UNFCCC COP 25 Madrid

Paviliun Indonesia Sukses Jalankan Soft Diplomacy Perubahan Iklim

Paviliun Indonesia Sukses Jalankan Soft Diplomacy Perubahan Iklim
Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong bersama sejumlah delegasi dari negara lain memainkan angklung saat penutupan Paviliun Indonesia pada Konferensi Pengendalian Perubahan Iklim di Madrid, Spanyol, Kamis, 12 Desember 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Sabtu, 14 Desember 2019 | 07:46 WIB

Madrid, Beritasatu.com - Paviliun Indonesia yang digelar seiring penyelenggaraan Konferensi Perubahan Iklim UNFCCC COP 25 di Madrid, Spanyol, telah menjalankan misi soft diplomacy untuk mendukung tim perunding Indonesia di KTT Perubahan Iklim COP 25. Sejak dibuka pada 4-12 Desember 2019, Paviliun Indonesia telah menggelar 43 sesi diskusi panel dengan 207 narasumber yang merupakan aktor langsung di tingkat tapak.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong mengatakan, Paviliun Indonesia bisa memberi informasi mendalam bagi delegasi negara lain tentang apa yang dilakukan dan dicapai Indonesia dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dari berbagai aspek, misalnya tentang pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Alue mengungkapkan, banyak negara, seperti Brasil, Kanada, Bolivia, Amerika Serikat, dan Australia menghadapi tantangan besar soal karhutla. Hal yang sama juga dihadapi Indonesia. Untuk menghadapi tantangan tersebut, Indonesia telah melakukan kajian terhadap karhutla yang terjadi pada 2019 dan mengambil aksi koreksi di lapangan.

"Berdasarkan kajian atas apa yang terjadi di tingkat global, karhutla yang terjadi di berbagai negara karena adanya situasi abnormal, dan wilayah Asia Tenggara mengalami situasi yang paling buruk," ujar Alue saat menutup penyelenggaraan Paviliun Indonesia, Kamis (12/12/2019) waktu setempat.

Lebih lanjut Alue menjelaskan, meski Asia Tenggara menghadapi situasi abnormal terburuk, tetapi karhutla yang terjadi di Indonesia berhasil dikendalikan. Terbukti, kejadian karhutla sepanjang 2019 masih lebih rendah dibandingkan kejadian pada 2015.

"Meski demikian, kita semakin memahami bahwa dampak karhutla pada masyarakat dan alam butuh respons yang lebih cepat. Kita juga butuh sistem mobilisasi sumber daya yang dimiliki pemerintah, pelaku usaha, dan organisasi masyarakat untuk aksi pengendalian karhutla dan memitigasi dampaknya," ucap Alue.

Menurutnya, teknologi yang berkembang dan mudah diakses saat ini sudah mendukung hal itu. Satelit NOAA dan ESA bisa menyediakan teknologi pemantauan dan layanan informasi serta analisis yang mendukung manajemen pencegahan dan pemadaman karhutla, sehingga respons cepat dan akurat bisa dilakukan di lapangan.

"Indonesia sudah memanfaatkan teknologi yang termutakhir untuk manajemen karhutla," tuturr Alue.

Sementara itu, Ketua Penyelenggara Paviliun Indonesia Agus Justianto menjelaskan, selain tentang manajemen pengendalian karhutla, diskusi panel yang diselenggarakan menyajikan berbagai aspek, mulai dari pegunungan hingga lautan, dari Timur ke Barat, apapun gender dan berapapun usianya, semua tentang aksi yang dilakukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) demi menjaga kenaikan temperatur tidak lebih dari 2 derajat celcius.

"Lebih dari 3.000 orang delegasi hadir mengikuti sesi panel yang digelar Paviliun Indonesia," ujar Agus.

Selain aktor di tingkat tapak, paparnya, Paviliun Indonesia juga menghadirkan tokoh pengendalian perubahan iklim global, seperti Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore, ekonom perubahan iklim Lord Nicholas Stern, dan Utusan Khusus Sekjen PBB untuk SDG era Kofi Annan dan Ban Kim-moon sekaligus pakar pengentasan kemiskinan Prof Jeffrey Sachs.

Topik yang dipresentasikan di Paviliun Indonesia adalah aksi nyata untuk pengendalian perubahan iklim, mulai dari dukungan politis, litbang, manajemen gambut, pendanaan dan pengelolaan sampah, termasuk sampah plastik.

Topik lain yang diangkat adalah kekuatan kelompok umat beragama, kemitraan, kontribusi pelaku usaha, konservasi hutan dan keanekaragaman hayati, serta energi terbarukan. "Sesi yang menghadirkan aktor dari generasi muda dan wanita juga digelar untuk mempresentasikan bahwa aksi pengendalian perubahan iklim di Indonesia melibatkan semua aktor di tingkat tapak. Ini selaras dengan kampanye 'no one left behind'," kata Agus.



Sumber: Suara Pembaruan