Puteri Indonesia Lingkungan 2019 Kampanye dan Edukasi Sampah Plastik

Puteri Indonesia Lingkungan 2019 Kampanye dan Edukasi Sampah Plastik
Puteri Indonesia Lingkungan 2019, Jolene Marie Rotinsulu turut ambil bagian dengan melakukan bersih-bersih di sepanjang sungai Pesanggrahan, Limo, Depok, Jawa Barat pada Selasa, 13 Agustus 2019. ( Foto: istimewa )
Iman Rahman Cahyadi / CAH Rabu, 14 Agustus 2019 | 09:55 WIB

Depok, Beritasatu.com - Sampah plastik, bukan saja menjadi masalah Indonesia, tetapi juga menjadi masalah dunia yang hingga kini belum juga terselesaikan. Prihatin dengan kondisi tersebut,  bersama komunitas Bocah Kali Pesanggrahan (bokap). Jolene juga mengunjungi Komunitas Penggiat Lingkungan Limo, Depok, Puteri Indonesia Lingkungan 2019, Jolene Marie Rotinsulu turut ambil bagian dengan melakukan bersih-bersih di sepanjang sungai Pesanggrahan, Limo, Depok, Jawa Barat pada Selasa (13/8/2019).

"Di sepanjang Sungai Pesanggrahan, saya banyak menemui sampah limbah rumahtangga, mulai dari sampah kantong plastik, streoform, bekas botol minuman. Bahkan saat kami berjalan lewat perahu karet, kepala saya terkena sampah plastik yang menempel di batang pohon yang menjulur ke sungai," ucap Puteri Indonesia Lingkungan 2019, Jolene Marie Rotinsulu yang merasa prihatin dengan kondisi sungai Pesanggrahan, Limo, Depok, Jawa Barat ini.

Menurut Jolene, Sungai Pesanggrahan seharusnya bisa menjadi destinasi wisata yang dapat dinikmati turis domestik maupun manca negara. Tak terkecuali menjadi pemasukan khas pemerintah setempat. Sayangnya, sungai yang subur ditumbuhi pepohonan rindang sepanjang bantaran sungai ini, dipenuhi sampah limbah rumahtangga.

"Sayang banget padahal air sungai Pesanggrahan masih cukup bersih, kalau saja masyarakat, mulai dari anak-anak remaja, usia dewasa dan orangtua nggak membuang sampah sembarangan, wah, bagus banget. Anak-anak masih banyak yang mandi di kali Pesanggrahan lho!" terang Jolene.

Di hari yang sama, Jolene juga mendatangi Komunitas Penggiat Lingkungan Limo. Komunitas yang memberdayakan bekas sampah, semisal kantong pelastik, koran bekas, botol bekas minuman, tutup, bungkus bekas kopi, bekas deterjen dan banyak lagi sampah lainnya. Sampah sampah plastik yang dihasilkan dari sungai dikumpulkan dan sebagian dibawa untuk diolah menjadi tas, dompet, tikar dan lainnya.

"Menarik banget. Saya langsung membuat dompet dari bekas kantong plastik. Keren-keren. Benda-benda yang dibuat memiliki nilai ekonomis. Saya bersyukur banget, ternyata ada orang-orang yang memperhatikan dan memanfaatkan sampah dan mendaur ulang menjadi benda yang punya nilai ekonomi," terangnya.

Tambah Jolene lagi, dirinya akan terus mengkampanyekan dan mengedukasi masyarakat agar dapat menggantikan penggunaan plastik dengan kantong ramah lingkungan.

"Saya akan terus mengkampanyekan dan mengedukasi masyarakat agar dapat menggantikan penggunaan plastik sekali pakai, meminta kepada pemerintah agar menageluarkan peraturan kepada pelaku industri agar dapat meminimalisir penggunaan plastik, kebijakan kepada pelaku usaha untuk tidak menggunakan plastik sekali pakai. Serta edukasi kepada kaum milenial untuk bergaya hidup yang ramah lingkungan." jelas joline.

Diakhir kegiatannya di Limo, Jolene juga mendatangi salah satu sekolah SD/SMP swasta di Limo Depok. Jolene memberikan edukasi kepada anak anak agar mulai membiasakan diri untuk ramah lingkungan, seperti membawa botol minum (Tumbler) dan makanan dari rumah, membuang sampah pada tempatnya, dan dapat memilah sampah organik dan non organik.

Tidak hanya sampai disitu, Jolene juga berencana untuk mensosialisasikan masalah sampah plastik kepada komunitas disablitas dan orang tua (jompo) tangguh. "Ya, pesan moralnya adalah mereka yang dengan keterbatasan saja peduli terhadap lingkungan, seharusnya kita harus lebih peduli lagi dong," tutup Jolene .



Sumber: BeritaSatu.com