Memanfaatkan Dana Desa untuk Perubahan Iklim

Memanfaatkan Dana Desa untuk Perubahan Iklim
Calon gubernur Jawa Barat, Tb Hasanuddin (Kang Hasan) berfoto bersama warga saat bersilaturahmi dengan masyarakat Desa Lemahabang, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin, 28 Mei 2018. Pada kesempatan itu, Kang Hasan menyatakan akan membantu warga dalam mengelola dana desa. ( Foto: Istimewa / Asni Ovier )
Winda Ayu Larasati / WIN Minggu, 22 Desember 2019 | 13:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sejak tahun 2015, dana desa disalurkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Dana desa meningkat dari Rp122 juta di tahun 2015 menjadi Rp1,5 miliar di tahun 2019 untuk setiap desa. Namun, sebagian besar desa menggunakan dana itu untuk membangun infrastruktur, sarana kesehatan, dan fasilitas penunjang pendidikan.

Dari survei The Conversation Indonesia, dari 38 desa di Sulawesi Tenggara, 30 desa di antaranya menggunakan dana tersebut untuk proyek infrastruktur di tahun 2017. Alasannya, masyarakat tidak paham dengan perubahan iklim. Masyarakat yakin membangun jembatan lebih menguntungkan secara ekonomi daripada menyelamatkan lingkungan. Padahal masyarakat juga bisa mendapatkan keuntungan dari proyek pro lingkungan.

Pemerintah melalui Peraturan Menteri (Permen) menyediakan dana dari dana desa untuk aksi iklim yang diharapkan bisa mempercepat program menurunkan emisi gas rumah kaca.

Sebelumnya, pemerintah berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen atau setara 832.01 juta ton CO2 sejak 2015 hingga 2030. Untuk mencapai program ini, pemerintah membutuhkan uang, dukungan dan partisipasi publik. Salah satunya pemberian insentif dana desa ke desa-desa di Indonesia.

Desa Bulunganyar di Pasuruan, Jawa Timur berhasil mengurangi pengeluaran rumah tangga melalui program perlindungan lingkungan. Pemerintah Desa Bulunganyar memanfaatkan dana desa untuk membangun sarana instalasi biogas yang akan menghasilkan gas yang digunakan untuk memasak. Satu instalasi biogas seharga Rp22 juta dapat menyalurkan gas ke lima rumah di desa itu.

Adanya instalasi biogas, masyarakat pun tak perlu membeli tabung gas untuk memasak. Mereka hanya perlu membayar perawatan sebesar Rp7.500. Polusi sungai karena kotoran hewan yang biasa dibuang ke sana pun sekarang menjadi sumber biogas. Inovatif dan inspiratif.

Sudah sepantasnya pemerintah menyiapkan anggaran untuk menyediakan bantuan teknis lapangan ke setiap desa, agar hal tersebut dapat dirasakan di desa lainnya atau masyarakat menemukan inovasi baru untuk solusi perubahan iklim.



Sumber: The Conversation