Tokoh Adat: Listrik Bukan Hanya untuk Penerangan

Tokoh Adat: Listrik Bukan Hanya untuk Penerangan
Peta PLTA Batang Toru ( Foto: istimewa / istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Minggu, 18 Agustus 2019 | 16:10 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sejumlah tokoh adat di Sipirok, Marancar, Batangtoru (Simarboru), Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (Sumut), menyerukan kemerdekaan dari intervensi lembaga swadaya asing (LSM) asing soal pembangunan pembangkit energi terbarukan PLTA Batang Toru.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com, Minggu (18/8/2019), mereka meminta LSM yang kerap melakukan kampanye hitam terhadap pembangunan pembangkit listrik yang menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) itu berdialog agar memahami keadaan sesungguhnya di lapangan.

"Kampanye LSM asing itu ibarat kami yang punya rumah, tapi mereka yang melempari dengan batu dari luar,” kata salah satu tokoh adat, Raja Luat Sipirok Sutan Parlindungan Suangkupon Edward Siregar, dalam pernyataannya.

Edward menegaskan, masyarakat mendukung sepenuhnya pembangunan PLTA Batangtoru di wilayah Simarboru. "Keberadaan PLTA Batang Toru bisa menyediakan kebutuhan listrik yang vital bagi masyarakat demi peradaban yang lebih baik," tegasnya.

Menurut Edward, masyarakat Simarboru ingin mencapai peradaban yang setara dengan wilayah lain di Indonesia setelah 74 tahun Indonesia merdeka.

"Dengan listrik, anak-anak kami bisa belajar di malam hari. Akses informasi juga akan lebih terbuka. Jadi listrik ini bukan hanya untuk penerangan, tapi juga untuk peradaban," kata Edward.

Edward menambahkan, kesejahteraan masyarakat pun diyakini bisa lebih meningkat saat PLTA Batang Toru beroperasi. "Industri kerajinan tenun bisa bekerja lebih lama. Lapangan pekerjaan juga akan terbuka baik di proyek PLTA ataupun usaha-usaha lain yang tumbuh karena tersedianya pasokan listrik," pungkas Edward.

Sebagai informasi, PLTA Batang Toru merupakan bagian dari program penyediaan listrik 35.000 MW yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). PLTA itu bisa menghasilkan listrik hingga 510 MW dan bertipe peaker untuk menyangga hingga 15 persen saat beban puncak Sumut.

Saat ini, defisit listrik di Sumut diisi oleh pembangkit listrik berbahan bakar solar yang disewa dari luar negeri. Saat beroperasi tahun 2022, PLTA Batang Toru akan menghemat solar untuk pembangkit listrik tenaga diesel hingga US$ 400 juta atau sekitar Rp 5,6 triliun per tahun.

Pembangkit itu juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 1,6 juta-2,2 juta metrik ton CO2 per tahun. Jumlah itu mencakup empat persen dari target pengurangan emisi GRK secara nasional di sektor energi pada 2030.

 



Sumber: BeritaSatu.com