BPPT Formulasikan Penghitungan Potensi Kerugian Karhutla

BPPT Formulasikan Penghitungan Potensi Kerugian Karhutla
Pelaksana tugas Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah dan Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto (tengah) menjelaskan teknologi BPPT untuk perkuat pencegahan karhutla, di Jakarta, Selasa (10/12/2019). (Foto: Beritasatu.com / Ari Supriyanti Rikin)
Ari Supriyanti Rikin / FER Selasa, 10 Desember 2019 | 23:11 WIB

Tangerang Selatan, Beritasatu.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyusun formula penghitungan potensi kerugian jika kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) melanda lahan gambut.

BPPT Gandeng Bukalapak Pasarkan Produk Startup

Saat ini penghitungan potensi kerugian baru dilakukan BPPT di Riau akibat karhutla di tahun 2019. Dari penghitungan yang melibatkan komponen ketebalan gambut, penerbangan, pariwisata, pendidikan dan kesehatan diperkirakan potential lost mencapai Rp 49 triliun.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah dan Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT, Tri Handoko Seto, mengatakan, dengan mengetahui potensi kerugian karhutla maka bisa menjadi bahan kebijakan untuk memperkuat pencegahan karhutla.

"Saat ini valuasi ekonomi lahan gambut memang baru dilakukan di Riau. Ke depan tentu akan diperluas di lahan gambut di seluruh Indonesia," katanya dalam Bedah Produk Inovasi Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam di Tangerang Selatan, Selasa (10/12/2019).

Menko Polhukam Klaim Penanganan Karhutla Lebih Baik

Selain bagi pemerintah, dengan formula perhitungan potensi kerugian itu pihak swasta atau pemilik lahan juga bisa tahu sehingga mau terlibat aktif dalam pencegahan karhutla.

Bahkan, bagi swasta dengan memakai formula penghitungan potensi kerugian rancangan BPPT ini bisa membuktikan praktik tanamnya misalnya tidak menghasilkan emisi dan karbon. Tahun 2020 berdasarkan rapat koordinasi para menteri terkait lanjutnya, fokus pencegahan karhutla diutamakan.

Selain itu, untuk memperkuat pencegahan karhutla BPPT juga telah menghasilkan prototipe teknologi Indonesia fire danger rating system (Ina FDRS). Empat unit Ina FDRS sudah dipasang Ogan Komering Ilir berkolaborasi dengan sejumlah instansi seperti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

"Teknologi ini untuk menjaga lahan gambut basah. Saat terpantau terjadi penurunan segera dibasahi," ucapnya.

Untuk itu sekat kanal akan diperbanyak, lahan dekat sungai akan dilengkapi pompa raksasa. Sedangkan daerah yang jauh dari sumber air dilakukan teknologi modifikasi cuaca untuk membasahi lahan gambut.

Dalam perjalanan pengembangan Ina FDRS juga akan dilengkapi parameter yang bisa mengetahui potensi kerugian jika terjadi karhutla di suatu wilayah.

Tak hanya itu lanjut Seto, BPPT di tahun 2020 juga akan memadukan dan menyempurnakan semua sistem yang ada saat ini menjadi kecerdasan buatan (artificial intellegence) untuk monitoring, kontrol dan deteksi dini karhutla.

"Dengan begitu potensi kebakaran, kerugiannya berapa sudah bisa diketahui," imbuh Seto.



Sumber: Suara Pembaruan