Tokoh Adat Simarboru Ajak LSM Asing Dialog Soal Orangutan

Tokoh Adat Simarboru Ajak LSM Asing Dialog Soal Orangutan
Orangutan Tapanuli. ( Foto: Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Sabtu, 24 Agustus 2019 | 18:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tokoh adat wilayah Sipirok, Marancar, Batangtoru atau Simarboru, Tapanuli Selatan mengajak LSM dan peneliti asing untuk berdialog karena dinilai telah merusak harmoni kehidupan masyarakat setempat dengan orangutan, yang telah berlangsung ratusan tahun.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com, Sabtu (24/8/2019), Raja Luat Sipirok Sutan Parlindungan Suangkupon Edward Siregar menyatakan, kampanye yang dilakukan sejumlah LSM bahwa kelestarian orangutan dan kehidupan masyarakat terancam akibat pembangunan PLTA Batang Toru adalah kebohongan. Keberadaan pembangkit listrik energi terbarukan itu malah diyakini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

"Kampanye LSM asing dan lokal yang menjadi kaki tangan dengan menggiring isu lingkungan dan orangutan merupakan hoax (bohong). Mereka menghalangi Indonesia soal kedaulatan energi,” kata Edward.

Edward menyatakan, pihak yang yang paling tahu bagaimana orangutan dan kondisi kehidupan masyarakat di Simarboru adalah warga setempat. Masyarakat Simarboru, sudah ratusan tahun hidup berdampingan dengan orangutan dan berbagi hasil kebun dengan satwa tersebut, tanpa ada permasalahan apapun. "LSM asing itu seharusnya berdialog dengan kami. Bukan malah teriak-teriak yang tidak benar di luar sana,” tambahnya.

Menurut Edward, kehadiran LSM asing dan kampanye-kampanye bohong yang dilakukan justru telah memprovokasi masyarakat. Padahal, mereka tidak memberi kontribusi aapun kepada orangutan yang ada di Simarboru.

"Kami sejak dulu memberi makan orangutan dari hasil kebun. Kami akan terus hidup berdampingan dan menjaga orangutan tanpa gangguan dari para orang dan LSM asing dengan kedok penelitian,” tegas Edward.

Raja Adat Marancar Baginda Kali Rajo Yusuf Siregar menyatakan, masyarakat setempat berharap banyak pada pembangunan PLTA Batang Toru. Proyek listrik terbarukan yang menjadi bagian Proyek Strategis Nasional (PSN) Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu diyakini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Menurut Yusuf, proyek PLTA itu akan membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat. Selain itu, PLTA Batang Toru juga akan menyediakan listrik secara berkesinambungan bagi masyarakat setempat.

"Masyarakat di Jawa sudah kerepotan saat listrik mati sebentar. Apalagi kami yang seringkali mati listrik. Kami berharap listrik yang tidak sering padam," jelas Yusuf.

Yusuf menuturkan, ketersediaan listrik berarti masyarakat bisa menenun kain meski matahari sudah terbenam. Anak-anak Simarboru pun bisa belajar di malam hari. Akses informasi pun akan lebih terbuka karena ketersediaan listrik masyarakat bisa tersmabung dengan dunia luar melalui internet. "Kami juga ingin anak-anak kami menjadi orang pintar," tegas Yusuf.

PLTA Batang Toru merupakan bagian dari program penyediaan listrik 35.000 MW yang dicanangkan Presiden Joko Widodo. PLTA itu bisa menghasilkan listrik hingga 510 MW dan bertipe peaker untuk menyangga hingga 15 persen saat beban puncak Sumatera Utara (Sumut). Saat ini, defisit listrik di Sumut diisi oleh pembangkit listrik berbahan bakar solar yang disewa dari luar negeri.

Saat beroperasi tahun 2022, PLTA Batang Toru akan menghemat solar pembangkit listrik tenaga diesel hingga US$ 400 juta atau Rp 5,6 triliun per tahun.

Pembangkit itu juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 1,6 juta hingga 2,2 juta metrik ton CO2 per tahun. Jumlah itu mencakup 4 persen dari target pengurangan emisi (GRK) secara nasional di sektor energi pada 2030.



Sumber: BeritaSatu.com