Peltas Bantargebang Mulai Hasilkan Listrik

Peltas Bantargebang Mulai Hasilkan Listrik
Peltas milik Pemprov DKI bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ‎yang berada di Bantargebang, Kota Bekasi, telah diresmikan Maret 2019 lalu. Pemkot Bekasi ingin membangun Peltas serupa, yang lokasinya tak jauh dari Peltas milik Pemprov DKI ini. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Kamis, 24 Oktober 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pembangkit listrik tenaga sampah (Peltas) Bantargebang, Bekasi yang merupakan pilot plan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berhasil diuji coba. Peltas mampu menghasilkan listrik mencapai 731 kilowatt dari pembakaran sampah 2-2,5 ton per jam.

Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT, Rudi Nugroho mengatakan, listrik yang dihasilkan itu sudah dipakai untuk penerapan kawasan Peltas, pendingin ruangan, pompa, dan perangkat listrik lainnya.

"Jika kapasitas pembakaran bisa mencapai 100 ton per hari bisa menghasilkan listrik mencapai 1 megawatt," katanya di Jakarta, Rabu (23/10).

Peltas Bantargebang ini terbangun atas inisiasi BPPT yang kemudian mendapat dukungan tidak langsung dari Pemprov DKI Jakarta. Persoalan sampah kota memang perlu upaya penanganan dengan cepat dan tepat. Apalagi Jakarta menghasilkan sampah hampir 8.000 ton per hari.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, sesuai dengan Perpres No 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik, 12 kota didorong untuk membangun peltas. BPPT melakukan kaji terap teknologi peltas.
Dua belas kota itu adalah Jakarta, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, Bandung, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar, Palembang, dan Manado.

Selain pilot plan peltas di Bantargebang, kini BPPT juga akan membantu pembangunan peltas di empat lokasi di Jakarta.

"Tujuannya untuk memusnahkan sampah per harinya dengan cepat. Ke depan kita yakin akan membuat aplikasi yang lebih besar untuk musnahkan sampah dengan cepat dan hasilkan listrik," paparnya.

Sejumlah wilayah lanjutnya juga ada yang tertarik membangun Peltas, di antaranya adalah Cimahi dan Sidoarjo.

Peltas Bantargebang lanjut Rudi, bisa adaptif terhadap sampah perkotaan yang relatif basah. Pola penyimpanan dengan teknik pengeringan bisa membuat nilai kalori tinggi sehingga mudah dibakar.

Peltas menggunakan teknologi termal dan mampu memusnahkan sampah dalam waktu yang cepat dan signifikan. Teknologi termal ini terdiri dari insinerasi, gasifikasi, dan pirolisis. Dari teknologi itu, dipilihkan insinerasi menggunakan tungku jenis reciprocating grate. Teknologi ini sangat direkomendasikan untuk kegiatan waste to energy.



Sumber: Suara Pembaruan