Ombudsman Temukan Ikan Mati Terpapar Pencemaran Sungai Cileungsi

Ombudsman Temukan Ikan Mati Terpapar Pencemaran Sungai Cileungsi
Temuan ikan sapu-sapu yang mati akibat pencemaran berat di sungai Cileungsi oleh Ombudsman RI Perwakilan Jakarta Raya, 27 Agustus 2019. ( Foto: Ombudsman Jakarta )
Vento Saudale / HA Kamis, 29 Agustus 2019 | 12:08 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Ombudsman Perwakilan Jakarta Raya masih menemukan banyak ikan sapu-sapu yang mati di Sungai Cileungsi, diduga akibat pencemaran limbah perusahaan. Warna air berubah menjadi hitam pekat akibat pencemaran tersebut.

"Dampak pencemaran sungai, biasanya lebih terasa di musim kemarau, dan karena itu kami melakukan sidak pada hari Selasa kemarin,” kata Kepala Ombudsman Jakarta Teguh Nugroho mengkonfirmasi, Kamis (29/8/2019).

Dia mengatakan, sidak tersebut merupakan tindak lanjut atas tindakan korektif dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor sesuai arahan ombudsman pada akhir 2018.

Dalam observasi itu Ombudsman menyisir beberapa titik yang ditenggarai sebagai awal mula terjadinya pencemaran, yaitu di jembatan Wika, Jembatan Narogong di wilayah perbatasan Kabupaten Bogor dan Kota Bekasi, serta Jembatan Pocong.

Di titik tersebut, ratusan ikan sapu-sapu terkapar, padahal biasanya tahan terhadap polutan dari pada limbah. Ini menunjukkan, pencemaran di Sungai Cileungsi yang berasal dari limbah kimia pabrik di sekitar wilayah tersebut sudah terlalu berat.

Karena itu, Ombudsman akan meminta data pemeriksaan kondisi air terakhir dari DLH Kabupaten Bogor dan Bekasi, serta mengecek keakuratan hasil pemeriksaan tersebut ke laboratorium, tempat dilakukannya pengecekan.

“Di titik terakhir kami menemukan ratusan ikan sapu-sapu mati di satu titik saja. Selain itu air Sungai Cileungsi menghitam, berbau dan berbusa” jelasnya.

Sebelumnya, Ombudsman sempat mengeluarkan LAHP kepada DLH Kabupaten Bogor pada Kamis 6 Desember 2018. Ombudsman menyebutkan, DLH Kabupaten Bogor bukan kecolongan lagi melainkan tidak mengawasi langsung 48 dari 2.600 perusahaan bermasalah izin lingkungan yang diduga mencemari Sungai Cileungsi.

Bahkan DLH Kabupaten Bogor dinilai tidak kompeten karena tidak memiliki personel Pejabat Lingkungan Hidup (PPLH) yang cukup untuk memantau di lapangan.



Sumber: BeritaSatu.com