3 Perusahaan Ketahuan Impor Ratusan Kontainer Limbah Berbahaya

3 Perusahaan Ketahuan Impor Ratusan Kontainer Limbah Berbahaya
Petugas membuka kontainer yang di import oleh perusahaan importir nakal yang berisi limbah B3 di lapangan TPK Koja, Pelabuhan Tanjung Priok, Kota Jakarta Utara pada Rabu (18/9/2019) siang. ( Foto: Suara Pembaruan / Carlos Roy Fajarta )
Carlos Roy Fajarta / FMB Rabu, 18 September 2019 | 17:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melakukan pembukaan terhadap sembilan kontainer dari total keseluruhan 142 kontainer yang berisi limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Terminal TPK Koja, Kota Jakarta Utara pada Rabu (18/9/2019).

Dirjen Bea dan Cukai, Heru Pambudi menyebutkan ada tiga perusahaan penerima fasilitas kawasan berikat di Tangerang yang melakukan pelanggaran dengan mengimpor limbah plastik bercampur sampah dan limbah B3.

"Ada tiga perusahaan yakni PT HI, PT NHI, dan PT ART. Tidak boleh saya sebutkan kepanjangannya dari perusahaan ini. Mereka bahkan ada yang mengimpor tanpa dokumen yang memenuhi syarat," ujar Heru di lokasi lapangan B01 TPK Koja tempat kontainer tersebut diletakkan.

Ia menyebutkan negara asal dari kontainer tersebut berasal dari Australia, Amerika Serikat, Spanyol, Belgia, Selandia Baru, Inggris, Hongkong, Belanda, Yunani, Prancis, dan Slovenia.

"Saat kita buka kontainer ini mengeluarkan cairan sisa makanan, dan air limbah B3. Kita melihat ada kelalaian dari surveyor yang melakukan pemeriksaan terhadap kontainer oleh surveyor kontainer dari negara asal muatan," tambah Heru.

Dikatakan Heru pembuangan limbah berbahaya bermodus muatan import yang tiba dengan kapal di Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Tanjung Perak, dan Pelabuhan Batam, dan Pelabuhan Tangerang sebanyak 2.041 kontainer hingga 17 September 2019.

Beberapa perusahaan nakal yang melakukan import sampah dan limbah B3 diantaranya yakni PT AS, PT MSE, PT SM, PT MDI, PT BM, PT PKI, PT AWP, PT TIS, PT HTUI,

Sementara itu, Direktur Verifikasi Pengelolaan limbah B3 dan Non Limbah B3 Dirjen Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 KLHK, Achmad Gunawan Widjaksono menyebutkan pihaknya tidak mau disebutkan kecolongan dengan kedatangan limbah B3 beracun tersebut pasalnya kedatangan barang impor tersebut merupakan wewenang instansi Bea Cukai dan pihak swasta terkait.

"Selama periode April hingga Agustus 2019 saja sudah ada 882 kontainer berisi skrap (benda yang di-press ) plastik dan kertas. Sebanyak 318 kontainer di antaranya mengandung limbah B3 yang berasal dari Pelabuhan Batu Ampar Batam dan Kawasan Berikat Banten," ujar Achmad.



Sumber: Suara Pembaruan