Potensi Pengelolaan Sampah Plastik Lewat Ekonomi Sirkular

Potensi Pengelolaan Sampah Plastik Lewat Ekonomi Sirkular
Kiri ke kanan: Sekretaris Jenderal Indonesian Plastics Recyclers (IPR) atau Perkumpulan Pelaku Daur Ulang Plastik Indonesia Wilson Pandhika, Director Public Affairs & Communication Coca-Cola Indonesia Triyono Prijosoesilo, Direktur Sustainable Waste Indonesia (SWI) Dini Trisyanti, bersama-sama melihat produk yang terbuat dari sampah plastik botol yang telah diberikan nilai tambah (upcycling) menjadi sebuah tempat sampah yang berguna, di Jakarta, Selasa (3/9/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Indah Handayani )
Indah Handayani / FER Selasa, 3 September 2019 | 18:27 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Isu sampah plastik semakin berkembang dan merupakan persoalan yang membutuhkan sebuah solusi untuk mengatasi permasalahan ini secara bersama. Salah satu pendekatan untuk manajemen sampah adalah dengan pendekatan circular economy atau ekonomi sirkular.

Public Affairs and Communications Director Coca-Cola Indonesia (CCI), Triyono Prijosoesilo, mengatakan pandangan umum terhadap kemasan plastik bekas pakai adalah bagian dari sampah. Namun, bagi sebagian pihak sampah ini adalah bagian dari pendapatan untuk kehidupan mereka.

"Alasannya, dibalik kemasan plastik bekas pakai mampu meningkatkan kualitas hidup manusia," ungkap Triyono di Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Triyono mengatakan, langkah-langkah pengelolaan terpadu circular economy dalam pengelolaan sampah di Indonesia menggunakan prinsip 3R (reduce-reuse-recycle) dapat menjadikan plastik kemasan bekas pakai memiliki hidup kedua serta menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang.

"Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 269 juta jiwa berperan penting dalam hal mempercepat penerapan circular ekonomy terutama di kawasan Asia," tandas Triyono.

Direktur Sustainable Waste Indonesia (SWI), Dini Trisyanti, menyampaikan kini pemerintah semakin giat memaksimalkan penerapan 3R demi perbaikan pengelolaan sampah yang lebih baik di Indonesia.

"Secara hirarki, reduce adalah prioritas pertama sebelum reuse dan recycle. Namun penerapan hirarki ini diluar konteks kesadaran individu, apalagi dalam bentuk kebijakan publik," kata Dini.

Sekretaris Jenderal Indonesian Plastics Recyclers (IPR) atau Perkumpulan Pelaku Daur Ulang Plastik Indonesia, Wilson Pandhika, menambahkan, beberapa perusahaan daur ulang Indonesia telah mulai mengembangkan resin daur ulang bermutu tinggi untuk menjawab kebutuhan industri daur ulang.

"Meskipun industri ini menghadapi banyak tantangan, prospeknya positif dan ada gerakan yang tumbuh yang dapat membantu mengatasi masalah tersebut," kata Wilson.

Menurut Wilson, pekerja di sektor industri kelola sampah telah menyerap jutaan pekerja. Banyak pihak yang bergantung pada industri daur ulang, salah satunya ialah pemulung, yang menggantungkan hidupnya pada tumpukan sampah plastik. Besarnya kebutuhan plastik menunjukkan bahwa peluang bisnis industri daur ulang sangat besar. Tidak hanya itu, potensi rupiah yang dihasilkan dari daur ulang plastik selama ini relatif baik dan menarik.

"Hal tersebut terlihat dari industri dan ekosistemnya yang telah ada lebih dari 30 tahun memberikan lapangan pekerjaan dan menghidupi banyak orang di Indonesia," jelas Wilson.



Sumber: Investor Daily