Terjadi Setiap Tahun, Karhutla Belum Bisa Dihentikan

Terjadi Setiap Tahun, Karhutla Belum Bisa Dihentikan
Kebakaran hutan dan lahan. ( Foto: Antara )
Asni Ovier / AO Minggu, 20 Oktober 2019 | 19:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia seolah-olah telah menjadi agenda tahunan yang kerap terjadi di musim kemarau. Meskipun pemerintah telah berupaya melakukan pencegahan dan penindakan terhadap pelaku pembakaran, peristiwa ini masih kembali terjadi setiap tahun, khususnya beberapa daerah di pulau Sumatra dan Kalimantan.

Menurut data, hingga saat ini terdapat lahan seluas 328.722 ha terbakar di Indonesia. Mayoritas titik api yang muncul berada di areal lahan gambut. Gambut merupakan lapisan tanah yang terbentuk dari bahan-bahan organik, seperti tumbuhan yang membusuk dan terdekomposisi dalam waktu yang cukup lama.

Budaya pembukaan lahan dengan cara membakar sebetulnya sudah ada sejak zaman nenek moyang zaman dahulu. Sekretaris Jenderal Dewan Adat Besar Krayan Hulu, Kalimantan Utara, Ghat Khaleb mengakui bahwa masyarakat di pedalaman melakukan pembakaran lahan, tetapi dalam area dengan luasan yang terbatas.

"Sekedar mencari makan untuk berkebun. Itu juga sangat terkendali. Meski warga membakar hutan, penduduk pedalaman sangat memperhitungkan kelestarian hutan. Lahan-lahan milik masyarakat sekadar untuk makan sehari-hari dan tidak untuk usaha besar," ujarnya, Minggu (20/10/2019).

Dikatakan, hutan bagi warga pedalaman ibarat tanjung kehidupan. Tanpa mengambil sebagian lahan hutan, mereka tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidup. "Cara ini telah ada sejak leluhur kami, ratusan tahun lalu,” ujarnya.

Petani sawit di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Ajew (24) mengatakan, masyarakat sekitar yang melakukan pembakaran lahan tidak pernah menyebabkan asap yang merugikan orang banyak. Mereka selalu membuat parit di tepian lahan yang dibakar untuk mencegah pembakaran melebar.

“Luasnya juga paling hanya sekitar satu hektare,” ujarnya. Selain itu, setiap membakar lahan selalu ada beberapa orang yang bersiaga di lokasi pembakaran untuk menghalau api membesar.

Meski demikian, Ajew merasa tidak bisa membenarkan juga aktivitas pembakaran lahan seperti itu, karena masih berisiko menimbulkan kebakaran lahan yang lebih besar. Tetapi, ujarnya, aktivitas seperti itu yang menghidupi dirinya, orangtua, dan kerabatnya selama ini sebagai pendatang di Kalimantan.

Kebakaran hutan dan lahan juga sangat erat kaitannya dengan perusahaan perkebunan. Meski tidak semua, tetapi ada sebagian perusahaan perkebunan yang selama ini telah menyumbang kabut asap akibat pembersihan lahan.

Tidak dapat dimungkiri bahwa perusahaan harus membabat hutan untuk membangun sebuah perkebunan. Karena biayanya yang mahal, tidak sedikit pengusaha mengambil jalan pintas membuka ratusan hektare lahan dengan cara dibakar.

Hasilnya memang cepat dan signifikan, tetapi dampak yang ditimbulkan sangat mengerikan, mulai dari kerusakan ekosistem hingga kabut asap berkepanjangan. Kebakaran hutan di mata sebagian perusahaan perkebunan menjadi hal yang mendapatkan perhatian khusus.

Seperti yang dilakukan oleh PT Multi Kusuma Cemerlang (MKC) di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Kepala Bidang Konservasi PT MKC, Rohimanfir mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk menjaga kelestarian dan mencegah kerusakan ekosistem alam yang diakibatkan oleh pembakaran lahan hingga penebangan liar.

"Salah satu bentuk konkret pencegahan kebakaran hutan dan lahan ini, antara lain adalah disediakannya kendaraan dan alat pemadam kebakaran lengkap yang dimiliki oleh PT MKC,” ujarnya.

Rohimanfir juga mengatakan, tim pemadam kebakaran PT MKC bersama masyarakat melakukan pemadaman intensif terhadap lahan yang terbakar di sekitar perusahaan yang disebabkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Pada 22 September lalu, mereka menangkap seorang pelaku pembakaran lahan berinisial D (35), yang kemudian diserahkan ke Polsek Bengalon. Pelaku sudah diingatkan beberapa kali sebelum akhirnya diamankan ke kantor polisi.

Kondisi sebagian besar lahan gambut Indonesia yang sudah tidak lagi prima seharusnya menjadi perhatian berbagai pihak mengingat potensi kebakaran lahan di Indonesia sangat rentan terjadi di musim kemarau. Perbaikan ekosistem hutan dan lingkungan harus terus dilakukan, bukan hanya mengeksploitasi potensi sumber daya alam.

Jangan sampai peristiwa karhutla terus menjadi tamu tahunan yang terus menghantui sebagian masyarakat Indonesia bahkan hingga ke negri jiran. Semoga penderitaan para korban asap kebakaran bisa menjadi pelajaran dan perbaikan bukan sekadar perang kepentingan para peraup keuntungan.



Sumber: Suara Pembaruan