4,4 Juta Ha Lahan Sawit Potensial untuk Integrasi Sapi Sawit

4,4 Juta Ha Lahan Sawit Potensial untuk Integrasi Sapi Sawit
Sapi Sawit ( Foto: istimewa / istimewa )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Kamis, 24 Oktober 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Untuk mendukung kemandirian penyediaan daging merah, Indonesia perlu menggenjot produktivitas sapi dalam negeri. Program pengembangan integrasi sapi sawit sangat potensial untuk dikembangkan di sekitar 4,4 juta hektare (ha) lahan sawit di Indonesia khususnya di Sumatera dan Kalimantan.

Selama lima tahun terakhir, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah menginisiasi pola integrasi sapi sawit. Dalam perjalanannya, BPPT mendapat dukungan trasfer teknologi dan pengalaman dari Australia yang sukses membudidayakan sapi.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, dalam program ini BPPT bekerja sama dengan Australia untuk riset kolaborasi integrasi sapi sawit.

"Ketersediaan daging sapi di dalam negeri masih kurang. Padahal kita punya 14 juta ha perkebunan sawit dan 4,4 juta ha di antaranya merupakan area potensial. Namun baru 132.000 ha yang dikelola dengan integrasi 66.000 sapi sawit," kata Hammam di sela-sela konferensi integrasi produksi sapi dan kelapa sawit, di Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Hammam menambahkan, potensi 4,4 juta ha lahan sawit ini merupakan peluang yang sangat besar bila digarap serius.
Melalui konferensi ini pun lanjutnya, Indonesia bisa menerima masukan dan pengalaman dari berbagai negara yang menerapkan integrasi sapi sawit seperti Malaysia dan Papua Nugini.

Saat ini, BPPT sudah melakukan inisiasi integrasi sapi sawit bersama peternak rakyat di Pelalawan, Riau, serta empat perkebunan kelapa sawit di sejumlah provinsi.

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT, Soni Solistia Wirawan menjelaskan, pengembangan sapi sawit ini masih menemui tantangan, salah satunya dari perusahaan yang takut sapi akan merusak tanaman sawitnya.

Soni memastikan kajian riset dilakukan agar sapi bisa produktif, dengan nutrisi pakan yang tepat kenaikan bobot sapi mencapai 0,8 kilogram per hari. Penerapan teknologi berbasis informasi teknologi juga akan memastikan sapi digembalakan dari jarak jauh.

"Pengusaha sawit maju mundur untuk implementasinya. Maka melalui konferensi ini kita akan buktikan jika integrasi sapi sawit dikelola dengan benar akan menguntungkan peternak," ungkapnya.

Saat ini Indonesia belum bisa mandiri memasok daging sapi dalam negeri. Tahun 2017 total konsumsi daging sapi Indonesia sekitar 720.225 ton dengan perhitungan jumlah penduduk 261,9 juta jiwa dan konsumsi daging sapi 2,75 kg per kapita per tahun.

Sementara itu, produksi daging sapi dalam negeri hanya sekitar 437.300 ton. Untuk menutup kebutuhan daging sapi harus impor sebesar 282.295 ton. Kemudian setidaknya Indonesia harus mengimpor sekitar 707.000 ekor sapi bakalan atau setara dengan produksi 141.463 ton daging sapi.

Dalam konferensi tersebut, BPPT juga meluncurkan inovasi berbasis teknologi di sektor pembiakan sapi. BPPT meluncurkan Si Pinter untuk pencatatan dan identifikasi ternak dengan perekaman dan GPS tracker yang berguna untuk memantau pergerakan sapi.

Bersama Australia, BPPT juga meluncurkan Calfin untuk mendukung investor dan pelaku usaha pembiakan sapi membuat keputusan investasi.

Selain itu ada pula Calpros bagi peternak kecil untuk memantau opersional dan produktivitas sapi. Sedangkan Calprof software untuk peternak skala besar untuk pemeliharaan dan pembiakan.



Sumber: Suara Pembaruan