Pakar Nilai Larangan Botol Plastik Sebagai Kebijakan Keliru

Pakar Nilai Larangan Botol Plastik Sebagai Kebijakan Keliru
Diskusi publik Potensi Ekonomi dari Pengelolaan Sampah Plastik, yang dilaksanakan Komunitas Plastik Untuk Kebaikan (KPUK) di Jakarta, Selasa, 19 November 2019. ( Foto: istimewa )
Iman Rahman Cahyadi / CAH Selasa, 19 November 2019 | 20:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pakar Polimer Institut Teknologi Bandung, DR Ahmad Zainal Abidin, mengatakan bahwa melarang penggunaan minuman botol plastik itu merupakan kebijakan yang keliru. Alasannya hal itu justru bisa menghilangkan potensi ekonomi yang sangat besar, membunuh industri botol, membunuh industri daur ulang, menghilangkan lapangan kerja jutaan

orang, dan tidak membuat lingkungan semakin baik.

Hal ini dikatakan oleh Ahmad Zainal dalam diskusi publik Potensi Ekonomi dari Pengelolaan Sampah Plastik, yang dilaksanakan Komunitas Plastik Untuk Kebaikan (KPUK) di Jakarta hari ini, Selasa (19/11/2019).

“Manfaat ekonomi dari Botol PET mampu didaur ulang hingga 50 kali sehingga menghemat bahan baku produksi. Botol PET itu bisa diproses 100 persen menjadi produk berharga, sehingga tidak perlu ada pembatasan ataupun larangan penggunaannya,” kata Zainal, Selasa (19/11/2019).

Persoalan mengurai plastik itu tidak masalah, dengan bantuan teknologi, hanya butuh waktu kurang lebih satu detik untuk membuat plastik bisa terurai dan dimanfaatkan kembali. Jadi tidak ada masalah dengan Plastik, jelas Pakar Polimer dari ITB ini.

Pernyataan Ahmad Zainal Abidin ini juga didukung oleh Pris Poly Lengkong, Ketua Ikatan Pemulung Indonesia (IPI). “Saya heran mengapa pemerintah melarang botol plastik PET. Nilai jual dan nilai ekonomi dari plastik PET ini sangat tinggi, kenapa bukannya pemerintah justru meningkatkan potensi ekonomi dari plastik pet ini?,” ungkap Pris.

"Jangan bayangkan sampah plastik itu sekadar sampah. Pikirkan dampak Ekonomi dari pengelolaan sampah plastik ini. Anggota saya berjumlah 3,7 juta dari 25 provinsi. Bayangkan betapa banyak orang sudah tertolong kesejahteraan nya dari sampah botol plastik ini," tambah Pris.

Pemerintah Indonesia bertekad untuk mengurangi sampah plastik ke laut sebesar 70 persen pada 2025, maka pengelolaan sampah termasuk daur ulang sampah plastik menjadi solusi penting dalam mengurangi sampah plastik.

Salah satu pendekatan yang harus dikembangkan adalah pengelolaan berkelanjutan melalui pendekatan Circular Economy (ekonomi melingkar). Pengelolaan berkelanjutan ini membuat siklus pakai plastik tidak lagi berakhir di tempat pembuangan sampah dan dapat kembali dimanfaatkan baik dalam bentuk bahan daur ulang, lisrik, bahan bakar dan naphtha.

Pada intinya adalah bagaimana mengubah cara pandang terhadap plastik kemasan bekas pakai, tidak sebagai sampah, tapi sebagai sebuah barang yang berpotensi untuk dikembangkan.

Sayangnya, sejumlah pihak justru gencar mengkampanyekan gerakan mengurangi sampah plastik.

Tak hanya lembaga swadaya masyarakat, bahkan institusi pemerintah pun memberlakukan larangan penggunaan botol plastik sekali pakai di beberapa lingkungan kementerian. Penerapan pelarangan tersebut diatur baik dalam bentuk surat edaran maupun imbauan. Misalnya pelarangan penggunaan botol plastik sekali pakai dalam setiap rapat di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Keuangan dan Kementerian Perekonomian. Jajaran pegawai kementerian tersebut juga dihimbau membawa botol minum isi ulang.

“Ini merupakan pendekatan yang keliru,” kata Ahmad Zainal.

Salah satu jenis plastik yang aman dan dapat didaur ulang kembali adalah PET (Polyethylene Terephthalate) atau PET, jenis plastik yang sering digunakan sebagai wadah makanan. Jenis plastik atau PET dapat ditemukan pada hampir semua botol air mineral dan beberapa pembungkus. AMKP (Air Minum Kemasan PET) adalah minuman yang paling praktis dan terjaga kehigienisanya.Plastik ini dirancang untuk satu kali penggunaan saja. Jadi, jika digunakan berulang dapat meningkatkan resiko ikut terkonsumsinya bahan plastik dan bakteri yang berkembang pada bahan itu. Sehingga plastik jenis plastik PET disarankan hanya untuk satu kali penggunaan, dan kemudian dapat dapat didaur ulang.

Christine Halim dari Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) berharap pemerintah terus mendorong dan memberikan kemudahan kepada industri daur ulang di Indonesia melalui kebijakan kebijakan yang kondusif bagi industri daur ulang.



Sumber: BeritaSatu.com