Tekan Limbah Plastik. Siswa Kelas 11 Ini Kenalkan Bioplastik dari Rumput Laut

Tekan Limbah Plastik. Siswa Kelas 11 Ini Kenalkan Bioplastik dari Rumput Laut
Matthew Ryan usai mempresentasikan hasil penelitiannya dalam acara 4th Annual Applied Science and Engineering Conference (AASEC) pada 24 April 2019 di Bali dan akan dipublikasikan di bulan September 2019. ( Foto: istimewa )
Chairul Fikri / CAH Senin, 2 September 2019 | 20:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sejumlah peneliti dan pencinta lingkungan pun belakangan banyak melakukan riset dan penelitian untuk mencari alternatif penggunaan plastik yang ramah lingkungan. Hal ini untuk menekan pencemaran limgkungan akibat penggunaan sampah plastik yang sulit terurai oleh bakteri. Salahsatu yang juga turut peduli adalah Matthew Ryan Asali, siswa kelas 11 National High Jakarta School (NHJS).

Lewat sejumlah penelitian, Matthew dibantu sejumlah peneliti dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) berusaha mengembangkan bidegradable plastic atau bioplastik dengan memanfaatkan rumput laut sebagai bahan dasar yang dicampur dengan pati dari limbah buah-buahan untuk memperkuat mechanical strength dari bioplastik tersebut.

"“Pertama-tama, kami memilih rumput laut karena Indonesia adalah produsen rumput laut terbesar ke dua didunia , dan yang kedua memanfaatkan biji dari limbah buah buahan yang sangat berlimpah di negara kita yaitu biji buah alpukat, biji buah nangka dan biji buah durian sebagai sember pati," jelas Matthew dalam keterangan pers, Senin (2/9/2019).

Ditambahkan Ryan, ide penelitian untuk polimer yang dapat terurai ini menggunakan rumput laut dari jenis Eucheuma Cottonii yang diperoleh dari Desa Wainyapu di Sumba Barat saat dirinya berkunjung kesana 2018 lalu.

"Saat saya melakukan kunjungan ke pulau Sumba tahun 2018 lalu, saya melihat potensi rumput laut bagi perekonomian setempat, jadi riset ini kelak juga bisa membantu ekonomi masyarakat kecil. Saat itu saya menemukan fakta bahwa kombinasi rumput laut dengan pati yang berasal dari biji buah durian yang memiliki jumlah pati tertinggi dan jika digabung dengan rumput laut, mampu menghasilkan bioplastik yang mempunyai mechanical characteristic yang paling tinggi, paling kedap air, mempunyai kemampuan terurai yang tercepat dibandingkan dengan biji buah nangka dan biji buah alpukat.," tuturnya.

Pengujian material tersebut masih dalam bentuk lapisan film bioplastik, dan belum berupa struktur seperti kantong maupun kemasan plastik.

"Ini yang akan kita coba terus apllikasikan dimasyarakat dimana dengan teknologi bioplastik ini akan bisa menghasilkan bahan untuk kemasan yang ramah lingkungan dan mudah teruai oleh bakteri tidak seperti plastik yang digunakan pada umumnya," tandasnya.

Hasil lengkap penelitian ini telah dipresentasikan dalam acara 4th Annual Applied Science and Engineering Conference (AASEC) pada 24 April 2019 di Bali dan akan dipublikasikan di bulan September 2019.



Sumber: BeritaSatu.com