Masuki Musim Hujan, Waspada Bencana Hidrometeorologi

Masuki Musim Hujan, Waspada Bencana Hidrometeorologi
Banjir menggenangi Kota Pasirpangaraian di Kabupaten Rokan Hulu, Riau, Selasa 26 November 2019. ( Foto: Handout )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Sabtu, 30 November 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat mewaspadai curah hujan di masa transisi atau pancaroba dan masa masuknya musim hujan di akhir November 2019. Meski baru 16% wilayah Indonesia yang sudah masuk musim hujan, peluang hujan singkat dan deras di masa peralihan perlu diwaspadai.

Apalagi ketika terjadi perubahan lingkungan potensi bencana banjir dan longsor bisa menjadi ancaman serius. Selain itu, waspadai pula terjadinya puting beliung.

Kepala Sub Bidang Analisis dan Informasi Iklim BMKG, Adi Ripaldi mengatakan, hingga pertengahan November 2019 baru 16% wilayah Indonesia yang telah memasuki musim hujan.

Sementara itu beberapa wilayah masih ada yang mengalami hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 200 hari atau sekitar tujuh bulan tanpa hujan. Wilayah yang mengalami HTH lebih dari 200 hari terjadi di beberapa kecamatan di Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

"Awal musim hujan 2019/2020 untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah akan didominasi mulai akhir November sampai dengan awal Desember," katanya di Jakarta, Jumat (29/11/2019).

Sedangkan untuk wilayah Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Papua, dan Kalimantan memasuki musim hujan pada awal sampai pertengahan Desember 2020.

"Puncak musim hujan tahun 2019/2020 untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur terjadi pada Februari 2020," papar Adi.

Sedangkan, puncak musim hujan untuk wilayah Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi, Papua dan Kalimantan pada Maret 2020.

Adi meminta masyarakat untuk mewaspadai wilayah yang berpotensi banjir selama periode musim hujan 2019/2020. Terlebih saat saat puncak musim hujan Januari, Februari, hingga Maret 2020 khususnya di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Papua.

Sementara itu, untuk dasarian (10 harian) III November 2019, kriteria curah hujan masih rendah yakni 0-50 milimeter per dasarian. Sedangkan, curah hujan tinggi lebih dari 150 milimeter per dasarian terjadi di Sumatera bagian tengah, Kalimantan Tengah bagian pesisir barat, dan sebagian kecil Pulau Flores.

Selanjutnya, sifat hujan pada dasarian III November 2019 adalah bawah normal. Hanya wilayah Sumatera Barat bagian tengah, Riau bagian tengah, pesisir barat Kalimantan Barat, dan Pulau Flores bagian tengah yang curah hujannya berada di atas normal. Curah hujan di atas normal di Sumatera Barat inilah yang kemudian menyebabkan banjir dan longsor di Solok.

Lingkungan
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo, menyebut sejak Januari-29 November 2019 telah terjadi 3.383 kejadian bencana yang didominasi bencana hidrometeorologi seperti puting beliung, banjir dan longsor.

"Bencana hidrometeorologi banyak terjadi di Jawa, indikasinya karena terjadinya kerusakan lingkungan," kata Agus.
Bencana banjir paling banyak terjadi di Gresik, Garut, Bogor, Pati, Cirebon dan Mojokerto. Sementara itu dari 3.383 total kejadian bencana sebanyak 1.127 adalah bencana puting beliung. Kejadian tersebut paling banyak terjadi Bogor, Cilacap, Jepara, Semarang, Sukabumi, dan Magelang.

Menurut data BNPB, pada tahun 2018 lalu angka korban meninggal dunia bahkan mencapai lebih dari 4.800 jiwa, sedangkan angka kerugian hingga Rp 3 triliun.

Sejumlah gempa merusak dan tsunami terjadi di tahun 2018 seperti gempa Lombok, gempa, tsunami dan likuifaksi di Palu serta di akhir tahun tsunami di Banten.



Sumber: Suara Pembaruan