Kantong Belanja Pati Singkong, Kuat dan Ramah Lingkungan

Kantong Belanja Pati Singkong, Kuat dan Ramah Lingkungan
Pekerja sedang mensortir botol, mengawasi cacahan botol di pusat daur ulang di Tangerang Selatan. Botol plastik PET bekas minuman bisa didaur ulang hingga 50 kali. ( Foto: istimewa )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Senin, 28 Oktober 2019 | 14:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Plastik keresek masih menjadi persoalan serius terhadap timbulan sampah plastik. Kebijakan pengurangan, pembatasan plastik keresek di ritel modern pun dilakukan didasari inisiasi sejumlah daerah. Namun ada pula yang bertransformasi dengan membuat plastik keresek berbahan biodegradable atau mudah terurai di alam. Salah satunya berasal dari pati singkong.

Kantong belanja yang ramah lingkungan ini terbukti kuat dan fashionable untuk dijadikan wadah berbelanja. Dari serangkaian tes pemanasan terhadap plastik singkong, plastik ini mudah larut atau terurai dengan air panas. Namun ketika disterika, plastik tidak meleleh dan masih bisa digunakan.

Ini berbeda dengan plastik konvensional yang jika diuji dengan air panas memang tahan karena tidak larut atau tidak terurai. Namun untuk uji dengan setrika panas, plastik keresek konvensional menempel di dasar setrika.

Perekayasa madya BPPT, Dody Andi Winarto mengatakan, Sentra Teknologi Polimer (STP) BPPT sudah melakukan riset plastik ramah lingkungan berbahan pati singkong sejak tahun 1995 sampai tahun 2002an.

Mantan Kepala STP BPPT ini menjelaskan, dalam kajian itu, tim STP mencampur secara fisika (blending) antara plastik polietilen (PE) dan polipropilen (PP) dengan pati singkong.

"Kami juga memodifikasi pati singkong melalui grafting atau mereaksikan plastik PP/PE dengan bahan kimia tertentu agar lebih menyatu dengan pati untuk memperbaiki sifat produk. Kami membuktikan bahwa PP/PE bisa tercampur baik dengan pati, dan memperlihatkan produknya terdegradasi dengan baik," katanya kepada SP di Jakarta, Minggu (27/10) malam.

Dody menambahkan, prototipe terakhir yang dibuat adalah mangkuk. Namun setelah itu kegiatannya dihentikan. Kalau di Indonesia, ada beberapa perusahaan yang mengembangkan plastik oxo degradable atau plastik yang terdegradasi melalui bantuan katalis, dengan bantuan sinar ultraviolet dari matahari atau dengan bantuan kondisi lingkungan seperti panas. Plastik jenis ini sempat booming karena biaya produksinya relatif tidak jauh berbeda dengan plastik konvensional.

Namun beberapa perusahaan daur ulang mengecam karena dianggap bisa mempengaruhi produk yang akan dihasilkan apabila tercampur dengan plastik konvensional yang menjadi bahan baku di perusahaan daur ulang saat ini.

Ada juga produk kantong plastik yang dibuat dari pati. Apabila dibuat dari pati saja, biaya produksinya masih relatif tinggi. Oleh karena itu masih dilakukan pencampuran dengan bahan plastik kovensional, seperti yang dilakukan oleh BPPT.

Produk yang disebutkan tadi masih menggunakan mesin produksi yang selama ini digunakan untuk membuat plastik keresek konvensional. Ini membuat biaya produksi masih mendekati produk yang menggunakan bahan plastik konvensional.

"Dalam pandangan saya, inovasi produk-produk ramah lingkungan, seperti oxo, plastik berbahan pati seperti enviplast dan ecoplast perlu terus digulirkan sebagai alternatif pengganti produk konvensional," paparnya.

Salah satu pusat perbelanjaan terkemuka di Indonesia, Matahari Departement Store juga telah melakukan upaya bisnis yang ramah lingkungan dengan memakai kantong belanja berbahan pati singkong.

Dody menilai, penggunaan plastik dari bahan singkong oleh Matahari merupakan inovasi dari industri plastik dalam negeri dalam upaya pengurangan sampah plastik. Memang permintaannya masih sangat kecil dibandingkan plastik konvensional, namun membuka kesadaran masyarakat agar peduli terhadap masalah lingkungan.

Di luar kontroversi uji degradasi seperti mikroba, sinar UV, kompos, dan lainnya inovasi penggunaan kantong belanja berbahan pati singkong ini menarik dan perlu diapresiasi. Apalagi jika dapat diserap atau diaplikasikan dengan biaya produksi yang relatif sama dengan produk berbahan plastik konvensional.

Menurutnya, tanpa menggunakan plastik konvensional, produk tersebut dapat larut di air sesuai desain di suhu tertentu. Penggunaan pati singkong tentu masih menimbulkan pertanyaan awam, apakah akan berkompetisi dalam penggunaan pati sebagai bahan makanan.

"Semoga dari inovasi ini, lahir inovasi yang lebih efisien dan produk yang memenuhi kebutuhan masyarakat namun tetap ramah lingkungan dalam arti mudah terdegradasi dalam lingkungan tertentu," imbuhnya.

Sementara itu, dalam upaya mengurangi sampah, Dody menekankan pentingnya manajemen sampah, terutama plastik, dalam kaitan mengurangi dampak lingkungan di masa mendatang. Pemilahan sampah sangat dibutuhkan agar tidak hanya sekadar kumpul, angkut, dan buang.

Pemerintah maupun industri juga perlu mensosialisasikan pemilahan ini, sehingga masyarakat mudah memilahnya. Untuk kemudian diproses lebih lanjut sesuai bahan material tersebut.

"Walaupun masa mendatang menggunakan material yang ramah lingkungan, pemilahan harus tetap dilakukan," ujarnya.

Sekali Pakai
Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Novrizal Tahar menyebut, pada prinsipnya KLHK mendorong upaya terhadap pengurangan sampah, khususnya plastik sekali pakai (single use plastic bag). Berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah, khususnya mendorong pembatasan timbulan sampah yang berasal dari plastik sekali pakai, perlengkapan makan, sedotan plastik, serta styrofoam.

"Upaya-upaya ini dilakukan melalui perubahan perilaku oleh konsumen, peran, dan tanggung jawab produsen sendiri, serta regulasi-regulasi oleh pemerintah dan pemerintah daerah," ucapnya.

Berdasarkan data dari Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), penggunaan kantong plastik mencapai sekitar 300 lembar per hari per gerai/toko. Jumlah gerai seluruh Indonesia mencapai 90.000 yang artinya menghasilkan 9,85 miliar lembar kantong plastik per tahun. Sampah plastik bersifat bahan berbahaya dan beracun (B3) di dalam tanah dan sangat sulit terurai oleh bakteri (mikroorganisme).

Menurut pakar sampah dari Jerman, Benjamin Bongardt, plastik baru bisa terurai setelah berada di dalam tanah kurang lebih 450 tahun. Sulitnya plastik terurai disebabkan material plastik terbuat dari minyak bumi yang memiliki ikatan antarmolekul sangat kuat, tidak mengandung gugus molekul yang disukai oleh bakteri, dan hidropobik (tidak suka air), sehingga bakteri sulit mengurai atau memakan molekul plastik. Apabila kondisi tersebut tidak diatasi maka permasalahan lingkungan akibat sampah plastik akan semakin besar.

Mengubah gaya hidup dengan melarang penggunaan plastik mungkin akan sangat sulit. Kebijakan plastik berbayar, apalagi dengan keharusan membayar sangat murah juga tidak akan banyak berpengaruh untuk mengendalikan penggunaan plastik.

Oleh karena itu, perlu solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut tanpa harus mengubah kebiasaan menggunakan kantong plastik, yaitu membuat produk plastik dengan bahan yang mudah diurai oleh bakteri, atau terurai oleh sinar matahari (yang dikenal dengan sebutan plastik ramah lingkungan).

Batan misalnya, memakai teknologi nuklir dapat menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi penggunaan plastik konvensional. Radiasi gamma dan berkas elektron dapat digunakan untuk membuat bahan baku pembuatan plastik (bijih plastik) dari bahan kopolimer yang mudah diurai oleh alam dalam waktu yang sangat singkat.

Proses penyinaran radiasi terhadap bahan plastik tidak akan mengakibatkan bahan yang disinari menjadi radioaktif sehingga aman bagi penggunanya. Beberapa keunggulan proses radiasi adalah prosesnya relatif sederhana, aman, bersih dan tidak menggunakan katalis kimia, dan ikatan antara molekul bahan yang diiradiasi terbentuk ikatan kimia, sehingga produknya relatif kuat dan dapat mempercepat produk plastik terurai oleh mikroba tanah hanya dalam waktu 2-6 bulan.

Sifat lainnya hampir sama dengan bahan plastik konvensional, yaitu mudah dibentuk, mudah diwarnai dan dapat digunakan bukan hanya dalam bentuk kantong plastik, tetapi juga dapat digunakan untuk pembuatan vas bunga, pot, produk hiasan, piring, gelas, dan lainnya.



Sumber: Suara Pembaruan