Plastik akan Lebih Aman Jika Dibakar di Suhu Tinggi

Plastik akan Lebih Aman Jika Dibakar di Suhu Tinggi
Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di salah satu pabrik tahu yang menggunakan bahan bakar sampah plastik di Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (20/11/2019). Pabrik tahu di wilayah tersebut menggunakan sampah plastik sebagai bahan bakar karena harganya yang murah meski asap hasil pembakaran sampah plastik itu menghasilkan zat dioksin yang dapat meracuni manusia, tumbuhan dan binatang, serta mencemari udara. ( Foto: ANTARA/Zabur Karuru )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Sabtu, 23 November 2019 | 12:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Baru-baru ini ramai berita bahwa telur di salah satu wilayah di Jawa Timur diduga mengandung dioksin karena pembakaran sampah plastik impor. Ayam milik masyarakat yang berkeliaran bebas diduga memakan sisa sampah tersebut.

Pembakaran sampah plastik mengancam kesehatan manusia dan lingkungan. Sebab, hasil pembakaran sampah itu akan menghasilkan dioksin, senyawa kimia yang bisa berdampak buruk bagi manusia.

Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, Witta Kartika dalam ulasannya mengatakan, plastik harus dibakar di atas suhu 600 derajat celcius sehingga tidak menghasilkan dioksin. Pola pembakaran seperti ini harus dilakukan dengan alat khusus seperti pembangkit listrik tenaga sampah yang bisa membakar di atas suhu 700 derajat celcius.

"Jenis plastik tidak akan menghasilkan dioksin jika dibakar dalam suhu tinggi. Namun jika dibakar dalam suhu rendah, kemungkinan ada senyawa dioksin yang akan terbakar," ungkapnya di Jakarta, Jumat (22/11/2019).

Dioksin adalah polutan bersifat karsinogen yang sangat beracun dan sebenarnya banyak ditemukan di lingkungan sekitar. Dioksin ini juga bisa dihasilkan dari proses pembakaran yang tidak sempurna dari sampah komersial atau penggunaan bahan bakar.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut, impor sampah plastik di Indonesia menimbulkan permasalahan seperti yang terjadi di desa Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur. Masyarakat setempat membakar limbah plastik yang diimpor dari luar negeri kemudian menimbulkan asap dan abu sehingga berdampak pada kesehatan.

Witta menambahkan, dioksin merupakan senyawa kimia yang jika masuk ke dalam tubuh dapat menimbulkan efek yang buruk. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut dioksin memiliki potensi racun yang memengaruhi beberapa organ dan sistem tubuh.
Aktivitas manusia membakar sampah merupakan salah satu bentuk kontaminasi tambahan pada senyawa dioksin dan paparan dioksin dalam jumlah banyak dan menjadi sangat berbahaya.

Dioksin banyak ditemukan pada sampah rumah tangga dan industri yakni bahan plastik (PVC), pestisida, herbisida, pemutih kertas, dan alat medis sekali pakai.

Dioksin juga bisa dihasilkan secara alami melalui letusan gunung api dan kebakaran hutan. Tak hanya itu, dioksin juga dapat dihasilkan dari aktivitas manusia seperti kebiasaan membakar sampah, produksi serta penggunaan pestisida dan herbisida, daur ulang produk elektronik, dan juga merokok.

"Pembakaran plastik untuk bahan bakar yang tidak sempurna dapat menghasilkan dioksin," kata Witta .

Hal senada juga diungkapkan peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, Muhammad Ghozali, yang meneliti bioplastik atau plastik ramah lingkungan berbahan dasar limbah tandan kosong kelapa sawit.

Menurutnya, dioksin merupakan zat aditif yang terkandung dalam plastik. Dampak buruknya adalah, jika dioksin masuk ke dalam tubuh dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh.

"Oleh karena itu, manajemen pengelolaan sampah harus dijalankan dengan baik. Usahakan didaur ulang dulu apabila masih bisa," ucapnya.

Sementara itu, terkait penelitian bioplastik, ia memastikan bahwa plastik berbahan dasar alam itu tidak akan mengandung senyawa dioksin.

Ia pun berharap, ke depan lebih banyak kegiatan terkait sosialisasi efek negatif yang dapat timbul karena pembakaran sampah plastik. Pemilahan sampah plastik juga harus dijalankan dengan baik.

Dilarang
Aktivitas membakar sampah ini sesungguhnya sudah dilarang dalam pasal 29 UU No 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah. Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Novrizal Tahar mengungkapkan, dalam UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah secara eksplisit ditegaskan tidak diperkenankan untuk melakukan pembakaran sampah.

Namun sayangnya masih banyak masyarakat yang belum mengetahui larangan tersebut. Novrizal berpandangan, publik perlu terus disosialisasikan dan diedukasi melalui kampanye terkait pengelolaan sampah.

"Ini adalah persoalan fundamental yang harus dilakukan," ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, pemerintah mendorong semua pendekatan dalam pengelolaan sampah. Upaya tersebut dilakukan secara simultan dengan berbagai percepatan. Dimulai dari pendekatan minim sampah (less waste) yaitu dengan mendorong gerakan masyarakat untuk membatasi dan mencegah serta mengurangi timbulnya sampah.

Pembatasan ini khususnya untuk single use plastic bag atau kantong plastik sekali pakai, cutlery, sedotan plastik, serta styrofoam. Pendekatan pembatasan ini dilakukan semaksimal mungkin. Dalam jangka panjang, hal ini diharapkan menghasilkan perubahan perilaku, dan akan terjadi phase down terhadap item-item sampah tersebut di atas.

Berikutnya adalah circular economy. Terdapat dua hal baru yang dilakukan pemerintah, yaitu pencanangan gerakan nasional pilah sampah dari rumah (sumber), serta kebijakan peta jalan pengurangan sampah oleh produsen.

Selain itu kata Novrizal, dilakukan pendekatan pelayanan dan teknologi, semaksimal mungkin berbagai sumber daya yang didorong untuk meningkatkan kapasitas pemerintah dalam pengelolaan sampah, termasuk upaya pengelolaan sampah menjadi energi listrik (WtE) ataupun RDF (refuse derived fuel), dengan menjadikan sampah sebagai biomassa untuk bahan bakar.

Sementara itu, terkait sampah impor, ia menegaskan sudah sangat banyak langkah-langkah konkret yang dilakukan pemerintah. Bahkan arahannya langsung dari Presiden Joko Widodo pada rapat terbatas kabinet 27 Agustus 2019 yang lalu. Ketegasan itu mulai dari reekspor, revisi peraturan yang sangat ketat, hingga upaya penegakan hukum.



Sumber: Suara Pembaruan