Dunia Darurat Iklim Akibat Emisi Karbon

Dunia Darurat Iklim Akibat Emisi Karbon
Suasana monumen Arek Lancor saat matahari berada di posisi paling atas, Pamekasan, Jawa Timur, Sabtu, 12 Oktober 2019. (Foto: Antara)
Nurjoni / AB Kamis, 9 Januari 2020 | 13:06 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres mengatakan dunia saat ini menghadapi situasi darurat iklim (climate emergency) yang ditandai dengan tingginya suhu permukaan bumi, pemanasan global, dan anomali cuaca. Karena itu, ia pun mendesak para pemimpin dunia agar serius menangani darurat iklim dengan menerapkan secara total sistem perekonomian dan model bisnis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Berkaca dari situasi itu, Gutteres mengingatkan para pemimpin dunia memiliki dua pilihan, yaitu tetap bertahan pada cara-cara lama yang membiarkan pemanasan global dan dampak perubahan iklim berlangsung kian parah, atau mulai meninggalkan seluruh kegiatan yang membahayakan keberlangsungan bumi.

"Pada akhir dasawarsa ini, kita akan dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, jalan untuk menyerah, di mana kita telah melakukan banyak aktivitas yang membahayakan kesehatan dan keamanan penduduk planet ini. Apakah kita ingin dikenang sebagai generasi yang mengubur kepalanya dalam pasir dan membiarkan planet ini terbakar? Pilihan lain adalah jalan menuju harapan. Jalan menuju cara hidup yang berkelanjutan," ujar Gutteres saat membuka Conference of Parties (COP) ke-25 di Madrid, Spanyol, baru-baru ini.

Ia menambahkan, cara hidup berkelanjutan itu salah satunya ditempuh dengan menjalankan misi "Bebas Karbon 2050" atau tidak ada lagi gas buang/emisi karbon yang dihasilkan penduduk dunia pada tiga dasawarsa mendatang.

"Hidup yang berkelanjutan salah satunya ditandai dengan bahan bakar fosil yang tetap berada di bawah tanah," tambah Gutteres.

Ia menerangkan tiga laporan Panel Antarapemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) terakhir telah mengonfirmasi bahwa manusia telah merusak tempat hidupnya. Di beberapa kawasan regional pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara masih terus dibangun. Pembangunan itu harus dihentikan atau upaya mengatasi perubahan iklim akan hancur.

Gutteres juga mengingatkan upaya membatasi peningkatan suhu bumi dengan Paris Agreement yang disepakati pada 2015 belum mampu mengubah keadaan meskipun target terpenuhi. Peningkatan suhu bumi diperkirakan akan mencapai 3,5 hingga 3,9 derajat celsius di akhir abad ini.

Paris Agreement, sebagai respons masyarakat dunia terhadap ancaman perubahan iklim diadopsi pada Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (United Nations Climate Change Conference/UNFCCC) atau dikenal juga dengan Conference of Parties (COP) ke-21 di Paris pada 30 November hingga 12 Desember 2015, yang kemudian diberlakukan pada November 2016.

Dalam Paris Agreement semua negara peserta COP ke-21 sepakat untuk bekerja menetapkan target nasional atau dikenal dengan dokumen nationally determined contribution (NDC) untuk berperan mengurangi emisi guna membatasi kenaikan suhu global hingga di bawah 2 derajat celsius dalam jangka panjang, atau idealnya 1,5 derajat celsius di atas tingkat era praindustri. Hingga April 2018, sebanyak 175 pihak sudah meratifikasi Paris Agreement dan 10 negara berkembang telah mengajukan rencana adaptasi mereka untuk merespons perubahan iklim.

Pemerintah Indonesia pun termasuk negara yang telah menyatakan komitmen untuk menurunkan emisi sebagaimana tertuang dalam dokumen NDC sebagai tindak lanjut Paris Agreement yang disahkan melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement To The United Nations Framework Convention On Climate Change (Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim).

Dalam dokumen NDC itu, Indonesia berkomitmen menurunkan emisi sebesar 29% dari praktik bussiness as usual (BAU) dengan upaya sendiri dan sampai dengan 41% dengan bantuan internasional dari tahun 2030. Dalam NDC disebutkan bahwa penurunan emisi di Indonesia berfokus pada lima sektor yang berkontribusi dalam upaya penurunan emisi GRK dari BAU 2030, yaitu sektor kehutanan sebesar 17%, energi 11%, pertanian 0,32%, industri 0,10%, dan limbah 0,38%.

Pengamat lingkungan Emmy Hafild mengatakan pemenuhan NDC masing-masing negara sekarang ini jadi masalah. “Kalau dikumpulkan NDC semua negara, maka kenaikan suhu bumi mencapai di atas 2 derajat celsius. NDC di seluruh dunia tidak bisa mencegah kenaikan suhu bumi di bawah 1,5 derajat celsius, tetapi lebih dari 2 derajat celsius,” ujar Emmy.

Emmy yang juga menghadiri Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (COP) ke-25 di Madrid, Spanyol, 2-13 Desember 2019, mengatakan, jika suhu bumi naik rata-rata sebesar 2 derajat celsius maka kondisi bumi bisa parah. “Apalagi kalau sampai di atas 3 derajat celsius maka akan terjadi katastrofe (bencana) bagi bumi. Menurut kajian, kenaikan suhu bumi 2 derajat celsius membuat Jakarta bakal tenggelam sampai Monas,” ujarnya.

Menurut Emmy, yang menjadi persoalan besar bagi Indonesia terkait pemanasan suhu bumi adalah masih terjadinya kebakaran hutan dan pemakaian energi fosil untuk transportasi. “Pada tahun 2045 penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 345 juta dan kebutuhan energi untuk transportasi tentunya akan makin banyak lagi,” katanya.

Karena itu, Emmy mendukung pemerintah yang sudah mendorong penggunaan kendaraan listrik untuk transportasi. Namun, masalahnya, sumber listrik untuk transportasi mayoritas masih berasal dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) atau batu bara.

“Negara kita juga eksportir batu bara yang digunakan untuk PLTU di negara lain. Kalau batu bara masih naik penggunaannya, maka tidak mungkin turunkan suhu bumi hingga 2 derajat celsius,” ujar Emmy.

Untuk mencegah kenaikan suhu bumi, Emmy menganjurkan untuk mengurangi deforestasi (penggundulan hutan), dan sebaiknya menanam lebih banyak pohon. Namun, hal yang juga penting adalah menjaga blue carbon (karbon biru) di laut yang mampu menyerap karbon dalam jumlah besar dan dapat membersihkan laut.

Karbon biru merupakan karbon yang diserap dan disimpan pada ekosistem pesisir dan laut, seperti ekosistem bakau, padang lamun, rawa payau, maupun fitoplankton . Seperti namanya, karbon ini berwarna biru.

Berpacu dengan Waktu
Umat manusia sedang berpacu dengan waktu untuk mengatasi masalah perubahan iklim. Kegagalan meningkatkan upaya mencegah perubahan iklim akan sama saja tindakan bunuh diri bagi planet bumi yang semakin panas karena emisi gas rumah kaca (GRK).

Laporan perubahan cuaca dan pemanasan global Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengungkap bahwa 2019 menjadi tahun terpanas dalam periode lima tahun terakhir. Laporan PBB tersebut menuliskan rata-rata suhu global pada 2015-2019 berada dalam jalur terpanas. Suhu bumi pada periode tersebut diperkirakan naik 1,1 derajat celsius di atas era praindustri (1850-1900) dan 0,2 derajat celsius lebih hangat sejak periode 2011-2015. Empat tahun terakhir ini merupakan suhu terpanas sejak pencatatan iklim dan cuaca dimulai pada 1850.

Sementara itu, World Meteorological Organization (WMO) dalam laporannya juga menyebutkan bahwa konsentrasi CO2 di atmosfer menembus rekor baru. Suhu dunia bisa naik lebih dari dua kali lipat dari batas pemanasan yang disepakati secara global jika tidak ada upaya serius yang dilakukan.

“Emisi gas rumah kaca di atmosfer menembus rekor baru pada 2018, melebihi peningkatan rata-rata tahunan dalam satu dekade sebelumnya dan meningkatkan kerusakan pola cuaca,” tulis WMO dalam laporan Greenhouse Gas Bulletin yang dirilis pada 25 November lalu atau sepekan menjelang pelaksanaan COP ke-25 di Madrid.

Menurut laporan tersebut, konsentrasi C02 melonjak dari 405,5 parts per million (ppm) pada 2017 menjadi 407,8 ppm pada 2018, atau meningkat rata-rata 2,06 ppm per tahun pada periode 2005-2015.

Sementara itu, laporan tahunan Program Lingkungan PBB (UNEP) menyatakan untuk memenuhi target ambang batas suhu paling aman yang ditetapkan di Paris Agreement sebesar 1,5 derajat celsius di atas level suhu masa praindustri dibutuhkan pengurangan emisi sebesar 7,6% per tahun selama periode 2020-2030. Adapun untuk membatasi kenaikan suhu agar tidak melebihi 2 derajat celsius, penurunan emisi yang harus dilakukan sebesar 2,7% per tahun.

Namun, kenyataannya emisi CO2 telah naik hingga rata-rata 1,5% per tahun selama satu dekade terakhir atau setara dengan 55,3 miliar ton CO2 atau gas rumah kaca pada 2018. 



Sumber: Antara, Investor Daily