Ekonomi Sirkular Jadi Kunci Keberhasilan Pengelolaan Sampah

Ekonomi Sirkular Jadi Kunci Keberhasilan Pengelolaan Sampah
Konferenai pers Praise yang merupakan gabungan dari enam perusahaan di Indonesia yaitu Coca Cola, Danone, Indofood, Nestle, Tetra Pak dan Unilever kerjasama dengan Mckinsey.org menginisiasikan program Bali Bersih di Jakarta, Kamis (12/9). ( Foto: Beritasatu Photo / Indah Handayani )
Indah Handayani / FER Kamis, 12 September 2019 | 20:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Usaha daur ulang merupakan salah satu wujud sirkular ekonomi secara bertanggung jawab di Indonesia. Namun, usaha daur ulang tersebut akan mengalami kendala tanpa proses pemilahan sampah yang benar.

Hal itu telah dibuktikan oleh Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment atau Asosiasi Kemasan dan Daur Ulang Untuk Lingkungan Berkelanjutan di Indonesia (PRAISE) yang merupakan gabungan dari enam perusahaan di Indonesia yaitu Coca Cola, Danone, Indofood, Nestle, Tetra Pak dan Unilever melalui inisiasi program Desa Kedas di Bali sebagai proyek percontohan Bali Bersih.

Perwakilan Praise, Sinta Kaniawati, mengatakan program Desa Kedas yang bekerja sama dengan Mckinsey.org bertujuan untuk membangun program komunitas yang berkelanjutan dalam rangka membantu lingkungan dan perkotaan mengatasi permasalahan sampah kemasan yang mereka hadapi melalui ekonomi sirkular.

"Metode ekonomi sirkular bisa memungkinkan sampah kemasan memiliki daya guna dan nilai ekonomis. Berdasarkan laporan dari Ellen MacArthur, tanpa pemahaman ekonomi sirkular, 95 persen nilai ekonomis bahan kemasan termasuk plastik sekali pakai akan hilang. Sebaliknya, dengan landasan ekonomi sirkular, 53 persen sampah contohnya di Eropa bisa di daur ulang dan menghasilkan uang," ungkap Sinta di Jakarta, Kamis (12/9/2019).

Lebih lanjut, Sinta menjelaskan, melalui program Bali Bersih, pihaknya telah membuktikan bahwa pengolahan sampah akan berhasil dengan menggunakan sistem ekonomi sirkular apabila ada keterlibatan dari extended stakeholder responsibility.

"Perubahan perilaku terkait 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dapat tercapai melalui edukasi berkelanjutan, serta keterlibatan pemerintah baik melalui peraturan ataupun penyediaan sarana dan prasarana," jelasnya.

Menurut Sinta, Bali Bersih bisa menjadi percontohan intervensi untuk peningkatan dari TPS3R serta TPS di Indonesia dalam pengelolaan sampah yang lebih baik. Pihaknya berharap berjalannya program ini bisa memberikan pandangan baru bagi masyarakat dalam hal kemasan paska konsumsi yang bisa memiliki nilai ekonomi apabila bisa dikelola dengan baik.

"Untuk itu, diperlukan kolaborasi yang lebih menyeluruh dari semua pihak agar kita bisa mendukung target Jakstranas yang sudah dicanangkan pemerintah," tandas Sinta.

Global Executive Director, Sustainable Communities at McKinsey.org, Shannon Bouton, mengatakan solusi bagi persoalan sampah di Indonesia dapat dimulai dari perbaikan sistem pengangkutan sampah dan pengembangan pasar daur ulang. Bahan daur ulang yang sudah dikumpulkan perlu sebanyak mungkin kembali digunakan untuk tujuan produktif.

"Itulah sebabnya kami membentuk Desa Kedas, yang merupakan kolaborasi antara program Praise Bali Bersih dan program global McKinsey.org, Rethinking Recycling," jelas Shannon Buoton.



Sumber: Investor Daily