BMKG Uji Coba 10 Sensor Peringatan Dini Gempabumi

BMKG Uji Coba 10 Sensor Peringatan Dini Gempabumi
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati (kedua kanan) dan perwakilan ICL Tiongkok dalam soft launching melakukan sistem peringatan dini gempabumi, di Jakarta, Kamis (15/8/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Ari Supriyati Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / FER Kamis, 15 Agustus 2019 | 19:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) didukung Institute of Care Life (ICL) Tiongkok memasang dan menguji coba 10 sensor earthquake early warning system (EEWS) atau sistem peringatan dini gempabumi.

Pemasangan EEWS ini merupakan era baru sistem peringatan dini gempabumi karena mampu menangkap dini gelombang P (pressure) 15 detik hingga puluhan detik sebelum akhirnya tiba gempa S (shear) yang guncangannya bersifat merusak.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan, sistem informasi ini akan memberikan informasi lebih dini sebelum gempa kuat melanda suatu kawasan.

Sistem peringatan dini yang ada saat ini untuk tsunami. Sistem peringatan dini ini sudah berjalan dan dalam waktu lima menit setelah gempa akan ada informasi apakah gempa berpotensi menyebabkan tsunami atau tidak.

"Sistem baru yang kita bangun ini adalah EEWS, sebelum gempa berguncang, paling tidak 15 detik hingga puluhan detik bisa ditangkap oleh sensor," kata Dwikorita Karnawati di sela-sela soft launching uji coba EEWS di Jakarta, Kamis (15/8).

Konsep EEWS bekerja dengan memanfaatkan selisih waktu tiba gelombang P yang datang lebih awal dan gelombang S yang datang beberapa detik kemudian.

EEWS memberikan peringatan dini berdasarkan prediksi waktu tiba gelombang S yang berpotensi menimbulkan guncangan signifikan dengan memanfaatkan gelombang P untuk memberikan sinyal peringatan. Peringatan ini akan dikirimkan ke Indonesia EEWS center (BMKG).

Selanjutnya data diolah secara otomatis dan hasilnya disebarkan ke penerima atau berbagai stakeholder melalui mobile application. Penerima atau receiver ini, juga dapat dipasang pada objek vital seperti kereta cepat, MRT, industri vital, pusat keramaian (mal), area permukiman dan perkantoran.

"Dengan diketahuinya potensi gelombang merusak lebih awal, masyarakat dapat mempersiapkan diri dengan melakukan penyelamatan diri, menghentikan sementara objek vital untuk mengurangi dampak bencana yang lebih besar," papar Dwikorita.

Tahap pertama uji coba di tahun 2019, 10 sensor EEWS akan dipasang di kawasan selatan Indonesia untuk memonitoring gempabumi di kawasan megathurst. Sensor akan dipasang di Banten, Jawa Barat, Lampung dan Sumatera Barat.

Jika uji coba berhasil akan ditambah pemasangan 190 EEWS di tahun 2020. Kerapatan jarak pemasangan sensor setiap 15 kilometer hingga puluhan kilometer. Sensor pun akan dirancang menangkap gempa dengan magnitudo di atas 5.



Sumber: Suara Pembaruan