Curah Hujan Tinggi, Kualitas Udara Jakarta Membaik

Curah Hujan Tinggi, Kualitas Udara Jakarta Membaik
Alat pengukur kualitas udara. ( Foto: BeritaSatu Photo / Mohammad defrizal )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Kamis, 9 Januari 2020 | 12:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sepekan terakhir saat musim hujan mulai intens terjadi, kualitas udara di wilayah Jakarta dan sekitarnya membaik. Partikel polutan di udara seolah "tercuci" oleh hujan yang turun.

Kepala Sub Bidang Informasi Pencemaran Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Suradi menyebut, curah hujan menjadi pembasuh polutan sehingga terendapkan ke permukaan ( rain wash).

Dari data pengamatan konsentrasi partikulat meter (PM) PM10 atau partikel polutan yang berukuran diameter 10 mikrometer yang melayang-layang di udara mulai akhir tahun 2019, terlihat bahwa selalu bernilai di bawah nilai ambang batas yang diperkenankan, yakni 150 mikrogram per meter kubik. Artinya, udara dalam kondisi aman dihirup manusia.

"Dari grafik terlihat bahwa pada tanggal 1 Januari 2020 di saat curah hujan di Kemayoran terukur mencapai 145 mm/hari, nilai konsentrasi PM10 berada di bawah 40 mikrogram per meter kubik, dalam kategori baik," katanya kepada SP di Jakarta, Rabu (8/1/2020).

BMKG melakukan pengamatan di sejumlah lokasi di antaranya Kemayoran dan Bogor. Suradi menambahkan, dari data real time Rabu (8/1), terpantau konsentrasi PM10 per jam di Kemayoran hingga sore hari bernilai 41 mikrogram per meter kubik atau dalam kondisi baik.

Ia menjelaskan, PM10 adalah partikel polutan yang ukurannya seperlima diameter rambut manusia. Sementara PM2.5 setara seperduapuluh diameter rambut manusia. Artinya, partikel PM2,5 lebih kecil dibanding PM10.

Dari pos pengamatan polusi udara BMKG di Kemayoran pada Rabu (8/1), konsentrasi partikel P10 di udara 41 mikrogram per meter kubik atau berada dalam kondisi baik.

Konsentrasi partikel udara 0-50 mikrogram per meter kubik kategori baik, 51-150 sedang, 151-350 tidak sehat, 351-420 sangat tidak sehat dan lebih dari 420 mikrogram per meter kubik berbahaya.

Secara umum lanjutnya, mulai akhir tahun 2019 konsentrasi PM10 selalu di bawah nilai ambang batas atau kategori baik dari nilai partikel maksimal yang diperkenankan 150 mikrogram per meter kubik.

"Artinya udara membaik dalam keadaan aman untuk manusia, seiring semakin tingginya curah hujan yang terjadi," ucapnya.

Begitu pula dari pos pengamatan Cibeureum untuk PM2,5 selama sepekan pertama Januari 2020 berada pada nilai di bawah 10 mikrogram per meter kubik atau kategori aman. Di Indonesia, ambang batas PM2,5 adalah 65 mikrogram per meter kubik.

Menanggapi hal itu, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Karliansyah mengungkapkan, Indonesia mengalami dua musim yakni musim barat dan musim timur.

"Musim timur dimulai bulan April sampai bulan September, sementara musim barat dimulai bulan Oktober sampai bulan Maret. Tipikal kualitas udara Indonesia pada musim timur menurun dibanding musim barat," paparnya kepada SP di Jakarta, Kamis (9/1/2020).

Menurutnya, musim timur udara kering sementara musim barat udara basah. Selain itu kualitas udara juga dipengaruhi oleh beberapa hal seperti meteorologi, morfologi alam serta daerah yang dilalui oleh udara tersebut.

"Hujan tentu bisa membantu tetapi asal udara juga sangat penting. Musim barat tipikal udaranya lebih bersih dibanding musim timur," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan