khusus untuk ditanam di dalam ruangan. Tanaman ini mampu menyerap benzena 82% dalam waktu tiga hari, serta kloroform 75% dalam waktu tiga hari.

"Untuk di luar ruangan direkomendasikan tanaman yang umur panjang, perakaran kuat, tidak cepat ditebang, dan mudah diperoleh serta diperbanyak. Selain itu juga adaptif terhadap lingkungan yang tercemar dan memberi estetika," ucap Nuril.

Dari pengamatannya, polutan utama di perkotaan adalah karbon dioksida. Nuril menjelaskan untuk tanaman di luar ruangan, ia merekomendasikan tanaman buah, perkebunan, hutan kota, dan hutan industri. Untuk tanaman buah yang mampu menyerap polutan antara lain mangga, alpukat, durian, dukuh dan kecapi.

Kemudian, dari kelompok tanaman perkebunan ada kakao, karet, kopi, damar. Selanjutnya dari tanaman hutan kota ada ketapang, trembesi, nyamplung, akasia, dan gemelina (Arborea). Sementara untuk tanaman hutan industri ada jati, suren, akasia mangium, dan sorea.

Menurutnya, polutan di kota besar seperti Jakarta terdiri dari karbon dioksida (emisi dari kendaraan bermotor), karbon monoksida, toksik, benzena (dari kendaraan bermotor dan industri), formal dehida senyawa kimia dari asap rokok dan kloroform dari penjernih air.

"Tanaman memang punya daya serap luar biasa untuk serap polutan tetapi kadarnya bervariasi. Namun yang terpenting kurangi emisi dari sumbernya," katanya mengingatkan.

Nuril menyebut, upaya menekan sumber emisi ini bisa dilakukan dengan mengurangi pemakaian kendaraan bermotor, mengurangi penumpukan sampah dan menekan emisi buangan industri. Walaupun begitu, tanaman bisa membantu menyerap polutan.



Sumber: Suara Pembaruan