Akses Air dan Sanitasi Dukung Pembangunan Berkelanjutan

Akses Air dan Sanitasi Dukung Pembangunan Berkelanjutan
IWSH foundation melalui Cristopher Lindsay dan Dain Hansen memaparkan misi bantuan sosial mereka yang fokusnya dalam penyediaan akses air dan sanitasi yang baik serta kesehatan yang mana sejalan dengan tujuan SDG’s 2030, di acara Advancing Sustainable Construction Materials and Plumbing System for A Sustainable Future, di JIExpo Kemayoran, Jumat, 8 November 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Jumat, 8 November 2019 | 13:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Memasuki era kehidupan berkelanjutan, di setiap penjuru dunia sedang giat menggalakkan peningkatan kepedulian terhadap lingkungan serta kepedulian sosial. Beberapa hal seperti infrastruktur, industri, lingkungan, akses air dan sanitasi tertuang dalam dokumen kesepakatan Sustainable Development Goals (SDG’s) 2030.

Baca Juga: ISCOP Jembatani Stakeholder Industri Konstruksi

Dalam upaya menjembatani setiap sektor yang terkait, IAPMO Group Indonesia, Green Product Council Indonesia (GPCI), dan Asosiasi Plambing Nasional (APIN) membuat rangkaian event bertajuk Indonesia Sustainable Construction and Plumbing (ISCOP). Event bertemakan Advancing Sustainable Construction Materials and Plumbing System for A Sustainable Future ini, diselenggarakan pada 6-8 November 2019, di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat.

Senior Vice President sekaligus Kepala LPK (Lembaga Penilai Kesesuaian) IAPMO Group Indonesia, Shirley Dewi, menyampaikan, penggunaan produk konstruksi dan produk plambing yang memiliki SNI (Standar Nasional Indonesia) dan berlabel produk hijau akan melindungi pengguna dalam aspek keselamatan dan kesehatan.

"Serta, meningkatkan efisiensi dalam penggunaan energi, mereduksi limbah dan polusi terhadap lingkungan. Hal itu sejalan dengan visi pemerintah untuk mencapai target Sustainable Development Goals (SDG’s) 2030," ujar Shirley Dewi.

Baca Juga: Minat Investor Berinvestasi di Bendungan Minim

Pada hari kedua ISCOP 2019, Kamis (7/11/2019), ISCOP menghadirkan beberapa pihak terkait yang berkontribusi positif bagi bangsa Indonesia. Terbagi dalam dua sesi, pemateri berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Pekerjaan dan Perumahan Rakyat (Kempupera), Lixil, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), PT Wahana Duta Jaya Rucika, GPCI, IWSH (International Water and Sanitary Hygiene Foundation), PT Mowilex Indonesia, Green Building Council Indonesia (GBCI), Universitas Udayana, dan Universitas Syiah Kuala.

Dalam paparan dari pemerintah melalui kementerian terkait, memberikan gambaran kesigapan dalam membuat peraturan yang menyentuh aspek lingkungan berkaitan dengan manajemen industri maupun produk yang dihasilkan. Bentuk kepedulian pemerintah dalam aspek lingkungan diantaranya adalah persyaratan produk ramah lingkungan dalam beberapa pengadaan barang atau jasa.

Sementara itu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) memaparkan metode pemilihan terkait produk-produk yang ramah lingkungan. Produk ramah lingkungan yang beredar saat ini, dapat diketahui dengan mudah dari pelabelan pada kemasan produk tersebut, diantaranya adalah logo Green Label Indonesia yang merupakan produk dari GPCI.

"GPCI sebagai organisasi non-profit bekerja sama dengan IAPMO Group Indonesia yang fokus dalam membuat standar produk yang ramah lingkungan,” jelas Shirley.

Baca Juga: Kualitas Air Danau Toba Makin Buruk

Selain bekerja sama dengan GPCI, IAPMO Group Indonesia juga bekerja sama dengan IWSH dalam aspek bantuan sosial yang dimana mempunyai fokus dalam penyediaan akses air dan sanitasi yang baik serta kesehatan yang mana sejalan dengan tujuan SDG’s 2030. IWSH merupakan organisasi yang bergerak dalam memberikan bantuan kepada masyarakat dunia.

Perwakilan IWSH Foundation, Cristopher Lindsay, memaparkan, misi bantuan sosial IWSH berfokus dalam penyediaan akses air dan sanitasi yang baik serta kesehatan yang mana sejalan dengan tujuan SDG’s 2030.

"Pada 2017, IWSH mengadakan program Community Plumbing Challenge (CPC) di SDN 02 Cicau, Cikarang. Program CPC merupakan program tahunan dimana para plamber dari berbagai dunia turun tangan dalam membantu dan memberi jalan keluar terhadap suatu akses air serta peralatan sanitasi yang sesuai standar. Program CPC 2017 melibatkan plamber dari berbagai negara diantaranya adalah Indonesia, Amerika Serikat, Australia, Irlandia, India, dan Singapura,” kata Cristopher Lindsay.

Menurut Cristopher, pada program tersebut dilakukan renovasi serta penambahan toliet berikut dengan saluran air bersih dan pembuangannya. Program CPC juga menggandeng petugas kesehatan setempat untuk dapat mensosialisasikan pentingnya hidup bersih serta pengecekan kesehatan secara berkala. Program tersebut didukung oleh pemerintah daerah setempat, Badan Standarisasi Nasional (BSN), serta manufaktur plambing yang terjun langsung di lapangan.

"Rencananya pada 2019 ini, IWSH akan mengadakan program CPC di kampung nelayan Untia, Makassar, yang didukung pemerintah daerah setempat serta BSN. CPC ini juga mendukung peningkatan kunjungan wisatawan. Dari rangkaian tersebut diharapkan dapat berjalan dengan baik dan lancar serta dapat menjadi contoh proyek yang dapat diaplikasikan pada program maupun lokasi lainnya,” tandas Christopher.

 



Sumber: BeritaSatu.com